Omzet Industri Kemasan Diperkirakan Rp 50 T

NERACA

Jakarta - Indonesia Packaging Federation (IPF) memproyeksikan penjualan industri kemasan hingga akhir tahun meningkat 10% dari realisasi tahun lalu sebesar Rp46 triliun berkat pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin).

“Tahun ini, omzet penjualan industri kemasan diperkirakan mencapai Rp50,6 triliun, naik 10% dari penjualan tahun lalu yang sebesar Rp46 triliun,” kata Direktur Pengembangan Bisnis IPF, Ariana Susanti, di Jakarta, Senin (21/1).

Pertumbuhan industri kemasan pada tahun ini, menurut Ariana, sejalan dengan pertumbuhan industri makanan-minuman. “Pertumbuhan industri kemasan sejalan dengan pertumbuhan industri makanan minuman. Sekitar 70% produksi industri kemasan diserap industri makanan minuman,” paparnya.

Selain dari sektor makanan minuman, pertumbuhan penjualan kemasan juga ditopang oleh industri produk konsumsi, farmasi, otomotif dan kosmetik.

Pertumbuhan konsumsi kemasan ditopang dari pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto dalam negeri, serta program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang mulai dilakukan. Semua ini, kata Ariana, diharapkan dapat mendorong investasi swasta dan berimbas pada konsumsi kemasan.

Berdasarkan segmen produk, kemasan berbahan plastik berkontribusi terbesar terhadap omzet dengan persentase sebanyak 53%, diikuti kemasan berbahan kertas 34%, kaleng 6% dan kaca 3%.

Minimnya kontribusi kemasan berbahan kaca dan kaleng, ungkapnya, dikarenakan kedua bahan ini hanya digunakan untuk jenis produk premium sehingga kuantitasnya tidak terlalu tinggi.

Sebelumnya Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto menuturkan pertumbuhan produksi industri manufaktur mencapai 6,09% pada semester 12012 atau lebih rendah dari semester I 2011 sebesar 6,35%.

Meskipun masih terkena dampak krisis global, pertumbuhan sektor industri manufaktur dipredikasi masih bisa di atas 5%. Pasalnya beberapa sektor industri yang mengalami pertumbuhan secara signifikan adalah industri alat angkut, mesin, dan peralatannya, industri makanan, minuman, dan tembakau, industri semen dan barang galian non industri.

Selanjutnya industri pupuk, kimia, dan barang dari karet, industri logam dasar besi dan baja serta industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki. Industri plastik hilir merupakan industri yang didorong pengembangannya karena memiliki potensi pasar sangat prospektif, baik dalam maupun luar negeri. "Produk industri plastik hilir, khususnya kemasan, untuk mengemas barang-barang kebutuhan konsumen seperti makanan dan minuman, kosmetik, elektronik, dan lain-lain" ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Panggah juga memaparkan kalau potensi konsumsi produk plastik di Indonesia masih cukup besar karena konsumsi nasional per kapita per tahun baru 10 kilogram (kg), relatif lebih rendah dibandingkan negara Asean lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand yang mencapai 40 kg per kapita per tahun.

Menurut Panggah, permintaan plastik kemasan didorong oleh pertumbuhan industri makanan dan minumart sebesar 60%. Di Indonesia, katanya, industri kemasan plastik berjumlah 892 buah dan menghasilkan rigid packaging, flexible packaging, thermoforming dan extrusion yang tersebar di beberapa wilayah.

"Saat ini, kapasitas terpasang industri kemasan plastik mencapai 2,35 juta ton per tahun dan utilisasi sebesar 70%, sehingga rata-rata produksi mencapai 1,65 juta ton. Penyerapan tenaga kerjanya sekitar 350 ribu orang," paparnya.

Impor Bahan Baku

Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan kapasitas produksi industri hulu bahan baku plastik. Pasalnya sampai saat ini kebutuhan bahan baku plastik terus meningkat tajam yang diantara lain untuk pembuatan kaca film dan botol air mineral. Secara total kebutuhan bahan baku plastik yang diimpor mencapai Rp US$ 6 miliar per tahun.

“Tantangan yang dihadapi oleh industri kimia yang termasuk didalamnya industri plastik dan karet adalah semakin ketatnya persaingan ekspor terutama di pasar Eropa yang mengalami krisis sejak beberapa tahun terakhir,” kata Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, beberapa waktu lalu.

Lebih jauh lagi Panggah memaparkan, hal ini tampak pada ekspor produk industri termasuk industri kimia pada semester I tahun 2012 yang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, namun diharapkan bahwa upaya restrukturisasi perekonomian Eropa tidak berlangsung lama agar dapat segera membuka peluang ekspor dari berbagai komoditi industri kimia.

Karena itu, menurut dia, industri nasionai dituntut untuk terus meningkatkan daya saing melalui berbagai upaya efisiensi. Untuk itulah, maka kebijakan pernbangunan industri kimia difokuskan pada,Penguatan struktur industri kimia mulai dari sektor petrokimia hulu melalui pernbangunan nafta cracker maupun refinery yang diintegrasikan dengan hilirnya.

Selanjutnya, ujar Panggah, promosi investasi melalui fasilitas pembebasan pajak penghasilan (tax holiday), keringanan pajak (tax allowance), keringanan bea masuk terhadap barang modal, dan fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah.

Salah satu upaya untuk menjawab permasalahan ini adalah melalui pengembangan industri kimia nasionai yang mampu memberikan nilai tambah yang optimal di samping untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat dan selama ini dipenuhi dari impor.

BERITA TERKAIT

Penerimaan Pajak Diperkirakan Tumbuh 17,4%

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Robert Pakpahan memperkirakan penerimaan pajak hingga akhir Desember 2018…

RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0 - Terkait Kemajuan Digital

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Bank Banten Bantu Permodalan Pelaku Industri Rumahan

      NERACA   Serang - PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) akan membantu kaum perempuan pelaku…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…