Cuaca Ekstrem Picu Inflasi Januari di Atas 1%

Cuaca Ekstrem Picu Inflasi Januari Lampaui 1%

NERACA

Jakarta - Cuaca ekstrem di sebagian wilayah Indonesia diperkirakan meningkatkan inflasi lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini tingkat inflasi awal tahun ini akan melampaui lebih dari 1%. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Daerah Tertinggal dan Logistik Kadin Indonesia Natsir Mansyur.

Menurut dia, melonjaknya inflasi di Januari tahun ini lebih disebabkan oleh kondisi cuaca atau musim penghujan yang menyebabkan banjir di sejumlah kawasan. Yang cukup terpengaruh dari kondisi tersebut adalah bahan pangan, sehingga mengalami kenaikan harga. "Pengaruh banjir ini besar sekali terhadap harga makanan karena makanan penunjang inflasi paling tinggi. Mungkin (inflasi Januari) bisa di atas 1%," katanya di sela-sela Rapat Kerja Pemerintah 2013, Senin (28/1).

Natsir menambahkan, untuk menjaga tekanan inflasi, Indonesia harus menerapkan kebijakan seperti yang diterapkan India. Negara itu mematok atau menetapkan harga kebutuhan pokok selama 1 tahun sehingga tidak ada gejolak kenaikan harga. "Kalau bisa seperti India, Indonesia bisa mengendalikan inflasi. Sekarang kan harganya bebas, begitu terjadi goncangan pasti inflasi lagi," jelasnya.

Dampak dari banjir di sejumlah wilayah di Jawa Barat beberapa waktu lalu, ujar Natsir, sudah ada beberapa pengusaha yang melaporkan kerugian. "Kerugian akibat banjir itu belum ada datanya, karena sulit dihitung. Tapi kalau dibilang rugi ya rugi," tandasnya

Inflasi Sesaat

Namun, Bank Indonesia (BI) memperkirakan secaramonth to monthinflasi yang ditimbulkan itu hanyalah inflasi sesaat. Secara terpisah, Asisten Gubernur BI Perry Waljiyo mengatakan, survei BI setiap pekannya mencatat cuaca ekstrem akibat hujan yang sangat deras sepanjang Januari ini akan mendongkrak inflasi Januari.

"Banjir yang melanda sejumlah besar ruas jalan misalnya akan memicu inflasi sekitar 0,9% atau hampir 1%," kata Perry. Namun, inflasi tersebut akan kembali turun pada Februari hingga Juni 2013.

Berdasarkan hasil pemantauan BI dalam beberapa tahun ini, inflasi Januari memang cenderung tinggi. Inflasi kembali turun pada Februari-Juni dan kembali naik pada Juli-Agustus.

Tinjauan kebijakan moneter BI memperkirakan inflasi 2013 akan berkisar 4,5% hingga 5,5%. Menurut Perry, inflasi keseluruhan akhir 2013 adalah 4,9%. Itu masih masuk dalam asumsi BI meskipun proyeksi tersebut lebih tinggi dari inflasi tahunan pada 2012 sebesar 4,30%. "Inflasi 4,9% di akhir tahun itu sudah termasuk di dalamnya inflasi karena faktor cuaca buruk, kenaikan tarif tenaga listrik (TTL), dan kenaikan upah buruh," katanya.

BERITA TERKAIT

Musim Kemarau - Bakal Pengaruhi Serapan Beras dan Berpotensi Picu Kenaikan Harga

NERACA Jakarta – Musim kemarau yang sudah berlangsung sejak bulan April 2019 diprediksi akan tetap berlangsung dalam waktu yang lama.…

Kebijakan Relaksasi Pajak Bisa Lesatkan Apartemen Kelas Atas dan Mewah

Kebijakan Relaksasi Pajak Bisa Lesatkan Apartemen Kelas Atas dan Mewah NERACA Jakarta - Kebijakan relaksasi pajak yang baru dikeluarkan oleh…

Keputusan Cepat Jokowi Kembangkan Potensi Sulut dari Atas Speedboat

Keputusan Cepat Jokowi Kembangkan Potensi Sulut dari Atas Speedboat NERACA Minahasa, Sulawesi Utara - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan kunjungan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

ANRI Terima Arsip Statis Presiden Soeharto

    NERACA   Jakarta - Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menerima tambahan khazanah arsip statis tentang Presiden kedua Soeharto…

Kantar Rilis 10 Iklan Ramadan 2019 Terbaik

      NERACA   Jakarta - Perusahaan data, dan konsultasi berskala global, Kantar Indonesia menggelar penghargaan ‘Most Loved’ Indonesian…

PPK Kemayoran Ingin Jadikan Gedung Eks Bandara Kemayoran Jadi Cagar Budaya

    NERACA   Jakarta - Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran mengusulkan agar gedung eks Bandara Kemayoran dijadikan sebagai cagar…