Rupiah Lemah Akibat Persediaan Valas Kurang

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengakui telah terjadi kesenjangan atau shortage pasokan dan permintaan di pasar valuta asing atau valas dalam negeri. Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono, mengatakan pihaknya tetap mengupayakan stablilitas rupiah dengan berbagai instrumen yang ada.

"Jadi nggak ada perubahan fundamental dari instrumen atau apapun. Perlu saya tegaskan, sebab meskipun di dalambalance of payment (neraca pembayaran), keseluruhan, kita masih surplus. Artinya, defisit dicurrent accountmasih bisa ditutupi olehcapital account(neraca modal)," kata Hartadi di Jakarta, Jumat.

Oleh karena itu, cadangan devisa BI meningkat dibandingkan dengan tahun 2011 dan 2012. Namun, tambahnya, karenabalance of paymentyang dicapital accountsekarang itu porsinya banyak yang didukung investasi langsung atau Foreign Direct Investment (FDI).

"Kita ketahui, dari FDI itu mungkin sekitar 75%-85% dalam bentukin kind, dalam bentuk barang maupun jasa. Misalnya jasa konsultan, dan hanya sedikit dalam bentuk tunai," ujarnya. Dengan demikian, defisit ekspor-impor itu hanya sebagian yang tertutupi dengan dana tunai di pasar.

Ke depan, dirinya berharap, dengan pertumbuhan ekonomi dunia membaik di 2013, current account deficit akan membaik. Tak hanya itu saja. Hartadi juga berharap bukan lagioverall balance of payment yang membaik tetapi jugacashflow supply demandvalas sudah terpenuhi oleh pasar.

Pada Jumat (25/1) pekan lalu, kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS kembali bergerak melemah sebesar 50 poin seiring kondisi Eropa yang masih negatif. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta bergerak melemah menjadi Rp9.665 per dolar AS dibanding sebelumnya di posisi Rp9.615 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Jumat tercatat mata uang rupiah bergerak melemah nilainya menjadi Rp9.643 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp9.635 per dolar AS.

Pengamat pasar uang PT Bank Himpunan Saudara 1906 Tbk, Rully Nova menambahkan, kurs mata uang rupiah melemah terhadap dolar AS, meski demikian nilai tukar domestik itu masih dalam penjagaan Bank Indonesia. Dia mengatakan, masih cukup kuatnya permintaan dolar AS menyusul perusahaan domestik yang membutuhkan bahan baku produksi, membuat mata uang domestik cenderung tertekan.

Membengkak Rp5,6 triliun

Sebagaimana diketahui, Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu, Herry Purnomo mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dapat memperberat beban belanja APBN.

Sisi lain, depresiasi rupiah makin mendekati angka Rp9.700 per dolar AS, lebih tinggu dari asumsi APBN 2013 yang ditetapkan sebesar Rp9.300 per dolar AS. Hal ini dipastikan akan menambah beban anggaran negara mengingat pemerintah harus mengeluarkan biaya ekstra untuk impor serta membayar utang dan bunganya.

Jika setiap depresiasi rupiah Rp100, maka setidaknya ada tambahan defisit anggaran sebesar Rp1,4 triliun. Artinya, pada kondisi sekarang terdapat selisih kurs Rp400, maka perkiraan defisit APBN 2013 kian membengkak menjadi empat kalinya atau sebesar Rp5,6 triliun.

Menurut Herry, pemerintah memang harus menyediakan dolar AS dalam jumlah lebih besar untuk membiayai kebutuhan negara terkait dengan pelemahan rupiah. Akibatnya, pemerintah harus mengupayakan lebih besar untuk menutup pagu yang tidak tersedia.

"Yang sangat berpengaruh adalah terkait dengan subsidi, BBM dan listrik, belanja negara. Dari hitung-hitungan, dengan melemahnya rupiah, arahnya ke pembayaran utang lebih besar," ujarnya kepadaNeraca, awal pekan lalu.

Pihaknya belum menghitung berapa besaran deviasi imbas dari pelemahan rupiah terhadap APBN, tetapi ketika pagu yang disediakan tidak cukup, maka harus menyediakan pagu untuk selisih kursnya. Herry berharap, nilai tukar rupiah segera menguat.

Sementara untuk pembayaran utang, menurut dia, pemerintah diuntungkan olehyieldyang bergerak turun setelahinvestment grade. Alhasil, pembayaran bunga utang tahun lalu lebih rendah dari yang dianggarkan sebelumnya dalam daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA).

Sedangkan untuk subsidi, Herry mengatakan, jumlah rupiah yang disediakan jadi lebih banyak daripada dianggarkan jika asumsi nilai tukar di APBN jauh dari realisasi rupiah. "Jelaslah dari segi nilai rupiah yang disediakan harus lebih besar lagi, tapi prinsip kita realisasi itu dibatasi pagu. Artinya kalau pagunya yang tidak cukup itu, ya, harus disediakan untuk menutup yang selisih rupiah itu,” tandasnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

BIROKRASI KURANG RAMAH HAMBAT INVESTASI - Istana Tak Terobsesi Kejar Pertumbuhan Tinggi

Jakarta-Istana Kepresidenan menyatakan pemerintah tak terobsesi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi selangit di tengah situasi ekonomi global yang sedang melambat seperti…

Dinilai Manajemen Keuangan Lemah - Moody’s Pangkas Peringkat APLN Jadi B2

NERACA Jakarta-Melorotnya kinerja keuangan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) berujung pada terpangkasnya rating emiten properti ini. Lembaga peringkat internasional,…

Beban Ekonomi Akibat DBD Capai US$ 381 Juta

    NERACA   Jakarta - Indonesia telah melawan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah mencapai 50 tahun, akan tetapi…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pemerintah Serap Rp22 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp22,05 triliun dari lelang tujuh seri surat utang negara (SUN)…

IMF Desak Negara-negara Hindari Kebijakan Perdagangan Terdistorsi

    NERACA   Jakarta - Ketegangan perdagangan sejauh ini tidak secara signifikan mempengaruhi ketidakseimbangan neraca berjalan global, tetapi membebani…

BI Yakin Arus Modal Asing Tetap Deras - Suku Bunga Acuan Turun

      NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk…