Layanan 4G Akan Diberikan ke Satu Operator - Industri Telekomunikasi

NERACA

Jakarta - Layanan Long Term Evolution (LTE) atau 4G yang merupakan standar komunikasi akses data nirkabel tingkat tinggi menjadi rebutan banyak operator. Akan tetapi, pemerintah menegaskan akan memberikan layanan ini untuk dikuasai oleh satu operator. Hal itu dikarenakan layanan LTE memerlukan bandwidth di atas 20 Megahertz (MHZ).

“Agar pelayanan LTE bisa berjalan optimal kepada konsumen, maka pemerintah mencoba mengoptimalkan layanan LTE atau 4G dipegang oleh satu operator,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kemenkominfo, M. Budi Setiawan, di Jakarta, Senin (21/1).

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kemenkominfo di Korea Selatan, lanjut dia, pemerintah Korea Selatan telah menunjuk satu operator untuk menyelenggarakan layanan LTE pasalnya layanan ini memerlukan kanal dengan kapasitas di atas 40 MHz.

“Di Korea Selatan, layanan LTE bisa berjalan baik dengan besaran bandwidth 40 MHz. Saat ini, terjadi tren yakni pemerintah mengambil kembali frekuensi besar yang dialokasikannya ke satu operator, kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan nasional,” paparnya.

Pada 2011 terdapat beberapa operator seluler yang melakukan uji coba layanan LTE di Indonesia, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) atau Telkom, dan PT Indosat Tbk (ISAT). Telkomsel memilih frekuensi 700 MHz dan 1.800 MHz untuk menyelenggarakan layanan LTE tersebut di Bandung. Sementara Indosat melakukan uji coba layanan di Surabaya dan Bali pada frekuensi 1.800 MHz.

Untuk mendukung adopsi satu operator untuk layanan LTE, kata dia, pemerintah bisa saja mengubah Undang-Undang No 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Namun demikian, diperkirakan adopsi layanan LTE di Indonesia akan mundur dari rencana 2013. Layanan ini kemungkinan diadopsi pada 2014 atau 2015 karena memerlukan kajian, seperti alokasi frekuensi untuk LTE.

Sebelumnya, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Ridwan Effendi menjelaskan bahwa rencana pemerintah mulai mempersiapkan LTE berserta regulasinya setelah seleksi dua blok kanal 3G di 2.100 MHz selesai. "BRTI dan Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang mengkaji penyelenggaraan LTE di 1.800MHz," kata Ridwan.

Menurut hasil penelitian dari Global Mobile Suppliers Association pada November 2012, jaringan LTE atau yang sering disebut 4G ini, paling banyak berjalan di frekuensi 1.800MHz. Pemanfaatan 1.800MHZ sebagai "rumah" bagi LTE didukung dengan adanya 130 perangkat, termasuk 26 ponsel pintar dari produsen terkemuka. Posisi kedua dan ketiga yang paling banyak digunakan untuk LTE adalah frekuensi 2.600MHz dan 700MHz.

Frekuensi Favorit

Sementara itu, Peneliti Telekomunikasi dari Indonesia ICT Institute Heru Sutadi memaparkan ada juga wacana untuk menggelar LTE di 2.100MHz. Namun, secara ekosistem global, frekuensi tersebut tidak menjadi favorit penyelenggaraan LTE. Operator seluler Telkomsel dan Indosat telah mengajukan proposal untuk menggelar LTE di 1.800MHz.

Namun, XL Axiata menunda lantaran mereka hanya memiliki alokasi frekuensi kecil. Di 1.800MHz, Telkomsel memiliki rentang pita seluas 22,5MHz, Indosat 20MHz, Axis 15 MHz, dan Hutchinson CP Telecom (Tri) 10 MHz, dan XL Axiata hanya 7,5 MHz. "Besar kemungkinan XL keberatan jika LTE digelar di 1.800MHz, karena mereka hanya punya alokasi frekuensi kecil," kata Heru.

Heru menjelaskan, alokasi frekuensi di 1.800MHz kondisinya tidak berimbang dan tidak berdampingan. Menurutnya, pemerintah sebaiknya menata kembali alokasi frekuensi di 1.800MHz jika ingin menggelar LTE di frekuensi tersebut. "Alokasi frekuensi harus merata dan dibuat berdampingan. Satu operator butuh alokasi frekuensi 15MHz sampai 20MHz jika ingin jaringan LTE-nya optimal," jelas Heru.

Selain 1.800MHz, jaringan LTE juga banyak digelar di 700MHz dan 2.600MHz. Namun, saat ini kedua frekuensi itu telah dialokasi untuk layanan lain. Pita 2.600MHz dipakai televisi satelit dan 700MHz dipakai untuk televisi analog. Heru berpendapat, sebaiknya pemerintah mempercepat program televisi digital agar 700MHz bisa dipakai untuk LTE. Seperti diketahui, program televisi digital dari Kemenkominfo rencananya baru rampung 2018.

Secara teori, penyelenggaraan LTE di frekuensi rendah menguntungkan dari sisi jangkauan yang semakin luas. Sedangkan frekuensi tinggi memiliki sifat jangkauan yang sempit. Director Engagement Practice Ericsson Indonesia, Rustam Effendie menyarankan, jaringan LTE digelar di 700MHz. "Frekuensi rendah jangkauannya lebih luas sehingga operator dapat mengurangi anggaran belanja infrastruktur BTS untuk memperluas jangkauan," Rustam menyarankan.

Pemerhati teknologi Gunawan Wibisono dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, berpendapat, ada baiknya pemerintah jangan terburu-buru dalam menyelenggarakan LTE. Karena, ada banyak langkah yang harus dilakukan, termasuk menyiapkan jaringan backbone dan regulasinya, serta melihat pertumbuhan ekosistemnya di pasar global. "Teknologi LTE bisa disebut baru, dan harganya saat ini masih mahal. Kalau membeli beberapa tahun kemudian, harganya akan turun dan kualitasnya bisa lebih baik," tegasnya.

Berkaca dari implementasi 3G di Indonesia pada 2006, pada akhirnya, 3G baru bisa booming sekitar 2009. Hingga sekarang, infrastruktur 3G pun dianggap belum merata. LTE diprediksi banyak pihak sebagai jaringan nirkabel standar baru untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan 3G. LTE menggunakan radio yang berbeda, tetapi tetap menggunakan dasar jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSPA. Di sisi lain, LTE masih dikeluhkan konsumen di sejumlah negara maju karena biaya berlangganan yang mahal dan menyedot banyak bandwidth. Alokasi frekuensi harus diatur dan jangan terkesan hanya "bagi-bagi kue," mengingat harga BHP frekuensi radio tidaklah murah. Diharapkan, penyelenggaraan LTE dibuat sematang mungkin agar tak bernasib seperti WiMax yang kini stagnan.

BERITA TERKAIT

Optimalisasi Aset Pelabuhan untuk Layanan Logistik Energi - Sinergi Pelindo III dan Pertamina

        NERACA   Surabaya - Pelindo III dan Pertamina memulai integrasi dan pendayagunaan aset pelabuhan untuk bersama…

Teknologi EcoStruxure Schneider Electric Dorong Peningkatan Sistem Layanan Rumah Sakit Digital

Jakarta, Sistem layanan rumah sakit berada di bawah tekanan yang menuntut keberlanjutan. Dengan kegiatan operasional 24/7 dan kebutuhan energi yang…

Dunia Usaha - Kemenperin: Industri Makanan dan Minuman Jadi Sektor Kampiun

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman menjadi salah satu sektor manufaktur andalan dalam memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kerja Sama Petani dan Peternak Ayam Difasilitasi

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian memfasilitasi kerja sama antara petani jagung di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan peternak ayam untuk…

Pembangunan Perkebunan Perlu Kebijakan Jangka Panjang

NERACA Jakarta – Pembangunan perkebunan tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek, namun perlu kebijakan jangka panjang karena komoditas perkebunan berbeda…

Pengolahan Sawit Mentah Capai 38.320 Ton Per Jam

NERACA Jakarta – Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat kapasitas pengolahan kelapa…