Pasokan Domestik Seret, PLN Siap Impor Gas - Gas dari Indonesia Paling Cepat 4-8 Tahun Lagi

NERACA

Jakarta - Lelah menanti aliran gas yang cukup dari dalam negeri, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bertekad akan mengimpor gas dari Kuwait, Iran, Qatar, Australia dan Papua Nugini. Untuk kebutuhan gas PLTG Muara Tawar di Bekasi, Perusahaan Gas Negara (PGN) hanya mampu memberi jatah 70 mmscfd dari kebutuhan gas sebesar 400 mmscfd.

”Saya baru saja dari Iran untuk menjajaki (impor) gas. Sekarang tinggal masalah waktu saja. Kalau ternyata harapan untuk mendapatkan gas dari dalam memang tidak tersedia juga, maka apa boleh buat,” ujar Dirur PT PLN, Dahlan Iskan di sela-sela acara rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR di Gedung DPR, Rabu (18/5).

Meski demikian, pasokan gas baru bisa dikapalkan dua tahun mendatang karena perlu proses gasifikasi. Pihak PLN berharap mampu memperoleh kapasitas gas sebesar 750 mmscfd. Sedangkan, sumber pasokan dari dalam negeri, menurut Direktur Energi Primer PLN Nur Pamudji, paling cepat diperoleh PLN pada 2015.

”Memang ada beberapa sumber gas dalam negeri, tapi sampai sekarang belum dialokasikan ke PLN. Misalnya Tangguh, Lapangan Abadi di Masela, Selat Makasar, tapi kita tahu jadwal hadirnya gas itu masih lama, paling cepat di 2015, itupun hanya dari lapangan Tangguh,” ungkap Pamudji. Lapangan Tangguh sendiri berada di Papua dan dikelola oleh perusahaan migas BP Indonesia, kepanjangan tangan raksasa minyak asal Inggris, BP.

Sementara, impor gas dari Iran didukung oleh kebijakan negara itu sendiri yang tengah meningkatkan roduksi liquid natural gas atau LNG besar-besaran. “Mereka bisa suplai, tapi harganya belum dibicarakan secara detail,” kata Dahlan. Dia memastikan, kelebihan Iran dari negara lain adalah harga yang fleksibel.

Terkait kebutuhan pembangunan pengangkutan dan pengolahan gas alam cair atau Floating Receiving Terminal, Dahlan kembali menegaskan bahwa kepastian adanya gas adalah syarat mutlak. "Soal pembangunan terminal itu gampang. Yang penting ada gasnya atau tidak. Kalau sudah dapat gasnya, kami minta Pertamina dan Perusahaan gas Negara (PGN) menambah, membuat baru ditempat yang sama. Atau meminta pihak lain untuk membangun, banyak yang berminat," katanya.

Selain itu, Dahlan menjamin transparansi sehingga soal impor dan harga gas ini bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Apalagi, penggunaan gas ini lebih murah dibandingkan memproduksi listrik dengan bahan bakar minyak solar.

Sementara, realisasi aliran gas dari domestik diperkirakan masih terlalu lama. Nur Pamudji mengatakan, gas dari Blok Tangguh train III paling cepat 2015, lapangan Gas Masela paling cepat 2019, dan blok selat Makassar bisa lebih dari 2018. “Ini memberikan ketidakpastian suplai gas,” kata dia.

Produksi Listrik

Dalam kesempatan itu, PLN juga mengakui produksi listrik yang dihasilkan sepanjang triwulan I tahun 2011, masih tipis di bawah target. Dari sasaran yang ditetapkan sebesar 43,9 TeraWatt (TWh) atau tercapai 43,17 TWhatau 98,14%.

Dari pencapaian target, hanya setrum dari pembangkit tenaga air dan pembelian dari swasta yang melampui target. PLTA menyumbang capaian sebesar 2,626 TWh atau 106,36% dari target 2,46 TWh. Sedangkan dari pembelian disalurkan 10,38 TWh atau 110,84% dari target semula sebesar 9,36 TWh.

Setelah itu, PLTU bertenaga batubara menyumbang 12,45 TWh atau 96,7% dari target. Kemudian disusul 9,65 TWh diproduksi melalui BBM (87,81% dari target 10,991 TWh), 7,159 TWh dari gas alam (95,11% dari target 7,52 TWh), sebanyak 898,5 GWh diproduksi PLTP panas bumi (sasaran tercapai 113,53% dari target 787 GWh), dan sebanyak 0,04 GWh diproduksi melalui tenaga matahari dan angin.

Pelanggan

Hingga tiga bulan pertama 2011, PLN mendapatkan tambahan 664.594 pelanggan. Ini berarti penambahan jumlah pelanggan mencapai 188,54% dari target. PLN mengklaim hal ini sebagai implikasi dari penambahan daya tersambung yang mencapai 1.623,41 MVA atau 164,43% dari sasaran.

Sebaliknya, realisasi penjualan tenaga listrik triwulan pertama 2011 kurang mencapai target karena hanya tercapai 37,39 TWh atau 97,73% dari sasaran. Jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 34,87 TWh maka tercatat peningkatan volume penjualan sebesar 7%.

Untuk kelompok tarif pelanggan rumah tangga, realisasi penjualan 15.248,77 GWh atau 99,07 % dari sasaran. Untuk kelompok tarif pelanggan bisnis, realisasi total penjualan 6.726,23 GWh atau 95,84 % dari sasaran. Realisasi penjualan listrik untuk kelompok tarif pelanggan lain 2.358,98 GWh atau 97,5 % dari sasaran. Sedangkan penjualan listrik kelompok tarif industri 13.063,96 GWh atau 97,22% dari sasaran.

PLN juga memilih menunggu kepastian dari pemerintah soal kenaikan tarif dasar listrik sebesar 15% yang rencananya berlaku tahun 2012. "Soal tarif dan marjin itu domain pemerintah dan DPR. PLN menunggu saja sambil terus konsentrasi memperbaiki kualitas pasokan dan pelayanan listrik ke masyarakat," tutur Dahlan. Selain kenaikan TDL, pemerintah juga bakal memangkas marjin PLN dari 8% menjadi 3% mulai tahun 2012.

Seperti diketahui, Menteri Keuangan Agus Martowardojo sebelumnya mengatakan, pemerintah akan menaikkan TDL 10-15% mulai 2012 dalam rangka menurunkan beban subsidi listrik yang terus membengkak. Tanpa menekan biaya, anggaran subsidi dalam Rancangan APBN 2012 akan mencapai di atas Rp 200 triliun. Sebaliknya, jika TDL naik maka pemerintah berharap bisa menghemat subsidi hingga Rp 15 triliun.

BERITA TERKAIT

Pertamina Menggandeng UNPAD, Produksi Hand Sanitizer

NERACA Bandung - PT Pertamina (Persero) mendukung berbagai pihak untuk memproduksi produk pencegahan penyebaran virus Covid-19. Salah satunya dengan Fakultas…

Mencegah Corona, Panen Tetap Harus Mengikuti Prosedur

NERACA Indramayu – Pandemi covid-19 tidak menjadi halangan bagi petani untuk panen. Di Desa  Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, para petani…

Covid-19 Tak Mempengaruhi Akses Pengiriman Logistik Perikanan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meminta akses pengiriman sarana produksi dan logistik di Bidang Kelautan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dampak COVID-19, Pinjaman Lunak untuk IKM Harus Didorong

NERACA Jakarta - Kebijakan untuk meminimalkan dampak COVID-19 kepada sektor Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) merupakan hal yang penting…

Hadapi Corona, Industri Butuh Dukungan Pemda

NERACA Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri tetap produktif selama masa tanggap darurat dampak pandemi yang disebabkan oleh virus korona baru.…

Kemenkop dan UKM Siapkan 8 Program Antisipasi Dampak COVID-19 bagi Pelaku KUMKM

Jakarta - Kementerian Koperasi dan UKM menyiapkan 8 program khusus sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak ekonomi wabah COVID-19 terhadap pelaku…