BI: 2013, Defisit Transaksi Berjalan Sedikit Membaik

NERACA

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa pada tahun ini, defisit transaksi berjalan akan sedikit membaik mengingat akan ada perbaikan pada sejumlah harga barang ekspor.

“Memang kalau dilihat untuk tahun 2013 ini, kita memperkirakan ekspor harga-harga barang komoditas baru akan membaik pada semester kedua, terutama di kuartal terakhir, sehingga defisitnya juga akan sedikit membaik,” kata Gubernur BI Darmin Nasution Jakarta, Rabu (23/1).

Untuk semester pertama, tambah dia, perbaikan belum akan terjadi sejalan dengan belum pulihnya kondisi global meski ada sedikit perbaikan. Namun, kata dia, bahkan Bank Dunia malah kembali menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global.

“Kecenderungannya seperti itu sementara impor kita tetap berjalan karena investasi tetap berjalan. Impor barang modal, bahan baku, dan BBM tetap berjalan. Sehingga, kecenderungan defisit transaksi berjalannya tetap cukup besar,” kata dia.

Walaupun begitu, lanjut Darmin, yang perlu diperhaitkan dalam neraca pembayaran selain transaksi berjalan adalah transaksi modal. “Jangan cuma melihat transaksi berjalan saja. Transaksi berjalan yang defisit kalau diimbangi dengan transaksi modal yang surplus, apalagi surplusnya bisa menutupi defisit transaksi berjalan, itu biasanya dianggap risikonya tidak berat,” papar Darmin.

Untuk kuartal IV/2012, tambah dia, Indonesia akan mengalami defisit transaksi berjalan yang diperkirakan melampaui prediksi BI sebesar 2,2- 2,3% dari Produk Domestik Bruto.

"Dulu kami perkirakan defisit transaksi berjalan itu di 2,2 hingga 2,3%. Kelihatannya memang sedikit lebih tinggi realisasinya, tapi tetap dengan kecenderungan menurun dibandingkan kuartal I dan II/ 2012," kata Darmin.

Menurut dia, defisit transaksi berjalan masih akan tetap tinggi karena investasi yang masuk ke dalam negeri cukup tinggi sehingga meningkatkan nilai impor bahan baku.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan bahwa neraca berjalan selalu diwaspadai dalam dua tahun terakhir. “Kita tahu bahwa salah satu penyebab deficit neraca berjalan adalah deficit perdagangan. Dan defisit perdagangan yang utama mayoritas dari impornya yang masih dalam bentuk barang-barang modal, barang pembantu dan juga ada BBM yang diimpor. Jadi, selama itu sifatnya untuk mendukung kegiatan peningkatan investasi, kita tentu akan terus mendorongnya.

Agus menambahkan, pihaknya akan terus mendorong sektor-sektor produksi yang belum ada. “Itu kita berikan motivasi agar investasi itu dapat berjalan di sektor-sektor atau area yg belum ada di Indonesia. Kita memberikan insentif. Jadi itu yang kita harapkan juga bisa nantinya memperbaiki defisit transaksi berjalan kita,” kata Agus. (doko)

BERITA TERKAIT

RFB Catatkan Volume Transaksi Naik 10,5%

NERACA Jakarta – Semester pertama 2019, PT Rifan Financindo Berjangka (RFB) berhasil mencatatkan pertumbuhan volume transaksi sebesar 10,5% dan penguasaan…

TRANSAKSI RIYAL MANDIRI SYARIAH MENINGKAT

Pegawai Mandiri Syariah (kiri) melayani calon jamaah haji yang menukarkan mata uang Riyal Arab Saudi (SAR) untuk kebutuhan di Tanah…

Defisit Transaksi Berjalan Kronis, Kedaulatan Ekonomi Terancam

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Neraca Transaksi Berjalan mulai mengalami defisit sejak triwulan IV…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kekurangan Penerimaan Pajak Diperkirakan Meningkat

    NERACA   Jakarta - Kementerian Keuangan memperkirakan penerimaan pajak selama 2019 akan meleset sekitar Rp140 triliun dari target…

Kantar Rilis 10 Iklan Ramadan 2019 Terbaik

      NERACA   Jakarta - Perusahaan data, dan konsultasi berskala global, Kantar Indonesia menggelar penghargaan ‘Most Loved’ Indonesian…

PPK Kemayoran Ingin Jadikan Gedung Eks Bandara Kemayoran Jadi Cagar Budaya

    NERACA   Jakarta - Pusat Pengelolaan Kompleks (PPK) Kemayoran mengusulkan agar gedung eks Bandara Kemayoran dijadikan sebagai cagar…