Realisasi Investasi Tembus Rp 313 Triliun - Terbesar Dalam Sejarah

NERACA

Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan penanaman modal asing (PMA) selama Januari-Desember 2012 mencapai Rp 313,2 triliun atau 110,5% dari target di 2012 sebesar Rp 283,5 triliun. Realisasi sebesar Rp 313,2 triliun ini merupakan yang terbesar dalam sejarah investasi di Indonesia.

“Realisasi ini merupakan terbesar dalam sejarah BKPM. Total realisasi sepanjang 2012 mencapai Rp 313,2 triliun atau naik 110,5% dari target tahun 2012 sebesar Rp 283,5 triliun,” jelas kepala BKPM Chatib Basri dalam acara paparan Realisasi Penanaman Modal PMDN - PMA Triwulan IV 2012 dan Tahun 2012 di kantornya, Selasa (22/1).

Data BKPM menyebutkan, secara kumulatif realisasi investasi periode Januari sampai dengan Desember 2012 sebesar Rp 313,2 triliun itu terdiri dari realisasi PMDN sebesar Rp 92,2 triliun dan realisasi PMA sebesar Rp 221,0 triliun (US$ 24,6 miliar).

Berdasarkan sektor usaha (5 besar), realisasi investasi secara adalah industri makanan sebesar Rp 11,2 triliun; industri mineral non logam sebesar Rp 10,7 triliun; sektor pertambangan sebesar Rp 10,5 triliun; tanaman pangan dan perkebunan mencapai Rp 9,6 triliun; dan transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp 8,6 triliun.

Sementara realisasi PMDN berdasarkan lokasi proyek (5 besar) adalah Jawa Timur sebesar Rp 21,5 triliun; Jawa Barat sebesar Rp 11,4 triliun; DKI Jakarta sebesar Rp 8,5 triliun; Kalimantan Timur sebesar Rp 5,9 triliun; dan Jawa Tengah sebesar Rp 5,8 triliun.

Adapun realisasi PMA berdasarkan sektor usaha (5 besar) adalah pertambangan sebesar US$ 4,3 miliar; transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar US$ 2,8 miliar; industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi sebesar US$ 2,8 miliar; industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik sebesar US$ 2,5 miliar; dan industri alat angkutan dan transportasi lainnya sebesar US$ 1,8 miliar.

Dari sisi persebaran lokasi proyek, realisasi PMA (5 besar) adalah Jawa Barat sebesar US$ 4,2 miliar; DKI Jakarta sebesar US$ 4,1 miliar; Banten sebesar US$ 2,7 miliar; Jawa Timur sebesar US$ 2,3 miliar; dan Kalimantan Timur sebesar US$ 2,0 miliar.

Mengenai realisasi PMA berdasarkan asal negara (5 besar), sebut data BKPM, adalah Singapura sebesar US$ 4,9 miliar; Jepang sebesar US$ 2,5 miliar; Korea Selatan sebesar US$ 1,9 miliar; Amerika Serikat sebesar US$ 1,2 miliar; dan Mauritius sebesar US$ 1,1 miliar.

Data BKPM juga menyebutkan, sebaran lokasi proyek pada periode Januari sampai dengan Desember tahun 2012 di luar Jawa sebesar Rp 137,6 triliun atau 43,9%, dan apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2011 sebesar Rp 103,2 triliun, terdapat peningkatan sebesar 33,3%.

Realisasi Triwulan IV

Sementara itu data BKPM juga menyebutkan, terjadi peningkatan realisasi investasi PMDN pada periode Triwulan IV-2012 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2011 sebesar 10,4%, dari nilai realisasi investasi Rp 24,0 triliun menjadi Rp 26,5 triliun. Realisasi investasi PMA pada periode Triwulan IV 2012 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2011 juga meningkat sebesar 22,9%, dari nilai realisasi investasi Rp 46,2 triliun menjadi Rp 56,8 triliun.

“Berbagai upaya perbaikan iklim investasi yang dilakukan baik pelayanan di pusat dan daerah melalui pelayanan terpadu satu pintu di bidang penanaman modal, pemberian insentif investasi yang lebih menarik serta promosi terpadu telah direspon positif oleh penanam modal baik dari dalam maupun luar negeri yang ditandai dengan peningkatan realisasi investasi PMDN/PMA yang cukup signifikan” ujar Chatib.

Pada periode ini, realisasi PMDN berdasarkan sektor usaha (5 besar) adalah transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp 4,9 triliun; industri makanan sebesar Rp 3,4 triliun; tanaman pangan dan perkebunan sebesar Rp 3,4 triliun; industri kertas, barang dari kertas dan percetakan sebesar Rp 2,6 triliun; dan konstruksi sebesar Rp 2,4 triliun. Realisasi PMDN berdasarkan lokasi proyek (5 besar) adalah Jawa Timur sebesar Rp 9,5 triliun; Jawa Barat sebesar Rp 2,6 triliun; DKI Jakarta sebesar Rp 2,1 triliun; Kalimantan Tengah sebesar Rp 1,3 triliun dan Riau sebesar Rp 1,3 triliun.

Di periode yang sama, realisasi PMA berdasarkan sektor usaha (5 besar) adalah industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik sebesar US$ 1,2 miliar; pertambangan sebesar US$ 1,1 miliar; transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar US$ 0,9 miliar; industri makanan sebesar US$ 0,6 miliar; industri alat angkutan dan transportasi lainnya sebesar US$ 0,5 miliar.

Sedangkan realisasi PMA berdasarkan lokasi proyek (5 besar) adalah Jawa Barat sebesar US$ 1,2 miliar; DKI Jakarta sebesar US$ 1,1 miliar; Banten sebesar US$ 0,9 miliar; Jawa Timur sebesar US$ 0,9 miliar; dan Papua sebesar US$ 0,5 miliar. Realisasi PMA berdasarkan asal negara (5 besar) adalah Singapura sebesar US$ 1,4 miliar; Korea Selatan sebesar US$ 0,7 miliar; Jepang sebesar US$ 0,7 miliar; Amerika Serikat sebesar US$ 0,5 miliar dan Mauritius sebesar US$ 0,4 miliar.

Berdasarkan sebaran lokasi proyek pada Triwulan IV-2012 di luar Jawa sebesar Rp 30,6 triliun atau 36,8%. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2011 sebesar Rp 22,1 triliun, terjadi peningkatan sebesar 38,5%.

Adapun berdasarkan penyerapan tenaga kerja indonesia, realisasi pada periode ini mencapai 307.960 orang yang terdiri dari, oleh proyek PMDN sebanyak 149.617 orang dan oleh proyek PMA sebanyak 158.343 orang. Keberadaan investasi PMDN dan PMA diperkirakan akan dapat mengakibatkan efek ganda terhadap penyerapan tenaga kerja secara tidak langsung yaitu sebesar 4 kali.

“BKPM bersama-sama dengan kementerian teknis dan pemerintah daerah akan terus meningkatkan mutu pelayanan kepada investor, menyederhanakan prosedur dan mempercepat perizinan yang terkait investasi, serta memonitor berbagai rencana pembangunan/penyediaan infrastruktur agar dapat dilakukan tepat waktu, dan dengan demikian target realisasi investasi PMDN dan PMA Tahun 2013 yang sebesar Rp. 390,3 triliun, meningkat 24,6% dibanding capaian realisasi Tahun 2012, akan juga dapat tercapai,” ungkap Chatib Basri.

BERITA TERKAIT

Nilai Ekonomi Pertanian Lebak Tembus Rp1,2 Triliun

Nilai Ekonomi Pertanian Lebak Tembus Rp1,2 Triliun NERACA Lebak - Perguliran nilai ekonomi sektor pertanian di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten,…

Dampak Suku Bunga Tinggi - Pefindo Taksir Nilai Obligasi Rp 138,1 Triliun

NERACA Jakarta - PT Pemeringkatan Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan total nilai penerbitan obligasi sepanjang tahun 2018 hanya Rp138,1 triliun. Nilai…

2019, Belanja Pemerintah Pusat Rp1.634 Triliun

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan belanja pemerintah pusat pada tahun 2019 akan mencapai…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kampus Diminta Gelar Lokakarya Penumbuhan Wirausaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar mendorong tumbuhnya wirausaha industri baru karena ikut berperan penting dalam menggerakkan roda perekonomian…

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Sektor Riil - Komplek Petrokimia Senilai US$3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor…