Pengamat: Tak Ada Oligopoli Industri Otomotif

NERACA

Jakarta - Dugaan adanya penguasaan bisnis industri otomotif di Indonesia oleh korporasi kakap, mulai dari hulu hingga hilir, dibantah oleh pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio. Dia menegaskan, tidak ada bentuk oligopoli dalam industri otomotif.

Pasalnya, konsumen merasa tidak dirugikan dengan adanya grup dalam industri tersebut. "Pasar otomotif juga tidak terganggu. Bahkan penjualan otomotif di Indonesia mencapai penjualan yang cukup tinggi karena telah mencapai di atas 1 juta," kata Agus kepada Neraca, Senin.

Dia juga mengatakan, hampir semua industri besar, baik dibidang otomotif ataupun bidang lainnya, mempunyai hal yang sama, yaitu memiliki bank serta lembaga pembiayaan sendiri. "Ini adalah hal yang lumrah saja. Seperti Grup Astra punya multifinance sendiri. Produsen Mercedez Benz punya Dipo Finance. Ini semua untuk mempermudah konsumen dalam memperoleh produk yang diinginkan konsumen," jelasnya.

Bahkan, lanjut Agus, konsumen bebas memilih untuk menggunakan produk walaupun dengan layanan jasa yang berbeda. Direktur Utama PT BCA Finance, Roni Haslim, menuturkan bahwa produsen otomotif yang memiliki bundling (penggabungan usaha) dengan multifinance tertentu biasanya terjadi dalam suatu perusahaan yang terafiliasi.

“Kalau yang seperti itu (multifinance terafiliasi) akan menawarkan kepada konsumen cicilan kendaraan bermotor dengan multifinance yang sudah memiliki afiliasi terhadap produsen otomotif. Tapi kalau di BCA Finance tidak seperti itu. Di perusahaan kami tidak memiliki afiliasi dan terus melakukan inovasi sehingga masyarakat tetap mempercayakan pembiayaan kendaraan bermotornya kepada kami. Kami juga menyediakan kredit di semua merek,” klaim Roni kepada Neraca, kemarin.

Sebelumnya, mantan Anggota Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Erwin Syahril mengungkapkan, apa yang terjadi di industri mobil pada saat ini telah melanggar UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dalam integrasi vertikal sebagai turunan Pasal 14 UU No. 5/1999.

“Melihat indikasi adanya pelanggaran ini, maka saya meminta kepada komisioner baru KPPU untuk mendalami kasus ini,” papar Erwin. Dia mengusulkan kepada Komisioner KPPU yang sekarang ini tentang industri mobil yang hanya dikuasai oleh satu atau dua perusahaan saja untuk mengusut adanya permainan persaingan usaha yang tidak sehat.

Lebih lanjut Erwin memaparkan, dalam industri mobil bisa diduga adanya kartel dengan banyaknya perusahaan mobil yang mengatur harga jual dan wilayah pemasaran sehingga dikuasai oleh segelintir perusahaan mobil. Hal ini tidak diperbolehkan dalam hukum persaingan usaha karena terdapat keutungan usaha yang dinikmati oleh satu atau dua perusahaan mobil.

”Bisa dicontohkan, di mana Toyota dan Suzuki yang menguasai pasar Indonesia sehingga mematikan perusahaan mobil lainnya. Bahkan diperparah lagi dengan keuntungan usaha mobil mereka dibawa ke negara masing-masing dan Indonesia tidak mendapatkan apa-apa,” tegas dia. [bari/ardi]

BERITA TERKAIT

Pengamat: Pemkot Sukabumi Perlu Membuat Perda Perkoperasian

Pengamat: Pemkot Sukabumi Perlu Membuat Perda Perkoperasian NERACA Sukabumi - Iklim perkoperasian di Kota Sukabumi belum menunjukan grafik mengembirakan, hal…

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Sektor Pengolahan - Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Terus Meningkat

NERACA Jakarta – Industri manufaktur terus menyerap tenaga kerja dalam negeri seiring adanya peningkatan investasi atau ekspansi. Ini menjadi salah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BPR Diminta Bantu Kemajuan Daerah

    NERACA   Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) harus terus mampu memberikan…

Tingkatkan Loyalitas Nasabah dengan CIMB Niaga Xtra Xpo

      NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) kembali menggelar pameran perbankan ritel bertajuk…

Gandeng IKA ITS, BNI Life Tawarkan Program Asuransi

    NERACA   Jakarta - PT BNI Life Insurance (BNI Life) melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Ikatan Alumni…