Pertumbuhan Industri Farmasi Bisa Capai 12%

NERACA

Jakarta - Tingkat kesadaran masyarakat menggunakan obat menjadi penopang pertumbuhan industri farmasi pada tahun ini. Maka tak ayal International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) memproyeksikan pertumbuhan industri farmasi bisa meningkat mencapai 12%.

"Hingga akhir 2013, diproyeksikan pertumbuhan industri farmasi nasional akan menembus Rp16,9 triliun, naik 12% dari realisasi 2012 sebesar Rp15,1 triliun. Pertumbuhan permintaan produk farmasi pada tahun ini akan mendorong peningkatan kesadaran masyarakat mengenai konsumsi obat," kata Ketua IPMG, Luthfi Mardiansyah, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Dari pertumbuhan yang cukup signifikan, membuat beberapa perusahaan multinasional terus meningkatkan kapasitas produksi seperti PT Pfizer Indonesia yang berekspansi meningkatkan produksi obat generik.

Pfizer berekspansi meningkatkan kapasitas produksi obat generik sebesar 50% menjadi 300 juta tablet per tahun. Proses ekspansi ini ditargetkan selesai di kuartal pertama tahun ini. “Sejauh ini, proses ekspansi masih berjalan dan tetap sesuai dengan proyeksi. Untuk ekspansi, Pfizer menganggarkan dana sebesar US$3 juta dan memproduksi obat generik untuk pasar domestik seiring rencana pemberlakuan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pada 2014,” kata Direktur Pfizer, Widyaretna Buenastuti.

Impor Bahan Baku

Dikala pertumbuhan industri farmasi yang meningkat, akan tetapi tidak bagi bahan bakunya. Pasalnya hampir 95% bahan baku produk farmasi masih impor. "Bahan baku obat sangat penting dan menentukan hidup mati industri farmasi. Tetapi, Indonesia masih mengimpor 95% bahan baku obat, terutama dari China dan India," kata Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Farmasi sekaligus Ketua Indonesia Pharma Materials Management Club (PMMC), Kendrariadi.

Ketua Bidang Bahan Kemas PMMC Teddy Iman Soewahjo mengatakan, ada sebuah perusahaan yang memproduksi parasetamol. Namun, baru berjalan lima tahun, usaha itu terseok-seok. "Ada perusahaan yang memproduksi penisilin, tetapi hanya bertahan tujuh tahun, lalu berhenti," ujar Teddy yang enggan menyebut nama perusahaan itu.

Ia mengatakan, produksi parasetamol dan penisilin itu menggunakan produk kimia menengah (intermediate) impor yang diolah menjadi bahan baku obat. Tahapan produksi bahan baku obat dimulai dengan industri kimia dasar, industri kimia menengah, dan industri bahan baku obat. Dengan menggunakan produk kimia menengah, harga sulit bersaing dengan barang dari China dan India yang produksinya skala besar dan memiliki industri kimia dasar. Perusahaan farmasi pun memilih bahan baku yang harganya lebih ekonomis.

Komitmen pemerintah

Pembangunan industri bahan baku obat membutuhkan komitmen pemerintah. Kendrariardi mengatakan, di China, misalnya, pemerintah memberikan insentif pajak untuk produksi bahan baku obat. "Setelah industri terbangun, insentif pajak mulai dikurangi," ujarnya. Selain itu, riset dan teknologi juga harus dibangun.

Kendrariardi menambahkan, jika Indonesia bisa memproduksi bahan baku obat, termasuk bahan mentahnya, harga obat bisa lebih murah dan lebih terakses masyarakat. Bahan baku merupakan penyumbang besar harga obat, sekitar 25%.

Indonesia lebih dilirik sebagai target pasar bahan baku obat. Pertumbuhan pasar farmasi rata-rata 13,4% dengan pangsa pasar 37% di Asia Tenggara. Nilai pasar farmasi Indonesia diproyeksikan US$6,1 miliar tahun 2014. "Karena itu, kami mendekatkan industri dengan pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia," kata M Gandhi, Managing Director ASEAN Business United Business Media.

Sementara itu, Dirjen Bina kefarmasian dan alat kesehatan, Maura Linda Sitanggang berharap agar Indonesia bisa keluar dalam ketergantungan dengan oabt impor. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan menargetkan pada 2014 mendatang atau bertepatan dengan penyelenggaran badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS), Indonesia mencoba menekannya dan hanya mengimpor 92% bahan baku obat.

Pangsa pasar Indonesia yang cukup kecil menyebabkan produksi bahan baku obat di dalam negeri tidak efisien. Jika Indonesia memproduksi dalam negeri, memerlukan biaya yang cukup mahal. Harga bahan baku dalam negeri seribu kali lebih mahal dibandingkan mengimpor. Kendati bahan bakunya masih impor, Muara menyebut 90% kebutuhan obat nasional di Indonesia sudah bisa disediakan dari produsen lokal, dengan bahan baku terbanyak berasal dari Cina dan India. Sisanya 10% masih diimpor dari negara lain yang memiliki teknologi tinggi.

Sementara itu, Deputi Kemenko Perekonomian Eddy Putra Irawadi mengatakan, pemerintah dan pelaku usaha tengah merancang upaya menekan ketergantungan impor tersebut, mulai dari komponen bahan baku hingga teknologi yang digunakan. Pemerintah bertekad bisa memangkas hingga 20% dari total ketergantungan itu, dengan mendorong produksi bahan baku obat substitusi di dalam negeri. "Karena itu, investor juga membutuhkan fasilitas insentif dan kemudahan guna mendorong peluang membangun industri bahan baku obat di sini," imbuh Eddy.

Menurut dia, investor asal India saat ini sangat tetarik membangun pabrik bahan baku obat di Tanah Air di tengah krisis ekonomi yang melanda Eropa. Namun, mereka juga menanyakan sejumlah peluang insentif yang bisa didapatkan jika merealisasikan investasinya. “Tax holiday, tax allowance, ja-minan bea masuk (BM), fasilitas kawasan ekonomi, hingga jaminan investasi merupakan insentif-insentif yang menjadi perhatian calon investor," katanya.

Edy melanjutkan, beberapa komponen bahan baku obat dan teknologi farmasi sebenarnya sudah dibuat di Indonesia. Bahkan, Indonesia telah memiliki laboratorium yang mampu memproduksi penisilin, gelatin, kapsul, infus, dan bahan pendukung lainnya. "Tapi, kita tetap kejar investasi asing agar mau masuk ke sini, mulai dari kimia hingga industri bahan bakunya, termasuk ketersediaan teknologinya, sehingga ketergantungan terhadap impor berkurang," kata Eddy.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Industri Hijau Bisa Masuk Bagian Program Digitalisasi Ekonomi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus mendorong sektor industri manufaktur di Indonesia agar semakin meningkatkan kegiatan yang terkait…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…