Impor Bahan Baku Plastik 2013 Bisa Capai US$5,5 miliar

NERACA

Jakarta - Kebutuhan bahan baku menjadi hal yang penting dalam jalannya roda industri. Sayangnya kebutuhan bahan baku khususnya bahan baku plastik masih belum bisa dipenuhi sepenuhnya, bahkan pada tahun ini nilainya meningkat hingga mencapai US$5 miliar. Hal ini, menurut Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik Indonesia (Inaplas) dikarenakan ketidakmampuan industri dalam negeri untuk memproduksi bahan baku.

"Untuk tahun ini, impor bahan baku plastik mencapai US$5,5 miliar, naik 7% dari realisasi 2012 sekitar US$5,1 miliar. Impor bahan baku tergantung pada PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu supplier bahan baku, sedangkan PT Polytama Propindo di Balongan belum beroperasi dan membuat polypropylene masih diimpor,” kata Ketua Umum Inaplas, Amir Sambodo, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, jika pihak Pertamina dapat memasok bahan baku untuk Polytama, mak hal itu bisa mengurangi ketergantungan impor sampai dengan US$600 juta. "Polytama Propindo sudah sejak setahun ini berhenti beroperasi. Selain itu, PT TransPacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban juga belum produksi," paparnya.

Apabila TPPI bisa beroperasi, lanjut Amir, maka industri dapat mengurangi ketergantungan impor sekitar 800.000 ribu ton senilai US$800 juta. "Saat ini impor bahan baku plastik masih berasal dari sejumlah negara seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan Timur Tengah," ujarnya. Pemerintah memproyeksikan industri plastik masih akan tergantung pada bahan baku impor hingga 2016. Pembangunan kilang minyak yang menjadi bahan baku utama petrokimia yang tidak kunjung terealisasi membuat industri masih akan tergantung produk impor.

Tergantung Harga Minyak

Harga bahan baku plastik memang sangat rentan dengan minyak pasalnya jika harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan maka harga bahan baku plastik juga mengalami kenaikan. Hal ini pernah terjadi pada tahun lalu dimana harga bahan baku plastik merangkak naik. Direktur Pengembangan Bisnis Federasi Pengemasan Indonesia Ariana Susanti menjelaskan harga bahan baku plastik (polyethylene) telah mengalami kenaikan sebesar 10%-15%, akibat merangkaknya harga minyak mentah dunia. "Harganya merambat naik 10%-15%. Ini yang kita keluhkan, harga minyak mentah naik dan berimbas pada kenaikan harga bahan baku plastik," katanya.

Menurutnya, keberlangsungan industri kemasan di Indonesia masih sangat tergantung pada bahan baku impor. Harga minyak mentah berjangka untuk kontrak pengiriman bulan Oktober pun telah mengalami kenaikan 17 sen dan ditutup pada posisi 95.53 dolar per barel. "40% bahan baku kita masih impor, dari banyak negara mulai dari Timur Tengah, dan Asia," katanya.

Meski demikian Ariana masih percaya dengan kinerja industri pengemasan di tanah air. Sampai bulan September 2012 tercatat kinerja industri pengemasan sebesar Rp 44 triliun, atau lebih besar dibandingkan pencapaian tahun lalu yang hanya Rp 42 triliun. "Saat ini Rp 44 triliun, tumbuh 7-8% dibandingkan tahun lalu. Minyak mentah naik itu kendala kita, minyak naik plastik naik juga," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan importasi bahan baku plastik yang lebih besar ini lantaran industri petrokimia sejauh ini memang tergantung impor bahan baku tersebut. Lantaran pertumbuhan di sektor hulu industri ini tidak bisa mengimbangi pertumbuhan di hilir. Saban tahun, industri petrokimia dalam negeri mengimpor produk tersebut senilai US$ 5,5 mililar.

Lebih lanjut dikatakan Panggah, pengembangan industri plastik nasional juga terkendala karena kurangnya kapasitas kilang yang menghasilkan bahan baku nafta dan kondensat untuk industri petrokimia hulu. Dia menuturkan bahan baku yang terbatas membuat Indonesia masih bergantung pada nafta dan kondensat impor. "Pada 2010, impor nafta mencapai 1,6 juta ton dan kondensat sebesar 33 juta barel," ujarnya.

Pemerintah terus mendorong pengembangan industri kilang minyak yang terintegrasi dengan industri petrokimia dalam rangka memperkuat struktur industri plastik dari hulu sampai hilir dengan memberikan insentif, seperti tax holiday, tax allowance, dan pembebasan bea masuk untuk barang modal. "Kami juga mendorong pengembangan sumber daya manusia sebagai upaya untuk menggenjot sektor industri ini," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Kontribusi Ekonomi Digital Bisa Mencapai 8,5% PDB

NERACA Jakarta-Presiden Jokowi optimistis kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini bisa mencapai 8,5%, lebih tinggi dibandingkan…

Pemerintah Perlu Atasi Alih Fungsi Capai Swasembada

  NERACA   Jakarta - Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai pemerintah perlu benar-benar mengatasi alih fungsi lahan guna…

Realisasi Kontrak Baru WIKA Capai 55,58%

NERACA Jakarta – Hingga akhir November kemarin, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sudah mengantongi nilai kontrak baru mencapai Rp 32,24…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…