Industri Pariwisata Tak Terganggu Banjir

NERACA

Jakarta – Sejak pagi hingga sore, Jakarta diterpa hujan yang cukup besar. Disamping itu, kondisi beberapa jalan masih digenangi air yang cukup tinggi maka tak ayal beberapa kantor pelayanan publik ditutup. Beberapa industri juga mengalami kerugian, seperti bisnis ritel yang mengaku rugi sebesar Rp460 miliar akibat banjir yang melanda Jakarta. Namun demikia, hal itu tidak mengurangi minat wisatawan untuk datang ke Jakarta.

Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) menyebut bahwa gangguan banjir yang melanda ibu kota belum sepenuhnya melumpuhkan industri pariwisata khususnya di Jakarta. “Kalau dibilang industri ini lumpuh, belum. Akan tetapi kalau dikatakan menggangu, ya memang menggangu. Akan tetapi hingga saat ini, aktivitas industri pariwisata tetap berjalan,” kata Ketua Bidang Humas ASITA Chapter DKI Jakarta, Jongky Adiyasa, di Jakarta, Kamis (17/1).

Menurut Jongky, pada pagi hari tadi masih ada sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) dari Eropa yang masih tetap datang ke Jakarta dan tidak membatalkan minatnya untuk datang ke Jakarta meski telah mengetahui informasi soal siaga banjir yang melanda Jakarta dan sekitarnya. Sejumlah agen perjalanan wisata juga masih mengoperasikan aktivitasnya misalnya dalam hal penjemputan wisman di Bandara Soekarno-Hatta pagi ini. “Kita masih bisa akses bandara, pagi ini rombongan wisman dari Eropa juga tetap datang ke Jakarta,” katanya.

Namun ia tidak menampik adanya keterlambatan dalam layanan termasuk kegiatan MICE (Meeting Incentives Conference and Exhibition) yang sangat mungkin akan terganggu dan hampir pasti mengecewakan calon wisatawan. “Tapi saya belum mendengar ada perjalanan yang dibatalkan, kalau kekecewaan akibat tidak bisa memenuhi perjanjian sudah banyak yang melaporkan,” imbuhnya.

Sejauh ini pihaknya masih merasa mampu mengatasi persoalan yang terjadi akibat siaga banjir tersebut. Posisi Jakarta sendiri, menurut dia, merupakan kota tujuan wisata MICE atau bisnis yang lebih sering menjadi kota transit bagi wisatawan menuju destinasi liburan yang lain seperti Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. “Tapi meski banjir begitu tetap ada penyesuaian di lapangan, pihak airlines pun misalnya memberikan toleransi waktu bagi para calon penumpangnya meskipun mereka juga diimbau datang lebih awal di bandara,” katanya.

Ia mengakui, darurat banjir tetap saja mengganggu aktivitas bisnis industri pariwisata dari sisi mobilisasi hingga komunikasi khususnya jaringan internet yang menjadi tidak stabil. “Namun saya tidak berpikir bahwa ini akan menurunkan citra Jakarta atau mengurangi wisatawan yang datang, ini fenomena alam yang bisa terjadi di mana pun,” ucapnya.

Ancaman Bisnis

Sebelumnya, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia Ngurah Wijaya menjelaskan bahwa masalah kemacetan lalu lintas dan bermunculannya hotel-hotel baru menjadi ancaman bagi stabilitas bisnis pariwisata. Hal itu bisa diambil di Pulau Dewata, Wijaya mengatakan kenyamanan berlibur di Bali akan semakin terganggu karena kemacetan semakin parah.

Adanya sejumlah proyek seperti pembangunan underpass menjadi keluhan wisatawan. Pasalnya, sejak keluar dari bandara Ngurah Rai, mereka sudah harus berhadapan dengan kemacetan. Menurut Wijaya, kondisi lalu lintas Bali memang mengancam kelangsungan hidup pariwisata Bali. “Pariwisata memiliki multiplier effect yang tinggi sehingga daya saing wisata bisa menurun kalau kenyamanan berwisata terganggu,” tambah Ngurah Wijaya.

Sementara itu, maraknya pembangunan hotel maupun kondotel di Bali membuat struktur tarif menjadi kacau. Untuk itu, timbul harapan agar pemerintah daerah dapat mengerem perizinan pembangunan hotel baru. “Boleh di bilang rate structure atau tarif yang sudah ditetapkan bersama dalam bisnis ini sekarang hanya bisa dipatuhi oleh hotel bintang lima. Untuk kelas bintang di bawahnya yang berlaku adalah harga yang menyesuaikan pasar karena tingkat persaingan tinggi,” kata General Manager Umalas Hotel & Residence Ulatun Nyunda.

Menurut dia pada 2013 perang tarif hotel secara terbuka menjadi tidak terhindarkan. Itu akan terjadi seiring dengan beroperasinya hotel-hotel baru. Belum lagi munculnya kondotel (apartemen) dengan service ala hotel pun terus berlangsung. “Bisnis hotel di Bali jadi mirip teka teki silang, di satu wilayah tingkat huniannya tinggi, tapi tahun depan tingkat hunian belum tentu bisa dipertahankan karena satu hotel bintang lima dengan ratusan kamar akan dibuka,” ujarnya.

Ulatun memberi ilustrasi, jika saat ini hotel dengan 84 kamar masih bisa mempertahankan tingkat hunian hingga 70%, tahun depan rate of occupancy itu bisa terancam turun. Menyinggung sengitnya persaingan bisnis hotel belakangan ini, dia mengatakan pelaku wisata sudah mengingatkan Pemda Badung untuk mengendalikan izin pembangunan hotel dan kondotel. “Seharusnya izin baru keluar setelah tingkat hunian hotel yang ada mencapai 80% baru diputuskan perlu tambahan kamar-kamar baru,” kata Ngurah.

Pariwisata menjadi sumber Penghasilan Asli Daerah utama bagi Bali. “Jadi jika tingkat hunian hotel semakin menurun di tengah persaingan tidak sehat dengan kunjungan wisatawan yang tidak seimbang harus diwaspadai,” tutur Ngurah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kunjungan wisman ke Bali yang menjadi singkat hanya rata-rata tiga hari. Padahal pada 1980-an rata-rata mereka tinggal di Pulau Dewata selama tiga minggu.

BERITA TERKAIT

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata - Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018 NERACA  Depok - ‎Pemerintah Kota (Pemkot) Depok setelah berhasil…

Revolusi Industri 4.0 Era Baru UKM Indonesia

Revolusi Industri 4.0 Era Baru UKM Indonesia NERACA Denpasar - Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menyebutkan bahwa Revolusi Industri…

Gelar Festival Permainan Games - Telkom Ajak Milenial Bangun Industri Games

NERACA Jakarta - Kementerian BUMN RI bersama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menggelar event Spirit of Millennials Games Day 2018 di…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Indonesia Latih Petani Hortikultura Timor-Leste

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memberikan pelatihan teknis hortikultura kepada petani Timor Leste di desa Oesilo, Oecussi untuk membangun ekonomi…

Pungutan Ekspor Sawit Dihentikan, Program Jalan Terus

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tetap menjalankan programnya, meski pemerintah menghentikan sementara dana pungutan ekspor…

Menperin: IKM Makanan dan Tenun Kian Prospektif

NERACA Jakarta – Industri kecil dan menengah (IKM) di Provinsi Riau masih menjadi sektor andalan dalam menunjang roda perekonomian masyarakat…