Ironis, Safeguard Pertanian Hanya 13 Produk

NERACA

Jakarta - Indonesia kini dibanjiri dengan barang-barang impor, mulai dari bahan baku sampai barang jadi, termasuk produk pertanian. Ironisnya, Indonesia tidak seagresif negara lain yang berlomba-lomba untuk menyelamatkan produk dalam negerinya untuk didaftarkan ke organisasi perdagangan dunia (WTO).

Berdasarkan data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia hanya mendaftarkan 13 produk pertanian untuk special safeguard. Padahal negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand dan Canada mendaftarkan lebih dari 50 produk pertaniannya.

"Indonesia hanya mendaftarkan 13 produk pertanian. Terlebih yang didaftarkan merupakan produk-produk yang Indonesia sendiri tidak unggul dalam produk tersebut, seperti Keju dan Mentega," ungkap Peneliti Ekonomi LIPI Zamroni Salim kepada Neraca di Jakarta, Senin (21/1).

Ia menjelaskan bahwa negera-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand mendaftarkan lebih banyak dari pada Indonesia. Malaysia mendaftarkan 72 produk, Thailand mendaftarkan 52 produk, Amerika Serikat dengan 189 produk, Jepang mendaftarkan 125 produk, Eropa Union mendaftarkan 539 produk dan Canada mendaftarkan 150 produk.

"Negara-negara lain telah banyak meratifikasi produk-produknya, mengapa Indonesia tidak. Padahal Indonesia dikenal dengan tanah yang subur bagi produk-produk pertanian," keluhnya.

Menurut Zamroni, ketika Indonesia hanya meratifikasi 13 produk pertanian, maka jika pasar dalam negeri dibanjiri oleh barang-barang impor khususnya dari produk-produk pertanian, maka Indonesia tidak boleh memberhentikan impor-impor tersebut karena Indonesia tidak meratifikasinya.

"Kalau terjadi kebanjiran produk, selain ke 13 produk tersebut di Indonesia maka kita tidak bisa complain ke WTO. Kalau di Malaysia, mereka bisa complain dan complain nya Malaysia itu dianggap legal. Sedangkan Indonesia bisa dianggap illegal. Terlebih, yang diratifikasi yaitu produk-produk yang Indonesia sendiri tidak punya keunggulannya sama sekali," tegasnya.

Cegah Matinya Industri

Sebelumnya, Wakil Ketua Komite Anti Dumping Indonesia (KADI), Joko Wiyono mengatakan bahwa safeguard merupakan tindakan yang paling penting dalam mencegah matinya industri dalam negeri. Bahkan, kata dia, sejumlah komoditas mulai banyak mengajukan untuk dapat tindakan safeguard menyusul kerugian yang ditimbulkan akibat arus barang impor.

Menurut dia, hingga kini sudah ada 29 komoditas yang mengajukan safeguard. Dari jumlah tersebut, baru 10 komoditas yang mendapatkan persetujuan safaguard, diantaranya ceramic tableware, pemanis buatan, paku, kawat bindrat, kawat seng, tali kawat baja, kain tenun dari kapas, benang kapas selain benang jahit, dan terpal serat sintetis selain awning dan tirai matahari.

"Tidak hanya karena lonjakan arus impor komoditas yang sama, safeguard juga bisa diajukan ketika sebuah perusahaan mengalami kerugian akibat impor yang melimpah. Pengajuan tindakan safeguard bisa dilakukan satu atau lebih perusahaan. Komoditas yang diajukan mendapat tindakan safeguard mayoritas berupa produk pertanian, perikanan dan juga manufaktur,’’ ujarnya.

Dia menambahkan pengajuan safeguard, dilakukan melalui Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI). Nantinya, KPPI akan melakukan penyelidikan sebelum komoditas sejenis yang diajukan itu benar-benar mendapat safeguard. Jika sebuah komoditas mendapat safeguard, maka komoditas tersebut terkena Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP). "Kebijakan safeguard ini berlaku selama lima tahun. Itu merupakan waktu yang diberikan bagi komoditas yang ada di dalam negeri untuk bisa kembali bersaing," ucap Joko.

Menurutnya Safeguard merupakan instrumen yang dapat digunakan setiap negara anggota World Trade Organization (WTO) untuk mengamankan produsen dalam negerinya akibat arus impor. WTO juga membolehkan negara anggota yang mengalami kerugian serius akibat kenaikan impor. Joko menjelaskan tindakan safeguard dilakukan melalui pengenaan tarif tambahan, pembatasan kuota impor, maupun keduanya.

Jateng, lanjut dia, juga diindikasikan menjadi salah satu provinsi yang mengalami pertumbuhan impor tinggi dan dikhawatirkan akan berdampak pada produk lokal. Produk tersebut antara lain biji wijen, durian, sirup glukosa dan fruktosa, biji timah dan turunannya.

Sementara itu, data Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut, salah satu komoditas yang mendapat safeguard seperti paku memiliki kinerja yang cukup baik. Pada 2008 impor paku mencapai 33.289.717 kg. Namun pada 2010 turun menjadi 2.575.860 kg. Kapasitas produksi paku secara nasional juga mulai tumbuh hingga 30%. Kemudian terjadi penambahan dua pabrik dan telah mampu melakukan ekspor.

Komoditas lain, ceramic tableware, pada 2005 volume impor mencapai 45.034.000 kg. Setelah mendapat tindakan safeguard, pada 2010 turun menjadi 12.479.588 kg. Kapasitas produksi komoditas ceramic tableware juga mencapai 20% sementara penjualannya meningkat sebesar 45%. Bahkan, perusahaan juga telah mampu meningkatkan jumlah tenaga kerja sebesar 23%.

BERITA TERKAIT

Pertemuan IMF –WB Momentun Perkenalkan Produk UMKM Nasional Dikancah International

Pertemuan tahunan IMF – World Bank (WB)  yang berlangsung di Nusa Bali harus bisa menjadi momentum memperkenalkan produk  usaha mikro,…

Investasi Dapen di Saham Hanya Capai 12%

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mendorong industri dana pensiun (Dapen) untuk meningkatkan invetasinya pada efek bersifat ekuitas atau saham.…

Sharp Indonesia Luncurkan Produk TV Azan

Pertahankan posisi sebagai leader market penjualan televisi di Indonesia, PT Sharp Electronics Indonesia terus melakukan inovasi dalam menjawab kebutuhan pasar…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…

Sektor Riil - Kemenperin Susun Pedoman Pengembangan Kawasan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian telah menyusun pedoman untuk pengembangan kawasan industri generasi keempat atau disebut Eco Industrial Park. Upaya…

Kemenperin Terus Kembangkan Industri Fesyen Muslim Indonesia

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Gati Wibawaningsih mengatakan fesyen Indonesia saat ini masih menjadi andalan untuk…