Investor Belum Merasakan Dampak Signifikan - Kebijakan Jam Perdagangan Baru

NERACA

Jakarta – Sejak diterapkannya penambahan jam perdagangan saham awal tahun 2013, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai ada dampak yang berarti dengan tren peningkatan transaksi saham di pasar domestik dan dampak pada fitur baru atau sistem post trading yang diterapkan BEI dengan nilai transaksi dari pasar baru sebesar Rp350 miliar.

Namun ironisnya, kondisi ini tidak dirasakan pelaku pasar asal Surabaya, “Untuk transaksi masih belum banyak perubahan yang signifikan," kata Kepala BEI Surabaya, Nur Harjantie di Jakarta kemarin.

Dia menjelaskan, BEI sebetulnya sudah lama mengajukan konsep memajukan jam perdagangan saham, namun BEI masih khawatir jika dimajukan akan terlalu pagi. "Intinya kita sudah siap untuk itu," katanya.

Namun demikian, untuk memajukan jam perdagangan saham perlu diikuti dengan persetujuan dan peraturan dari regulator. Menurutnya, dimajukannya waktu pembukaan perdagangan bursa juga diikuti dengan diterapkannya pembentukan harga jelang penutupan perdagangan (pre closing) serta akumulasi transaksi investor setelah penutupan perdagangan (post trading).

Selaras Regional

Sebaliknya, analis ekuitas dari Samuel Sekuritas Adrianus Bias Prasuryo menegaskan, perubahan jam perdagangan saham menyelaraskan bursa lain di kawasan regional sehingga investor Indonesia tidak mengekor, “Informasi yang didapat para investor lebih cepat sehingga dapat mendekatkan waktu perdagangan bursa lainnya di regional,”ungkapnya.

Kata Adrianus, dengan jam perdagangan yang lebih cepat atau maju akan memberikan waktu lebih lama bagi pelaku pasar sehingga dapat meningkatkan jumlah nilai transaksi saham.

Sebelumnya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Samsul Hidayat mengatakan perubahan jam perdagangan Bursa itu juga dapat menambah aktivitas transaksi dan mendorong partisipasi lebih besar dalam perdagangan saham di wilayah Indonesia Timur.

Perubahan jam perdagangan itu, lanjut dia, juga untuk menyelaraskan atau mendekatkan waktu perdagangan dengan bursa lain di kawasan regional agar investor Indonesia tidak hanya menjadi "follower".

Sementara Direktur Utama BEI Ito Warsito pernah bilang, meningkatnya likuiditas saham-saham di pasar modal dalam negeri mendorong nilai rata-rata transaksi saham harian naik, “Kami melihat karena ada kenaikan likuiditas. Sebenarnya, kami tidak tahu apakah itu karena perdagangan lebih awal atau karena sentimen yang ada,”ujarnya.

Hanya saja ditahun ini, lanjut Ito, pihak BEI menargetkan nilai rata-rata transaksi saham harian mencapai Rp5,5 triliun atau meningkat sekitar 22,22% dibanding tahun lalu yang mencapai Rp4,5 triliun.

Asal tahu saja, dalam perubahan peraturan Nomor II-A itu disebutkan, sesi pra pembukaan (pre-opening) akan dilakukan mulai pukul 8.45-8.55 WIB di pasar reguler, kemudian sesi I dimulai pukul 9.00--12.00 WIB di pasar reguler, tunai dan negosiasi. Kemudian sesi II dimulai pukul 13.30--15.49 di pasar reguler.

Khusus di hari Jumat, perdagangan saham dimulai pukul 09.00 WIB hingga 11.30 WIB pada sesi I, dan pada seisi II dimulai pukul 14.00--15.49 di pasar reguler. Sedangkan sesi pra penutupan (pre-closing) pada pukul 15.50--16.00 WIB, dan sesi paska penutupan (post trading) pada pukul 16.05--16.15 WIB di pasar regular. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Tempo 48 Jam, Pemerintahan Jokowi Bangun Jembatan Sementara Padang-Bukit Tinggi

Tempo 48 Jam, Pemerintahan Jokowi Bangun Jembatan Sementara Padang-Bukit Tinggi NERACA Jakarta - Sejak adanya informasi jembatan roboh di jalur…

Berikan Payung Hukum Khusus - Pemerintah Kritik Unicorn Yang Belum IPO

NERACA Jakarta – Desakan pemerintah lewat Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto dan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara agar empat perusahaan starup…

Penjelasan Belum Memuaskan - BEI Bakal Kembali Panggil Manajemen SOCI

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali meminta manajemen PT Soechi Lines Tbk (SOCI) meminta penjelasan terkait dengan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…