Nilai Rupiah Melemah, Utang LN Meningkat

NERACA

Jakarta – Nilai rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat utang luar negeri (LN) Indonesia kian rapuh dan membahayakan. Hal tersebut disampaikan pengamat ekonomi Deni Daruri kepada Neraca, Minggu (27/1).

Deni juga mempertanyakan keberadaan Bank Indonesia (BI) yang bertugas menjaga agar nilai rupiah tetap kuat. “BI ke mana saja? Suruh mundur saja kalau tidak bisa menjaga nilai rupiah,” tegas Deni.

Dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, maka utang LN Indonesia yang dalam bentuk dolar secara otomatis akan meningkat nilainya jika dirupiahkan. Untuk diketahui, total utang LN Indonesia per Agustus 2012 berdasarkan data yang dimiliki Bank Indonesia adalah sebesar US$ 241 miliar, terbagi atas utang LN pemerintah dan Bank Indonesia sebesar US$ 119 miliar dan utang LN swasta US$ 122 miliar.

Jumlah utang tersebut tidak semuanya dalam bentuk dolar AS, meskipun memang mayoritas. Paling tidak, sejak 6 tahun lalu utang LN Indonesia dalam bentuk dolar AS berjumlah lebih dari separuh jumlah total utang LN. Tercatat, prosentase utang LN dalam bentuk dolar AS terendah adalah pada 2010, yaitu 56%. Pada 2012, jumlah ULN Indonesia dalam bentuk dolar AS adalah sebesar 64,2%. Sementara itu, mata uang kedua terbanyak yang digunakan sebagai utang LN adalah yen Jepang, yaitu 15,9% dari total.

Rentan

Besarnya utang LN dalam bentuk dolar AS akan membahayakan karena sangat bergantung pada nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap mata uang tersebut. Pada awal 2012, US$ 1 setara dengan Rp 9.000. Namun pada akhir 2012, nilainya melemah menjadi Rp 9.600.

“Ini menandakan struktur utang pemerintah, terutama utang LN sangat rentan terhadap risiko yang diakibatkan krisis nilai tukar,” kata Koordinator Koalisi Anti Utang Dani Setiawan lewat pesan singkat kepadaNeraca.

Utang LN yang masih didominasi oleh mata uang asing, khususnya dolar AS, menyebabkan setiap pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada penambahan nilai cicilan pokok dan bunga utang. Akibatnya, defisit APBN akan bertambah. “Ini juga memberi isyarat bahwa defisit APBN memang terjadi karena besarnya beban pembayaran utang pemerintah,” jelas Dani.

Menurut Deni Daruri, seharusnya pemerintah jangan terus menerus menggantungkan diri pada utang LN. “Seharusnya pakai utang dalam negeri (DN) seperti sukuk,” kata Deni.

Dia menambahkan, BI seharusnya melakukan banyak hal untuk menjaga rupiah agar tetap kuat, atau setidaknya stabil. “Masih banyak cara untuk penguatan rupiah. Kontraksi tidak harus dengan intervensi, bisa dengan pengaturan bunga dan kebijakan makroprudensial,” kata Deni.

Dia juga mengkritisi BI karena karena dengan posisinya yang independen, seharusnya BI bisa lebih leluasa bergerak. “Independensi BI ini kurang dalam menjaga nilai rupiah. Seharusnya independensi itu bisa dimaksimalkan, misalnya dengan membuat perencanaan bersama pemerintah tentang utang-utang dolar yang jatuh tempo. Itu belum ada. Selama ini kan, tiba-tiba ada pembayaran baru. Tidak ada perencanaan bersama antara BI dengan pemerintah,” pungkas Deni.

BERITA TERKAIT

Menteri Perhubungan - Jaga Nilai Kebangsaan di Indonesia

Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan Jaga Nilai Kebangsaan di Indonesia Surabaya - Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi mengimbau seluruh…

Manajemen Utang

Seperti di berbagai kesempatan Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengklaim bahwa manajemen utang Indonesia sudah baik, sudah on the track, utang…

Mewaspadai Utang Luar Negeri BUMN

Oleh: Awalil Rizky, Pokja Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Defisit Transaksi Berjalan makin membesar dan menjadi sumber kerentanan sektor…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

MRT Dinilai Tak Pengaruhi Pasar Otomotif

    NERACA   Jakarta - Pasar otomotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda…

Harga Avtur Turun, Maskapai Diminta Turunkan Harga Tiket

    NERACA   Jakarta - Sejumlah kalangan meminta maskapai penerbangan nasional menurunkan harga tiket pesawat menyusul penurunan harga avtur.…

WIKA Jajaki Peluang Proyek Infrastruktur Di Papua Nugini

      NERACA   Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya (WIKA) menjajaki berbagai peluang proyek…