Indef : Pemerintah Tersandera APBN

NERACA

Jakarta - The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai APBN 2013 akan sulit menjawab permasalahan-permasalahan krusial di Tanah Air. Permasalahan-permasalahan itu antara lain pengangguran, kemiskinan, deindustrialisasi serta ancaman krisis pangan dan krisis energi.

Ekonom senior Indef Didik J Rachbini mengatakan, APBN merupakan pilar ekonomi bangsa Indonesia. Akan tetapi, pilar ini dirusak struktur serta postur anggarannya bersama-sama oleh pemerintah dan DPR. Padahal, anggaran di dalam APBN sebagian besar bersumber dari masyarakat. "Pemerintah tersandera oleh APBN," tegasnya, Kamis (17/1).

Dengan struktur yang sekarang, lanjut dia, muncul warisan yang buruk bagi pemerintah dan parlemen yang akan datang. Secara khusus, Didik menyoroti tingginya angka subsidi yang mencapai Rp314 triliun. "Kebijakan subsidi ini paling lucu dan naif di muka bumi ini," sindir Didik.

Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati mengatakan, APBN 2013 tidak ada bedanya dengan APBN 2012. Masih terdapat sejumlah masalah walaupun volume mencapai Rp1.657,9 triliun. Pasalnya, postur APBN 2013 tetap didominasi oleh kepentingan birokrasi dan tersandera oleh beban subsidi serta utang.

Sebagai gambaran, dalam lima tahun terakhir rata-rata pendapatan negara meningkat sebesar 10,92%, sementara rata-rata belanja negara meningkat 14,55%. Ironisnya, Enny mengungkapkan kebijakan defisit anggaran saat ini tidak diperuntukkan untuk meningkatkan peran stimulus fiskal. "Padahal, stimulus fiskal dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depannya," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menekankan orientasi penyerapan anggaran harus melihat kualitas. "Kita tidak lagi berorientasi pada penyerapan yang harus terserap padahal kualitasnya kurang baik," katanya.

Dia juga meminta aparat dan seluruh staf di Kementerian Keuangan untuk menjaga profesionalitas dengan berbagai pihak soal penerimaan dan pengeluaran anggaran negara. "Sehingga, penyaluran anggaran bisa tertib, berkualitas dan tepat sasaran," ujarnya.

Agus mengatakan, perluasan strategi stabilitas sistem keuangan juga perlu ditingkatkan dengan mendorong investasi domestik dan asing agar lebih bergairah. "Perizinan investor kita berikan prioritas. Perusahaan yang berminat, kita jemput untuk mendengar penjelasan mereka dan diharapkan kita bisa memberikan dokumen pendukung untuk mempercepat (investasi)," ungkapnya.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Fokus Katrol Ekspor Produk Manufaktur

NERACA Jakarta – Pemerintah semakin fokus mendorong peningkatan ekspor industri pengolahan agar berkontribusi besar terhadap pertumbuhan dan perbaikan struktur perekonomian…

Pemerintah Terbitkan Sukuk US$ 2 miliar

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk wakalah global senilai dua…

Pemerintah Bantah Anggaran Bocor Rp392 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menegaskan, keberhasilan dalam mengidentifikasi pos…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Rp12.000, LRT akan Beroperasi April 2021

  NERACA Jakarta – PT Adhi Karya selaku kontraktor pembangunan kereta ringan Jabodebek (LRT) menyampaikan bahwa progres pembangunan LRT telah…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…