free hit counter

Belanja Iklan Rokok Selalu Bertengger di Atas

Atasi Regulasi dengan Kreatif

Sabtu, 26/01/2013

Regulasi di industri pertembakauan yang kian ketat bakal menyusutkan iklan rokok, karena Pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, bukan hanya menguntungkan produk impor saja. Namun, PP tersebut secara otomatis berimbas pada iklan produk rokok tahun ini.

Alhasil, pendapatan perusahaan periklanan dari produk rokok diprediksi akan turun cukup signifikan. Di sisi lain, bagi pelaku dunia periklanan justru menjadi ajang kreatifitas, menurut Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) DKI Jakarta Irfan Ramli, untuk menyiasatinya banyak aturan terkait batasan iklan rokok ini, para praktisi periklanan memang dituntut lebih kreatif dalam menyuguhkan karya-karya iklan mereka agar tetap menarik tanpa harus melanggar aturan maupun kode etik pariwara.

Sehingga di tengah kompetisi dan banyaknya aturan di periklanan rokok, makin banyak muncul iklan rokok yang kian kreatif. Artinya, iklan yang menarik dengan menyampaikan pesan dari produsen secara efektif, dan tidak melanggar ketentuan kode etik pariwara. “Dituntut kreativitas tinggi untuk menyajikan iklan rokok secara elegan, tapi tetap bisa menyampaikan pesan dari brand. Apalagi iklan juga untuk mengkomunikasi perusahaan dan merek ke konsumen,” ujarnya.

Dia menambahkan, meski iklan dan promosi rokok dibatasi, namun hingga kini belanja iklan dan promosi industri rokok, masih menempati deretan papan atas. Pantas jika para pelaku usaha media dan periklanan tetap sumringah mendekati industri ini. “Secara umum iklan tahun ini, kami perkirakan bisa tumbuh 15%. Salah satu pendorongnya industri rokok, di samping telekomunikasi, elektronik, otomotif, dan beberapa produk lain,” ungkap Irfan yang juga Presiden Direktur Hakuhodo Indonesia.

Turun 10%Next