Petani Jambi dan Lampung Tuntut Tanah - Tidak Digubris

NERACA

Jakarta – Ratusan petani dari Jambi dan Lampung berjalan 1.000 km menuju Istana Merdeka untuk meminta tanah yang sudah mereka tinggali belasan tahun agar dapat dikembalikan. Aksi tersebut dilakukan pada Rabu (23/1) dengan sebelumnya menyatukan kekuatan di Kementerian Kehutanan.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng, belum pernah terjadi sepanjang sejarah Nusantara, anak manusia berjalan kaki sepanjang 1.000 kilometer untuk menuntut secuil keadilan dari pemerintahan yang berkuasa. “Mereka menuntut sejengkal tanah bumi pertiwi dari penguasa agar mereka dapat bertahan hidup dan memberi makan anak-anak mereka,” kata Daeng kepadaNeraca.

Aksi tersebut bermula dari pengambilalihan lahan perkebunan masyarakat yang melibatkan tiga perusahaan perkebunan dengan niat berbisnis akasia. Masyarakat yang dimaksud berasal dari tiga tempat di Jambi, yaitu Suku Anak Dalam (SAD) 113, Dusun Kunangan Jaya II (Batanghari), dan Dusun Mekar Jaya (Sarolangun).

Sementara itu, tiga perusahaan yang dimaksud adalah PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI), PT Agronusa Alam Sejahtera (AAS), dan PT Wanakasita Nusantara (WN).

Menurut Sutarno, salah satu petani yang ikut diambil alih lahannya, mereka sudah menempati lahan tersebut sejak tahun 2000. Pemerintah setempat sudah membangunkan Sekolah Dasar, Puskesmas, dan jalan. Karet dan kelapa sawit yang mereka tanam juga sudah menampakkan hasil.

Tanpa peringatan terlebih dahulu, tiba-tiba pada akhir 2011 perusahaan-perusahaan tersebut masuk membongkar kebun-kebun warga yang kebanyakan menjadi mata pencaharian utama masyarakat.

Mediasi sudah dilakukan dengan Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Provinsi Jambi. Tetapi masyarakat belum mendapatkan kejelasan atas tanah yang mereka tinggali.

Permasalahan membesar sampai melibatkan Menteri Kehutanan. Lantas dibuatlah tim kecil yang terdiri dari pemerintah dan masyarakat untuk melakukanmappinglahan mana-mana saja yang sudah menjadi tempat tinggal masyarakat.

Sayangnya, meski pertengahan 2012 hasilmappingtersebut sudah diberikan ke Kementerian Kehutanan, tapi sampai akhir tahun masyarakat di tiga dusun yang tanahnya diambil alih tersebut belum mendapatkan kepastian.

Ketidakjelasan itu menyulut kegeraman masyarakat yang kemudian direalisasikan dengan bentuk aksi jalan kaki 1.000 km dari Jambi ke Jakarta. Aksi jalan kaki tersebut dimulai pada 12 Desember 2012. Sebagian masyarakat lainnya mendahului dengan menaiki bus, lalu berkemah di depan Kementerian Kehutanan, sambil menunggu kawan-kawan mereka yang berjalan kaki.

Di pertengahan jalan, mereka bertemu dengan petani dari Mesuji, Lampung, yang mempunyai masalah yang sama. Mereka kemudian ikut bersama petani Jambi untuk jalan kaki menuju Istana Merdeka. Satu setengah bulan kemudian, yaitu Rabu kemarin, para pejalan kaki itu sampai dan menyuarakan permintaan mereka, yaitu kejelasan tanah untuk mereka.

Namun sayang, kata Daeng, aksi mereka seperti tidak dipedulikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Pemerintahan SBY, elite partai politik di negeri ini memang tidak punya hati nurani. Tidak secuilpun apresiasi dari pemerintah dan elite parpol terhadap jerih payah dan perjuangan petani,” kata Daeng.

BERITA TERKAIT

Target Swasembada Pangan Pemerintah Tidak Didukung Luas Lahan - Data Hasil Riset

NERACA Jakarta – Target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah sulit untuk dicapai. Salah satu penyebabnya adalah luas lahan pertanian yang…

Bencana dan Infrastruktur

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Bencana beruntun yang terjadi di republik ini menyisakan…

Fintek Crowde Raih Pendanaan dari Jepang dan Korsel

      NERACA   Jakarta - Crowde, perusahaan rintisan yang bergerak di bidang pertanian mengumumkan penerimaan pendanaan awal atau…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Mulai Buahkan Hasil, Skema KPBU Juga Butuh Insentif

  NERACA   Jakarta - Proyek Infrastruktur yang dibiayai dengan Skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dinilai sudah membuahkan…

Realisasi Subsidi Energi Lampaui Pagu Anggaran

  NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan realisasi subsidi BBM dan LPG dalam APBN pada…

Jasa Raharja Targetkan Laba Rp1,6 triliun

      NERACA   Jakarta - PT Jasa Raharja (Persero) menargetkan perolehan laba 2018 sebesar Rp1,6 triliun. Angka tersebut…