Konsumsi Terigu Diperkirakan 5,43 Juta Ton di 2013

NERACA

Jakarta - Baru-baru ini, pemerintah menerapkan bea masuk khusus untuk produk tepung terigu asal Turki. Akibat dari penerapan tersebut, konsumsi tepung terigu nasional diperkirakan mencapai 5,43 juta ton. "Pada tahun ini, diperkirakan konsumsi terigu di 2013 mencapai 5,43 juta ton, naik 7% dari konsumsi tahun lalu yang menyentuh 5,08 juta ton,” kata Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo), Franciscus Welirang, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Pangsa pasar produsen terigu domestik, menurut Franciscus, mengalami peningkatan lantaran pemberlakuan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) terhadap terigu impor asal Turki sejak 5 Desember 2012. "Kementerian Keuangan menetapkan BMTPS sebesar 20% dari bea impor dikenakan dalam masa penyelidikan safeguard terhadap tepung terigu impor. BMPTS layak diberlakukan karena memang terjadi dumping terigu," paparnya.

Tak hanya karena penerapan safeguard untuk impor tepung terigu saja, lanjut dia, permintaan juga turut meningkat. Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan industri makanan yang menggunakan bahan baku terigu seperti biskuit yang cukup meningkat. "Permintaan makanan seperti biskuit menjadi pendorong bahan baku seperti terigu. Maka dari itu, ketika permintaan biskuit meningkat, maka permintaan tepung terigu juga akan meningkat," tambahnya.

Pertumbuhan konsumsi terigu pada tahun lalu dan tahun ini mendorong investasi produsen terigu tahun ini. Hal itu ditunjukkan investasi tiga produsen, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Siantar Top Tbk (STTP) dan PT Wilmar Nabati Indonesia. Indofood Sukses Makmur melalui entitas anak, PT Bogasari Flour Mills, membangun pabrik terigu pada tahun ini. Pembangunan pabrik tersebut pada mulanya akan dibangun tahun lalu, namun masih terkendala lahan.

Lebih lanjut dikatakan Welirang, harga tepung terigu di Indonesia bisa dikatakan paling stabil dan paling murah di dunia. Sehingga jika ada kenaikan harga terigu tidak akan membuat pelaku UKM tertekan. "Harga terigu kita di Indonesia ini paling murah di dunia dan paling stabil harganya," katanya.

Ia menjelaskan apabila harga tepung terigu naik, sesungguhnya tidak akan membuat toko roti, mie dan industri lainnya yang berbahan dasar terigu pada bangkrut. "Karena paling murah itulah, tidak akan membuat pabrik roti atau toko roti sampai bangkrut jika harga terigu naik," ucapnya.

Justru yang bisa membuat industri roti gulung tikar, kata dia, jika harga gula, coklat dan keju naik. "Kenapa? Karena orang Indonesia suka roti yang manis, sementara gula, keju, coklat harganya terus naik, sementara harga roti sulit naik," ujarnya.

Impor Menurun

Sebelumnya, Aptindo mencatat, impor tepung terigu Indonesia turun 34,92% pada kuartal I-2012 menjadi 121.778 ton, dibandingkan periode sama tahun lalu 187.115 ton. Penurunan terjadi karena sebagian importir beralih bisnis menjadi produsen produk tersebut. "Impor turun karena beberapa importir menjadi produsen. Tahun ini, mereka sudah memulai produksinya," kata Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies.

Bertambahnya produsen tepung terigu di dalam negeri, menurut Ratna, membuat pasokan terigu lokal naik 13% menjadi 1,10 juta ton pada kuartal I-2012 dibandingkan periode sama tahun 2011 yang mencapai 970.953 ton. Lebih lanjut, Ratna mengungkapkan, ada lima investor baru yang akan membangun pabrik tepung terigu tahun ini. Kelima investor tersebut terdiri PT Siantar Top, Wilmar Group, Toyota Tsusho, dan dua perusahaan asal Turki.

Menurut Ratna, industri eksisting juga akan menambah investasi untuk menaikkan kapasitas produksi. "Adanya sejumlah investasi baru itu akan menambah kapasitas produksi tepung terigu secara nasional hingga lebih dari 2 juta ton per tahun," ujar dia.

Menteri Perindustrian MS Hidayat sebelumnya mengatakan, investasi dan penambahan kapasitas produksi industri tepung terigu di dalam negeri menjadi prospek yang bagus bagi Indonesia. "Ke depan, industri ini akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi tepung terigu untuk memasok ekspor ke kawasan Asia Timur," kata Hidayat.

Konsumsi Nasional Sementara itu, konsumsi terigu nasional juga terus meningkat. Berdasarkan catatan Aptindo, konsumsi terigu di dalam negeri mencapai 1,22 juta ton pada kuartal I-2012, naik 5,61% dibandingkan periode sama tahun 2011 yang tercatat 1,15 juta ton.

Menurut dia, pertumbuhan konsumsi terigu dipacu oleh beberapa faktor, di antaranya harga beras yang terus naik, sehingga menyebabkan orang berpaling ke mi instan. Sebagai perbandingan, harga beras internasional lebih mahal hampir dua kali lipat dibandingkan harga gandum internasional.

Faktor lain yang menjadi pemicu bertumbuhnya industri produk hilir terigu. Produk tersebut bahkan mulai menembus pasar ekspor di kawasan regional Asia. "Variasi pangan berbasis terigu lebih banyak ketimbang beras, misalnya mi, roti, gorengan, dan martabak," kata Ratna.

BERITA TERKAIT

Cari Modal di Bursa - Sentra Food Lepas 250 Juta Saham Ke Publik

NERACA Jakarta – Mendanai ekspansi bisnisnya, PT Sentra Food Indonesia Tbk akan mencari pendanaan di pasar modal lewat penawaran umum…

Produksi Rumput Laut Serang 17 Ribu Ton

Produksi Rumput Laut Serang 17 Ribu Ton NERACA Serang - Produksi rumput laut jenis cotoni di Kabupaten Serang sampai dengan…

Pelanggan IndiHome Tembus 5 Juta

Memasuki penghujung tahun 2018, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) meraih pencapaian yang baik dengan mencatatkan 5 juta pelanggan IndiHome…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…