PP Tembakau Pukul Industri Dalam Negeri - PP Tembakau

NERACA

Jakarta – Pro kontra terhadap PP Nomor 109 Tahun 2012 atau biasa disebut PP Tembakau semakin hangat. Sebagian kalangan menilai PP ini adalah aturan kesehatan yang akan menjaga masyarakat dari dampak buruk rokok. Namun sebagian lagi menilai bahwa PP Tembakau ini akan berefek pada industri tembakau di Indonesia.

Dosen Fisip UI Syamsul Hadi lewat surat elektroniknya kepadaNeracaadalah salah satu yang yakin bahwa PP tersebut akan mengganyang industri tembakau dalam negeri. “Sudah banyak gencetan yang diterima industri tembakau, ditambah lagi dengan PP Tembakau ini,” kata dia.

Syamsul menjelaskan, PP Tembakau berisi standarisasi produksi yang sudah pasti memerlukan tambahan ongkos produksi. Ini akan memberikan tambahan pukulan yang telak bagi industri rokok nasional, terutama yang berskala kecil dan menengah, setelah beraneka regulasi pemerintah yang memojokkan industri ini, seperti cukai yang dinaikkan terus-menerus.

“Cukai rokok praktis setiap tahun naik,” kata Syamsul.

Tahun 2009 naik 10%, tahun 2011 naik 5,9%. Ini menyebabkan gelombang PHK dalam industri rokok, karena kenaikan biaya produksi, dan gulung tikarnya sejumlah besar industri rokok berskala kecil. Tahun 2008 industri rokok di Indonesia berjumlah 4.793 unit, dan menurun drastis menjadi 3.255 unit pada tahun 2009.

“PP Tembakau adalah bagian dari regulasi yang melihat aktivitas merokok sebagai kegiatan negatif, dan kurang memperhatikan aspek-aspek terkait kontribusi sosial ekonomi rokok bagi sejumlah besar rakyat Indonesia,” jelas Syamsul.

Dengan adanya PP Tembakau ini, industri rokok Indonesia semakin tertekan, setelah sebelumnya mendapat banyak tekanan eksternal. Tekanan eksternal yang ada misalnya hambatan tarif di Amerika Serikat yang mengenakan bea masuk produk tembakau sebesar 350%, sementara di Jepang dan China bea masuknya sebesar 40% dan 57%.

Hambatan non-tarif dari negara lain juga tidak kalah menekannya, misalnya subsidi untuk petani tembakau Amerika Serikat yang mencapai US$ 203 juta pada 2009, sehingga harga bahan baku industri tembakau di AS bisa ditekan. Belum lagi ditambah dengan larangan pemerintah AS atas peredaran segala jenis rokok, kecuali jenis menthol. “Jelas ini adalah langkah pemerintah AS dalam memproteksi diri dari rokok impor, termasuk rokok kretek dari Indonesia,” jelas Syamsul.

Lebih lanjut, kata Syamsul, industri rokok atau tembakau adalah satu-satunya industri yang menggunakan bahan baku, tenaga kerja, teknologi, dan pasar nasional secara terintegrasi. Industri rokok juga praktis bersifat “kebal” terhadap krisis ekonomi, termasuk krisis Indonesia tahun 1997-1998. Sehingga akan menyedihkan ketika salah satu industri yang Indonesia kuasai dari hulu sampai hilir kemudian ikut tumbang, atau berindah tangan ke asing.

“Di tengah dominasi asing di segala sektor dalam ekonomi Indonesia, industri tembakau praktis menjadi satu-satunya industri nasional yang masih bertahan. Bandingkan dengan sektor industri lain, seperti industri otomotif, perbankan, dan elektronik. Industri tekstil yang disebut-sebut sebagai salah satu unggulan Indonesia di pasar internasional mengalami pukulan yang telak akibat Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (CAFTA). Begitu pula industri mainan anak-anak,” jelas Syamsul.

BERITA TERKAIT

Pengembangan Industri Kecil Dorong Produktivitas Nasional

NERACA Jakarta – Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan pujian kepada pelaku IKM tenun di Provinsi Riau. Dia senang terhadap…

Industri Properti Perlu Waspadai Suku Bunga dan Likuiditas

      NERACA   Jakarta – Industri properti dihimbau untuk mengantisipasi terhadap dua tantangan penting yaitu ketidakpastian ekonomi global…

China Berhasil Kuasai Ekonomi Dunia Dalam Waktu Singkat

      NERACA   Jakarta - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ahmad Helmy Fuady menunjukkan data bahwa Cina…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Aturan Taksi Online Diteken Menhub

      NERACA   Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi telah menandatangani peraturan baru taksi daring setelah Peraturan…

Utang Luar Negeri Naik Jadi Rp5.227 Triliun

      NERACA   Jakarta - Utang luar negeri Indonesia meningkat 5,3 persen (tahun ke tahun/yoy) pada akhir Oktober…

Pekerja Migran Bantu Devisa Negara

    NERACA   Sukabumi - Wakil Presiden RI Jusuf Kalla mengatakan keberadaan pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI)…