Naikkan Tarif Parkir untuk Kurangi Kemacetan

Naikkan Tarif Parkir untuk Kurangi Kemacetan

NERACA

Jakarta – Wacana menaikkan tarif parkir untuk mengurangi kemacetan kembali mengemuka.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan di Kementerian Perhubungan Elly Sinaga mengatakan bahwa parkir murah adalah salah satu penyebab kemacetan di Jakarta. “Coba lihat Jepang. Silakan saja kalau berani bawa mobil sendiri. Parkirnya bisa sampai Rp 2 juta,” kata Elly belum lama ini.

Menurut Elly, menaikkan tarif parkir adalah salah satu langkah yang efektif untuk menurunkan jumlah penggunaan kendaraan, selain dengan menurunkan subsidi BBM, membatasi pembelian kendaraan, dan pembatasan lain seperti aturan genap-ganjil dan 3 ini 1.

Wacana naiknya tarif parkir ini, kata Elly, sesuai dengan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009. Kebijakan yang pro angkutan umum seperti kenaikan tarif parkir ini, kata dia, tentunya akan menarik orang dari dalam mobil pribadinya dan mendorongnya naik angkutan umum.

Sebetulnya menaikkan tarif parkir adalah perbincangan yang sudah lama dilakukan, tetapi tidak kunjung terjadi. Sejak dua tahun lalu, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) telah mengusulkan kenaikan tarif parkir di Jakarta hingga lima kali lipat. DTKJ berpandangan bahwa kenaikan tarif parkir dengan sistem zona parkir bisa mengurangi jumlah kendaraan pribadi dan membatasi ruang geraknya. DTJK menyadari betul bahwa tarif parkir yang tinggi membuat orang berpikir dua kali untuk menggunakan kendaraan pribadi.

Data DTJK menunjukkan bahwa 80% sumber kemacetan berasal dari kendaraan pribadi. Dengan menekan penggunaannya, berarti bisa mengurangi kemacetan secara signifikan.

Namun, kenaikkan tarif parkir tersebut harus diimbangi dengan penyediaan moda transportasi yang nyaman dan murah, sehingga menggunakan kendaraan pribadi menjadi bukan sebuah pilihan.

Korelasi antara tingginya tarif parkir dengan berkurangnya kuantitas kendaraan pribadi di jalan sudah terbukti di banyak negara, terutama yang sudah memiliki angkutan umum yang nyaman dan murah. Salah satunya adalah Jerman.

“Masyarakat lebih senang menggunakan kendaraan umum. Punya mobil dan bisa mengemudikannya dengan bebas seperti di Indonesia itu adalah sebuah kemewahan,” kata mahasiswi Indonesia di Bonn, Jerman, Mira Maisura kepada Neraca. Tarif parkir di Jerman rata-rata 1 Euro per jam atau sekitar Rp 13 ribu per jam.

Keadaan yang sama terjadi di Australia. “Orang lebih senang naik trem (semacam bus) daripada bawa kendaraan pribadi. Parkir di sini sangat mahal,” kata Ruby Fonna, mahasiswi Indonesia di Melbourne, Australia.

Kedua negara tersebut tidak mengalami kemacetan, salah satunya adalah karena menerapkan tarif parkir yang tinggi. Tapi perlu diingat bahwa kedua negara tersebut sudah menyiapkan pilihan angkutan umum yang aman dan nyaman, sehingga orang akan semakin terdorong untuk memilih menggunakan angkutan umum ketimbang menggunakan kendaraan pribadi.

BERITA TERKAIT

Tarif Tol Suramadu akan Digratiskan

    NERACA   Siduarjo - Pemerintah dalam waktu dekat ini segera membebaskan pembayaran untuk kendaraan roda empat atau lebih…

Pemerintah Alokasikan Dana Khusus untuk Museum

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mengalokasikan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diperuntukkan bagi sejumlah museum milik pemerintah…

MA Siapkan 977 SDM untuk Pengadilan Baru

MA Siapkan 977 SDM untuk Pengadilan Baru NERACA Jakarta - Mahkamah Agung (MA) menyiapkan 977 aparatur peradilan sebagai sumber daya…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tuai Polemik, Dana Kelurahan Terganjal Aturan

      NERACA   Jakarta – Dana kelurahan yang disiapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam RAPBN 2019 menganggarkan Rp3…

Pemerintah Diminta Perhatikan Daya Beli

      NERACA   Jakarta - Pemerintah harus memperhatikan permasalahan daya beli masyarakat di samping terus melakukan pembangunan infrastruktur.…

Transcend Beri Perlindungan Data Berlapis

  NERACA   Jakarta - Fenomena data corrupt (data rusak) adalah masalah yang sering dialami pengguna hard-disk eksternal. Ketika hard-disk…