Teknologi UHT, Cara Cerdas Menjaga Kesegaran Susu

Rabu, 23/01/2013

NERACA

Jakarta – Mengkonsumsi susu segar sangat penting untuk meningkatkan asupan gizi dalam tubuh. Namun dalam mengkonsumsi susu, dituntut juga untuk tahu bagaimana memilih mana susu yang segar secara alami dan susu segera dengan bahan pengawet. Pasalnya, sikap keteledoran dalam sembarang mengkonsumsi susu dan terlebih dengan bahan pengawet bisa mengakibatkan keracunan. Alih-alih bisa meningkatkan asupan gizi dan tambah sehat dengan mengkonsumsi susu, malah sebaliknya masuk rumah sakit.

Tentu kondisi tersebut, harus di hindari. Lalu bagaimana caranya, disini masyarakat dituntut untuk aware dan jeli memilah dan memilih susu segar yang alami dan susu dengan bahan pengawet. Hal ini sangat berasalan, lantaran pesatnya perkembangan industri susu dan banyaknya jenis susu yang beredar di pasaran di Indonesia memaksa orang tua sering dihadapkan pada dilema dalam pemilihan susu yang tepat. Untuk itu, orang tua perlu mengetahui bagaimana cara memilih susu yang tepat untuk tumbuh kembang anak.

Susu merupakan minuman dengan kandungan gizi tinggi, karena itu sangat mudah dirusak mikroorganisme. Maka susu yang baik adalah yang mengandung sedikit bakteri, tidak mengandung spora mikroba patogen, tapi rasanya tetap enak.

Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, Purwiyatno Hadi mengatakan, kini cara efektif menjaga keberlangsungan susu alami adalah dengan proses teknologi strelisasi Ultra High Temperature (UHT), “Dengan teknologi UHT, cara efektif membunuh mikroba maupun bakteri berbahaya yang diolah dengan susu pemahasan sangat tinggi tanpa merubah mutu dan kandungan gizi yanga ada dalam susu,”katanya.

Menurutnya, susu cair UHT mengandung berbagai zat gizi dalam jumlah dan komposisi yang baik untuk memenuhi kebutuhan tubuh, aman dikonsumsi dan tanpa perlu bahan pengawet.

Dia menjelaskan, salah satu cara yang umum dilakukan untuk memperpanjang masa kesegaran produk pangan adalah pemanasan tanpa bahan pengawet. Caranya, lanjut Purwiyatno, dengan proses pasteurisasi dan sterilisasi. Keduanya dibedakan oleh suhu dan lamanya proses pemanasan yang dilakukan. Produk yang disterilisasi lebih awet disimpan daripada produk pasteurisasi.

Kata Purwiyatno, pada produk sterilisasi nilai gizinya lebih banyak yang rusak dari pada produk pasteurisasi, “Untuk meminimalkan kerusakan zat gizi pada produk sterilisasi, teknologi UHT menjadi jawabannya dengan proses strerilisasi suhu yang sangat tinggi dan dalam waktu singkat, “tandasnya.

Menjadi Yang Pertama

Menurut Communications Manager Tetra Pak Indonesia Elvira P. Wongsosudiro, Tetra Pak adalah pelopor teknologi UHT untuk pemrosesan dan pengemasan susu cair di dunia. Susu diolah secara higienis dengan menggunakan teknologi UHT dan pengemasan aseptik berteknologi canggih,”Susu UHT bebas bakteri karena diproses tanpa adanya campur tangan manusia, sehingga menjamin produk tetap segar, menjaga kandungan gizi alami dalam susu dan memungkinkan susu disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa memerlukan bahan pengawet,”katanya.

Teknologi UHT dikombinasikan dengan teknologi kemasan aseptik, sebuah produk pangan yang terjaga mutunya dan tidak rusak selama didistrisbusikan ke berbagai tempat, tanpa perlu penanganan khusus, hingga satu tahun. Jadi dengan teknologi ini, susu bisa bertahan lama tanpa bahan pengawet. Kemudian lain lagi dengan proses pasteurisasi. Dimana cara pengawetan ini tidak bisa menyaingi produk sterilisasi untuk urusan umur simpan.

Namun proses ini, lanjut Elvira, tetap memiliki penggemar setia yang merasa produk hasil pasteurisasi memiliki cita rasa yang lebih segar ketimbang produk hasil sterilisasi. Dia juga menegaskan, hingga saat ini Tetra Pak Indonesia terus berkomitmen dalam mendukung dan menggalakkan kampanye minum susu, demi terwujudnya gizi yang seimbang bagi pertumbuhan anak Indonesia.

Asal tahu saja, susu menjadi makanan tambahan terbaik bagi anak-anak, maupun orang dewasa. Tak ayal, setiap hari tak kurang tiga kotak susu cair berukuran 250 ml habis disedot bocah berusia hampir sembilan tahun.

Dr Yoga Devaera SpA dari Divisi Nutrisi & Penyakit Metabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak,FKUI-RSCM mengatakan, air susu ibu (ASI) memang asupan terbaik untuk tumbuh kembang bayi hingga usia 2 tahun. Namun menginjak usia 6 bulan, kebutuhan anak akan energi, protein,zat besi dan vitamin A tidak bisa lagi dipenuhi oleh ASI, “Karena itu, anak harus diberikan makanan pendamping air susu ibu berupa makanan bertekstur lunak dan cair seperti bubur susu, yaitu tepung beras plus susu dan puree buah, “ujarnya.

Dia menambahkan, pada tahap usia 1 tahun keatas, ASI hanya memenuhi 30% kebutuhan gizi anak. Karena itu, makanan utama anak adalah makanan padat dan tambahan susu sebagai pelengkap. Meski begitu, bukan berarti anak tidak disarankan minum susu, justru susu bisa menjadi sumber kalsium yang baik. "Pemberian susu bersama dengan makanan lain akan mencukupi kebutuhan kalsiumnya. Tetapi susu tidak dimaksudkan untuk mencukupi seluruh kebutuhan nutrisinya. Anak tetap perlu diajari makan,”jelasnya.

Tambahan susu bagi anak di atas 1 tahun diberikan sebagai sumber protein untuk tumbuh kembangnya dan upaya “menabung” kalsium untuk menjaga kesehatan anak,terutama menguatkan tulang. Selain susu,bahan makanan lain yang kaya kalsium di antaranya produk turunan susu seperti yoghurt dan keju,juga ikan yang dimakan dengan tulangnya dan sayuran berdaun hijau.

Topik Terkait

teknologi uht