Produksi Mobil Listrik Diperkirakan Hanya 1%

NERACA

Jakarta - Beberapa produsen mobil diantaranya perusahaan milik Dusep Ahmadi, PT Great Asian Link dan beberapa produsen lainnya telah siap memproduksi mobil listrik, akan tetapi pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Perindustrian menghimbau kepada produsen mobil listrik untuk terlebih dahulu memperbanyak infrastruktur pendukung seperti baterai dan pasokan listrik.

Tak hanya itu, Kemenperin juga menghimbau agar produksi mobil listri dilakukan secara bertahap. "Produksi mobil listrik diperkirakan hanya 1% dari produksi nasional. Pengembangan produk mobil listrik harus dilakukan dalam waktu yang lama dan penggunaannya hanya diperuntukan pada jarak tertentu," kata Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin, Budi Darmadi di Jakarta, Selasa (22/1).

Menurut Budi, mobil listrik akan nyaman ketika digunakan dengan jarak tempuh 100 kilometer (km). "Untuk produk mobil listrik, bisa dipakai pada kendaraan umum yang tidak membutuhkan jarak tempuh 100 km atau digunakan pada kawasan industri maupun perkantoran," paparnya.

Kendati pasar mobil listrik hanya mencapai 1% dari total mobil konvensional, pihaknya menilai bahwa produksi harus tetap dilakukan untuk mendukung perkembangan teknologi dan juga adanya permintaan pasar. Akan tetapi yang paling penting adalah pengembangan mobil listrik harus didukung dengan kemampuan memproduksi mobil dan baterai. "Ini harus ada atau akan sulit untuk mengembangkan mobil listrik," katanya.

Menurut dia, sarana pendukung seperti baterai serta stasiun pengisian listrik harus disiapkan agar mobil listrik bisa beroperasi dengan baik. Budi mengingatkan bahwa mobil listrik tidak bisa digunakan di sembarang tempat, begitu juga lokasi infrastruktur pendukung seperti tempat pengisian listrik. "Harus diperhatikan apa ini nantinya cocok digunakan di dalam kota atau di kawasan tertentu saja. Untuk infrastruktur, kan tidak mungkin dibuat di Puncak," katanya.

Sedangkan Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi Asosiasi Industri Automotif Nusantara (AsiaNusa) Dewa Yuniardi menambahkan, butuh waktu yang relative lama untuk memproduksi mobil listrik. "Selain butuh riset dari sisi teknologi, desain dan pasar, masih terlalu dini menerapkan mobil listrik di Indonesia. Mungkin butuh waktu 10 tahun dan di luar negeri pengembangannya masih sulit terwujud," ucapnya.

Siap Produksi

Di tempat terpisah, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan meyakinkan bahwa produsen mobil listrik asal Indonesia yaang dimiliki oleh Dasep Ahmadi telah siap untuk memproduksi mobil listrik. Untuk itu, Dahlan memanfaatkan ajang tahunan seperti Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2013 untuk mempromosikan puluhan mobil karya anak bangsa. Ia juga mengusulkan agar mobil-mobil tersebut digunakan dalam ajang berkumpulnya para pemimpin-pemimpin se asia pasifik.

"Pak Dasep siap produksi 20 bus listrik, mobil sekelas Alpard 10 dan beberapa mobil untuk pameran. Saya berharap agar nantinya mobil-mobil listrik hasil karya anak bangsa bisa digunakan untuk keperluan operasional dalam pagelaran APEC selama di Bali," ucapnya.

Dan rencananya, menurut panitia perencanaan APEC 2013, selain mobil listrik dilarang untuk melintas. "Mobil bensin rencananya akan dilarang lewat di Nusa II Bali," ucap Dahlan. Sementara Kepala Negara yang hadir, kata Dahlan, akan menggunakan mobil mereka masing-masing. Dan bila nantinya berkeinginan mencoba mobil listrik di sana, akan dipersilahkan.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Great Asia Link (GRAIN) Ravi Desai mengatakan, ketertarikann perseroan untuk memproduksi mobil listrik karena di Indonesia dan negara lain belum banyak dikembangkan. "Ini juga sebagai upaya kami membantu program pemerintah mengurangi anggaran subsidi BBM," ungkapnya.

PT.GRAIN telah melakukan investasi hingga Rp 100 miliar untuk merealisasikan mobil listrik nasional. Tahapan investasi akan bertambah seiring perkembangan pasar. "Kami berkomitmen mengembangkan mobil listrik. Mobil ini bisa menjadi alternatif, karena biaya operasionalnya 75% lebih hemat dibanding mobil biasa," ujar Ravi.

Pada Mei 2013, PT. GRAIN direncanakan akan meluncurkan 100 unit mobil listrik dengan merek Elvi yang merupakan akronim dari Electric Vehicle. Empat merek Elvi yang sudah siap dipasarkan, diantaranya yaitu Elvi Ravi untuk jenis APV, Elvi Hevi untuk jenis Pick Up, Elvi Hivi dan Elvi Suvi untuk jenis City Car. "Untuk jenis APV, harga dipasaran nantinya sekitar Rp130 juta, pick up sekitar Rp75-80 juta, dan city car sekitar Rp170 juta," kata Ravi.

Pada tahap awal, kapasitas produksi akan mencapai 20.000 per tahun dengan target penyerapan tenaga kerja sebanyak 450 orang. "Kami sudah mulai bekerjasama dengan beberapa SMK di Jawa Timur untuk merekrut tenaga teknisi," tambahnya. Ravi mengatakan, saat ini mobil listrik buatan PT.GRAIN menggunakan kandungan produk lokal sebesar 40%, dan beberapa komponen memang masih diimpor dari negara lain, seperti Korea dan Jepang.

Perusahaan menargetkan kandungan lokal akan terus naik hingga 50% dalam lima tahun mendatang. PT. GRAIN merupakan anak usaha dari PT Bukit Jaya Abadi, perusahaan yang bergerak sebagai pemasok dan penyedia mesin diesel dan struktur besi, dan berkantor pusat di Surabaya.

BERITA TERKAIT

Kilang Balikpapan Tingkatkan Produksi BBM Ramah Lingkungan

    NERACA   Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, pembangunan Refinery Development Master Plan…

Mitsubishi Dukung Pengembangan Infrastruktur Mobil Listrik

NERACA   Jakarta - PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), distributor resmi kendaraan penumpang dan niaga ringan Mitsubishi…

Pasar Ekspor Meningkat - KPAS Tingkatkan Kapasitas Produksi 300%

NERACA Jakarta – Tahun depan, emiten produsen kapas PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) berencana meningkatkan kapasitas produksi sebesar 300% menjadi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kampus Diminta Gelar Lokakarya Penumbuhan Wirausaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar mendorong tumbuhnya wirausaha industri baru karena ikut berperan penting dalam menggerakkan roda perekonomian…

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Sektor Riil - Komplek Petrokimia Senilai US$3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor…