Penerimaan Pajak Pasar Modal Catatkan Rp 17,4 Triliun - Mengalami Penurunan

NERACA

Jakarta - Meski mencatatkan indeks yang bagus pada perdagangan tahun 2012, tetapi rupanya penerimaan pajak dari perusahaaan masuk bursa (PMB) justru mengalami penurunan, “Penerimaan pajak dari pasar modal tahun 2012 turun bila dibandingkan tahun 2011. Penurunan dikarenakan rata-rata transaksi harian menurun sepanjang tahun lalu,"kata Dirjen Pajak Fuad Rahmany di Jakarta, kemarin.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pajak, disebutkan pendapatan KPP Perusahaan Masuk Bursa (PMB) pada tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011. Pada tahun 2012, penerimaan pajak sebesar Rp 17,4 triliun atau 77,91% dari target 2012 sebesar Rp 22,35 triliun.

Sementara penerimaan pada tahun 2011 mencapai 95,39% dari target Rp 20,44 triliun atau sebesar Rp 19,5 triliun. Hal ini bertolak belakang dengan tuntutan para pelaku pasar saham di bursa yang menolak keras soal pengenaan pajak lantaran membebankan hingga membuat minat investasi di saham turun.

Sebelumnya, analis Trust Securities, Reza Priyambada pernah menyampaikan, pemberlakuan pajak yang akan diberlakukan secara tegas oleh pemerintah terhadap pengendali saham dinilai berpengaruh terhadap kinerja pencatatan saham dalam penawaran saham umum perdana melalui initial public offering (IPO), juga akan berpengaruh terhadap kinerja perdagangan, jika pengenaan pajak tersebut juga diberlakukan kepada investor yang melakukan transaksi di pasar saham.

“Kalau untuk pemegang saham yang namanya tercatat di perusahaan mungkin boleh, tapi untuk investor yang trading sebaiknya jangan, karena secara tidak langsung akan menurunkan perdagangan di bursa,”katanya.

Terjadinya penurunan perdagangan tersebut, menurut Reza disebabkan menurunnya minat investor untuk melakukan transaksi perdagangan (trading) karena akan menganggap perdagangan tersebut tidak lagi menarik. “Misalnya beli 1lot ITMG@40.000, kemudian jual @41.500, tentu dalam transaksi tersebut yang diinginkan mendapatkan untung full 500 per lembar, bukan sebaliknya?” ujarnya.

Karena itu, Reza menilai pengenaan pajak tersebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan pasar modal Indonesia ke depan. Tidak jauh berbeda dengan Reza, Head of Research Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengatakan, penerapan aturan baru soal pajak saham tersebut diyakini akan menjadi khawatiran pelaku pasar untuk IPO karena memberatkan, “Orang-orang akan berpikir dua kali dan malas kalau ingin IPO,” ujarnya.

Menurut Satrio, peraturan pemerintah akan sangat memberatkan pelaku pasar, khususnya mereka pengendali saham yang terkena aturan tersebut. Kendatipun demikian, peraturan pajak saham tersebut tidak akan memberi pengaruh signifikan terhadap melorotnya kinerja indeks dalam negeri. (bani)

BERITA TERKAIT

Walikota Depok Berikan Award Wajib Pajak Teladan 2018

Walikota Depok Berikan Award Wajib Pajak Teladan 2018 NERACA Depok - ‎Walikota Depok Dr. KH. Mohammad Idris MA secara rutin…

MASALAH KEPATUHAN WP DIPERTANYAKAN - Kontribusi Pajak Orang Kaya Masih Minim

Jakarta-Pengamat perpajakan menilai, meski nilai harta orang terkaya di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan data majalah Forbes…

Pembenahan Modal Manusia Penting bagi Transformasi Ekonomi

Oleh: Satyagraha Indonesia saat ini sedang berjuang untuk meningkatkan produktivitas serta mendorong daya saing guna menghadapi tantangan dunia yang makin…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Optimis Target 7000 Investor Tercapai

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta optimistis mampu meraih target sebanyak 7.000 investor hingga akhir tahun ini seiring dengan berbagai…

Intikeramik Bidik Rights Issue Rp 463,8 Miliar

Cari modal untuk mendanai ekspansi bisnisnya, PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) akan menawarkan sebanyak 3,86 miliar saham baru seri…

Adira Bagikan Hasil Sukuk Rp 7,77 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan pembiayaan kendaraan, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) membagikan hasil sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance…