Pasar Modal Lesu

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Banjir Jakarta yang terjadi, Kamis (17/1), diklaim menjadi banjir terparah di awal tahun ini. Alhasil, aktivitas masyarakat dan roda perekonomian menjadi lumpuh. Banjir kota Jakarta, sudah menjadi masalah klasik yang belum terpecahkan. Bila sudah demikian, tentunya banyak pelaku usaha kehilangan peluang dan mencatatkan kerugian besar dari sisi ekonomi. Belum lagi jika dihitung dari sisi sosial masyarakat dan kesehatan, lantaran banyaknya masyarakat korban banjir terancam kelaparan dan terserang penyakit.

Dampak musibah banjir itu rupanya memberikan sentimen negatif terhadap transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), akibat sepinya perdagangan. Bahkan, begitu derasnya banjir Jakarta hingga ada dua sampai tiga anggota bursa tidak dapat beroperasi, karena ada gangguan operasional seperti karyawannya yang tidak dapat masuk kerja atau terkena pemadaman listrik.

Imbasnya, transaksi perdagangan saham harian mengalami penurunan menjadi Rp1,64 triliun dari nilai rata-rata transaksi harian normal sekitar Rp2,5 triliun. Selain itu, indeks harga saham gabungan (ISHG) terkoreksi 12,581 poin (0,29%) ke level 4.398,383.

Merespon kondisi buruknya cuaca, pihak BEI pun menyiapkan opsi suspensi perdagangan saham jika banjir terus melanda. Terlepas dari persoalan banjir Jakarta, pemerintah tentunya diminta merespon serius dampak kerugian ekonomi, khususnya di pasar modal. Apalagi transaksi harian di pasar modal nilai cukup besar mencapai triliunan rupiah.

Pemerintah seharusnya sudah memperhitungkan dampak kerugian yang ditanggung para pelaku ekonomi dan termasuk investor pasar modal yang gagal melakukan transaksi. Kendatipun, alasan banjir pada prinsipnya tidak bisa menjadi "kambing hitam" para anggota bursa untuk menghentikan trading. Pasalnya, teknologi melalui online trading seharusnya bisa menjadi jawaban atas kendala cuaca buruk.

Bagaimanapun, guna mendukung iklim investasi yang aman dan nyaman tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi semata, inflasi yang terjaga dan kondisi politik yang aman. Juga perlu memperhatikan infrastruktur didalamnya. Hal ini yang terkadang, belum digarap serius pemerintah.

Dunia pasar modal menjadi gambaran perekonomian Indonesia. Oleh karenanya, jika kondisi pasar bursa terus disuspensi dua hingga tiga hari dengan alasan banjir tentunya akan memberikan tamparan telak, bagi otoritas bursa dan juga pemerintah karena begitu lembeknya pasar bursa dalam negeri yang mudah sekali disuspensi dengan faktor cuaca. Meski kondisi cuaca buruk merupakan kekuasaan Tuhan, pemerintah seyogianya tidak lepas tangan dan berpasrah diri atas terjadinya musibah alam yang tak dapat diduga sebelumnya.

Bagaimanapun, tindakan suspensi yang berkepanjangan akan memberikan penilaian buruk bagi investor global, sementara dukungan perekonomian belum maksimal atau juga penilaian negatif terhadap pemerintah juga lemah. Sejatinya, faktor cuaca yang mengakibatkan banjir tidak menjadi alasan bagi industri pasar modal berhenti transaksi, tetapi disiasati dengan teknologi canggih. Hal ini dimaksudkan agar industri pasar modal bisa menggejar ketertinggalan dengan negara tetangga.

BERITA TERKAIT

Amazon Ikut Tanam Modal Teknologi Swakemudi

Perusahaan e-commerce raksasa Amerika Serikat (AS), Amazon, mengikuti tren teknologi global di bidang mobil otonom (swakemudi) dengan menanamkan investasi 530…

Benny Tjokro Tambah Modal Armidian

Investor kawakan di pasar modal, Benny Tjokrosaputro menambah modal PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) senilai Rp99,89 miliar, melalui penyerapan 340,95…

Tingkatkan Pangsa Pasar - Kimia Farma Bakal Akuisisi Phapros

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membeli 47.901.860 lembar atau 56,77 dari total saham…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Berharap Dana Riset dan Pengembangan Swasta

  Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef, Centre of Innovation and Digital Economy Seminggu ini publik dihebohkan oleh salah satu cuitan…

Revolusi Mental Menjungkirbalikkan Akal - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin…

Sinkronisasi RTRW Jabodetabek

  Oleh: Yayat Supriatna Pengamat Tata Kota Presiden Jokowi telah menugaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla memnenahi persoalan pengelolaan rencana tata…