Lubang Maut

Oleh: Cundoko Aprilianto

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Salah satu masalah yang terulang setiap kali musim hujan datang adalah bertebarannya jalanan dengan lubang di mana-mana, lubang yang mengancam keselamatan pemakai jalan.

Sudah banyak nyawa melayang setelah kendaraan mereka terperosok usai melindas lubang-lubang maut itu. Sampai dengan Rabu (23/1), jalan nasional yang rusak akibat banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur (Jabodetabekpunjur) mencapai 106 km alias 23% dari total jalan nasional di Jabodetabekpuncur, yaitu 453 km. Belum lagi jalanan di luar Pulau Jawa.

Intensitas hujan yang begitu tinggi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan kerusakan semakin parah dalam waktu yang singkat. Ketika kerusakan baru mencapai 47 km, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengestimasikan dana yang dibutuhkan untuk perbaikan darurat sebesar Rp 55 miliar, atau kira-kira Rp 1 miliar untuk perbaikan 1 km jalan. Meskipun kerusakan yang terjadi tergolong ringan, angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding anggaran pemeliharaan rutin jalan nasional yang jumlahnya Rp 30 – 50 juta/km/tahun.

Dana untuk perbaikan tanggap darurat tersebut diambil dari anggaran rutin Ditjen Bina Marga. Jika anggaran rutin sudah habis, Ditjen Bina Marga akan menggunakan dana cadangan yang tidak diblokir sebesar Rp 195 miliar. Kalau dana itu habis juga, Ditjen Bina Marga akan menggunakan dana cadangan yang diblokir sebesar Rp 109 miliar. Sumber dana terakhir tersebut adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Perbaikan jalan yang akan dilakukan tidak serta merta dapat direalisasikan meskipun dananya sudah siap dikucurkan. Kalau keadaan jalannya masih diguyur hujan atau masih basah, perbaikan tidak bisa dilakukan.

Tapi sejak Minggu (27/1), Kementerian PU mengaku sudah mulai memperbaiki sejumlah ruas jalan berlubang di Jakarta yang rusak akibat banjir. Perbaikan jalan-jalan nasional yang rusak akibat banjir dilakukan dengan penanganan yang sifatnya tanggap darurat.

Sebenarnya, jalanan rusak sudah bisa terdeteksi sebelum musim hujan datang. Kerusakan memang belum besar. Namun, seiring intensitas hujan yang tinggi dan beban yang berat, aspal menjadi terkelupas dan jalanan menjadi berlubang. Seandainya lubang-lubang itu diperbaiki sebelum musim hujan datang, nyawa yang melayang akibat lubang-lubang maut ini bisa diminimalkan. Belum lagi, biayanya tidak perlu menjadi membengkak sebegitu besar jika sudah diantisipasi sejak awal. Kebiasaan buruk yang sering dilakukan dalam segala macam pekerjaan adalah menunda-nunda. Tapi masalah menjadi lain jika akibat penundaaan itu, nyawa manusia melayang.

Yang juga perlu menjadi catatan adalah kualitas aspal. Sering kita lihat, jalanan yang baru saja diperbaiki sudah rusak hanya dalam hitungan minggu atau bulan. Lantas, ke mana larinya uang untuk membeli aspal yang bukan abal-abal itu?

BERITA TERKAIT

Defisit APBN dan Transaksi Berjalan

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Kebijakan industri atau kebijakan apapun yang berorientasi pada kebutuhan jangka panjang memerlukan…

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Darurat Karhutla

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya     Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)…

Defisit APBN dan Transaksi Berjalan

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Kebijakan industri atau kebijakan apapun yang berorientasi pada kebutuhan jangka panjang memerlukan…

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…