Penghematan BBM 1,3 Juta KL Tidak Signifikan

NERACA

Jakarta - Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, program penghematan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi melalui sistem teknologi informasi (TI) yang dilaksanakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebesar 1,3 juta kiloliter tidak signifikan.

“(Jumlah) 1,3 juta kiloliter yang pakai TI itu menurut saya kalau dirupiahkan kira-kira Rp5-6 triliun. itu belum terlalu efektif untuk mengurangi belanja subsidi dan juga untuk kualitas belanja yang lebih baik. Jadi menurut saya, kalau mau ada program pembatasanitu harus yang punya dampak siginifikan. Yang TI itu bisa dipakai sebagai supporting untuk dampak yang lebih signifikan. Artinya, dibuat satu program, nah TI yang dipakai itu bisa membantu pencapaian target yang lebih signifikan,” kata Bambang, di Jakarta, Rabu (23/1).

Menyinggung program pembatasan yang meluas ke Sumatera, menurut Bambang, itu juga tidak signifikan karena hanya untuk mobil dinas. “Kalau itu kita lihat kejadian pada 2012, dampaknya tidak terlalu signifikan. Toh volume yang di sana cukup kecil. Jadi saya melihat di sini efektifitasnya masih kurang. Yang saya tekankan adalah perlunya pembatasan dengan dampak yang lebih signifikan baik pada jumlah subsidinya, juga pada anggaran,” kata dia.

Kendaraan Pribadi

Dia menyarankan untuk mengaplikasikan metode pembatasan pemakaian BBM bersubsidi pada kendaraan pribadi. “Pembatasan yang pernah kita bahas pada 2011, semua kendaraan pribadi tidak boleh memakai BBM bersubsidi. Atau, yang pernah diwacanakan juga, misalnya misalnya cc tertentu, terserah berapa. Nah dari situ kan bisa dihitunglah kira-kira dampak yang lebih signifikan,” kata Bambang.

Ditambahkannya, anggaran subsidi bisa dikendlaikan sehingga akan lebih baik bila direalokasi untuk kegiatan yang lebih produktif dan kualitas belanja yg lebih baik.

“Nah, caranya apa kan banyak opsi. Kita tidak dalam posisi apakah yang ini lebih baik dari kemarin. Kalau ada sesuatu, misalnya kebijakan atau program yang bisa membuat dampak signifikan daripada penyesuaian harga, kenapa nggak?” kata dia.

Dampak Fiskal

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengharapkan program yang diperkirakan akan menghemat pemakaian BBM bersubsidi hingga 1,3 juta kiloliter tersebut dapat berlaku efektif di seluruh Indonesia demi untuk mengurangi beban anggaran subsidi.

"Indonesia luas dan sesuatu yang disubsidi kalau terjadi selisih dari harga pasar cukup besar, akan terjadi orang yang menyalahgunakan. Itu bagian yang harus kita yakinkan berjalan efektif," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No 1 Tahun 2013 tentang Pengendalian Penggunaan BBM agar konsumsi BBM tahun ini tidak melebihi kuota sebesar 46 juta kiloliter dengan nilai subsidi Rp193,8 triliun. (doko)

BERITA TERKAIT

Halte TransJakarta Tidak Manusiawi

Kami melihat di semua halte bus TransJakarta tidak ada Toilet khusus untuk kencing. Hal ini tentu sangat berisiko bagi penumpang…

Otomotif - Kemenperin Optimistis Ekspor Mobil Tembus 1 Juta Unit Tahun 2025

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian optimistis jumlah ekspor mobil produksi Indonesia akan mencapai 1 juta unit pada tahun 2025. Agar…

Omzet UKM Binaan PNM Tembus Rp95 Juta/bulan

Omzet UKM Binaan PNM Tembus Rp95 Juta/bulan NERACA Payakumbuh, Sumbar - Sejumlah usaha kecil dan menengah (UKM) binaan PT Permodalan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

RS Diminta Jangan Diskriminatif Terhadap Pasien JKS KIS

    NERACA   Jakarta - Direktur Hukum Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga BPJS Kesehatan Bayu Wahyudi mengingatkan pengelola fasilitas…

Pemerintah Lelang 7 Ruas Tol dengan Total Investasi Rp151 triliun

    NERACA   Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) pada…

PLN Komitmen Tanamkan Budaya K3

    NERACA   Jakarta - Dalam sebuah perusahaan, pengelolaan aspek Kesehatan, Keselamatan, Keamanan, dan Lindung Lingkungan (K3LL) tidak boleh…