Ekspor Karet dan Garmen Bakal Loyo

NERACA

Jakarta - Kalangan pengamat ekonomi memprediksi, tahun ini Amerika Serikat masih kesulitan membebaskan diri dari krisis ekonomi. Meski parlemen negeri Paman Sam itu sepakat menaikkan pajak bagi orang kaya, pengeluaran publik masih dipotong. Akibatnya perlambatan ekonomi masih akan terjadi dan dampaknya mempengaruhi ekspor dari Indonesia.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti menyatakan, karet dan produk garmen seperti kain rajutan dan pakaian merupakan dua komoditas utama yang diekspor ke Amerika. Saat daya beli masyarakat AS masih lesu, permintaan dua komoditas itu diperkirakan masih rendah tahun ini. "Neraca perdagangan Indonesia akan tertekan, permintaan komoditas turun, termasuk permintaan karet dan garmen," ujarnya di Jakarta, Senin (28/1).

Komoditas karet Tanah Air saat ini mencapai 20% dari total ekspor ke Amerika. Sementara produk garmen mencapai 19%. Di sisi lain, pada 2013 pemangkasan pengeluaran pemerintah Amerika mencapai US$ 108 miliar. Hal ini disebabkan keputusan Partai Republik yang hanya ingin kenaikan pajak dikenakan pada orang berpenghasilan US$ 400.000.

Imbasnya pengangguran AS bisa naik 1,9%. Kondisi ini diyakini sebagai pangkal rendahnya indeks kepercayaan konsumen di Negeri Adi Daya itu. "Artinya dalam enam bulan ke depan, masyarakat Amerika tidak yakin masih punya pekerjaan, mereka lebih memilih menabung, sehingga pengeluaran belanja juga berkurang," kata Destry.

Sementara berkaca dari pengalaman selama satu dekade terakhir, perdagangan Indonesia masih surplus dari Amerika. Hanya saja, mayoritas adalah barang komoditas yang sangat dipengaruhi harga dunia. Karena itu jika kondisi Amerika melemah, nilai ekspor itu semakin melemah. "Kita kena hantaman harga komoditas, harga karet dan tambang bisa terpengaruh," paparnya.

Di sela-sela prediksi pesimis akan kondisi ekonomi AS, Destry mengakui masih ada keberuntungan lain. Amerika bukan menjadi negara utama tujuan ekspor Indonesia. Saat ini Negeri Paman Sam itu di posisi empat negara tujuan ekspor Tanah Air. "Sehingga ketika ekonomi Amerika turun 1%, ekonomi kita akan melemah 0,11% saja," tegasnya.

Ekspor Naik

Sementara itu, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memprediksi ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke Amerika Serikat pada 2013 naik tipis 4%. "Kita harapkan naik sekitar 4%. Kita ke Amerika sekarang ini sudah hampir US$5 miliar," kata Ketua Umum API, Ade Sudrajat di Jakarta, kemarin.

Optimisme ini didorong karena banyaknya pemegang merk AS yang mengekspor tekstil dan produk tekstil dari Indonesia. "Banyak sekali kepercayaan yang diberikan pemegang merk di Amerika kepada Indonesia," katanya.

Ade menambahkan selain Amerika Serikat, Indonesia masih akan mengandalkan Jepang sebagai destinasi utama ekspor tekstil tahun depan. Ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia ke Jepang naik 70 persen tahun lalu. Perjanjian perdagangan bebas dengan Jepang, kata Ade, terbukti mampu memberi dampak komplementari bagi industri domestik, bukan dampak yang merugikan.

"Tahun ini kami berharap kenaikan 70 % bisa diulangi lagi,karena implikasi dari kebutuhan Jepang yang terus meningkat," katanya. Tahun 2012, ekspor tekstil Indonesia ke Jepang mencapai hampir US$1,7 miliar, naik dari US$ 800 juta.

Dia juga berharap bisa menggarap pasar tekstil Eropa. Ekspor tekstil Indonesia ke Eropa tahun lalu mengalami penurunan, mencapai US$3 miliar. API berharap pemerintah segera berunding dengan Uni Eropa mengenai kemitraan ekonomi sehingga produk Indonesia bisa masuk ke pasar Eropa dengan bea masuk 0 persen. "Kalau sudah ada kesepakatan, mungkin bisa naik sampai dua kali lipat," katanya.

Ade mengatakan ekspor Indonesia juga bisa semakin meningkat jika bisa melakukan penetrasi ke pasar Cina. Saat ini ekspor ke Cina baru benang dan sudah naik 20 % tiap tahun. Ade berharap pada tahun mendatang, Indonesia bisa mengekspor kain bukan hanya benang demi mendongkrak nilai ekspor ke Cina.

Selain itu, dia mengingatkan pada 2013, serbuan impor akan semakin agresif. Pasar tekstil domestik akan digempur oleh produk impor dari Cina, India, Bangladesh, dan Vietnam. Menurut Ade, serbuan produk impor disebabkan karena harga produk dalam negeri lebih mahal dibandingkan harga produk impor. Diprediksi pangsa pasar produk domestik akan semakin turun tahun depan.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Dukung UMKM Tingkatkan Ekspor Lewat E-commerce

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) menyatakan dukungannya untuk peningkatan ekspor melalui e-Commerce. Menurut Menkominfo Rudiantara, peluang ini terbuka…

Harga Minyak Dunia Naik Karena Penurunan Ekspor Iran

NERACA Jakarta – Harga minyak dunia naik sekitar satu persen pada akhir perdagangan kemarin di tengah semakin banyaknya bukti penurunan…

Pameran Gaya Hidup Korea Bakal Digelar - Bidik Potensi Pasar Indonesia

NERACA Jakarta - Coex, perusahaan yang bergerak di bidang penyelengaraan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) akan menghadirkan pameran produk gaya…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

DPR Sebut Pasokan Kebutuhan Pokok Terjaga, Harga Stabil

NERACA Jakarta – Anggota DPR yang juga Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy mengatakan harga kebutuhan pokok selama beberapa…

Niaga Internasional - Sektor Perikanan Dapat Ambil Peluang Perang Dagang AS-China

NERACA Jakarta – Pengamat perikanan Abdul Halim mengharapkan Indonesia dapat mengambil peluang dari sektor perikanan menyusul terimbasnya sektor perikanan China…

Harga Minyak Dunia Naik Karena Penurunan Ekspor Iran

NERACA Jakarta – Harga minyak dunia naik sekitar satu persen pada akhir perdagangan kemarin di tengah semakin banyaknya bukti penurunan…