Kendala Struktural Hambat Dunia Usaha

NERACA

Jakarta – Pemerintah merasa optimistis menjalani hari demi hari di 2013. Pasalnya dengan keadaan sekarang dimana pertumbuhan Indonesia dinilai cukup baik bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya selain itu juga daya beli masyarakat yang masih tinggi. Namun, berbeda dengan pemerintah, kalangan dunia usaha yang diwakili oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) merasa prihatin dalam menjalan tahun 2013.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengatakan rasa prihatin ini tidak lepas dari kenyataan bahwa pada 2012 yang lalu, Indonesia belum dapat menyelesaikan permasalahan atau kendala-kendala yang sifatnya struktural sehingga hingga sampai saat ini menjadi penghambat dunia usaha. “Masalah infrastruktur, pasokan energi, ketersediaan lahan, masalah korupsi dan pelayanan birokrasi yang belum memadai,” ujar Suryo dalam diskusi bertemakan Agribisnis Outlook 2013 di Jakarta, Kamis (17/1).

Selain masih berlangsungnya isu-isu yang membuat dunia usaha bergejolak, lanjut dia, pada 2013 dunia usaha juga mendapatkan dua permasalahan berat yaitu permasalahan buruh dan permasalahan menjelang pemilihan umum di 2014.

Masalah buruh, pasokan energi dan infrastruktur di daerah merupakan maslah utama yang akan menghadang dunia usaha di 2013. Tiga permasalahan ini, kata dia, akan menjadi beban berat bagi UMKM dan pertanian yang diharapkan dapat menampung tenaga kerja dalam jumlah besar dan menjadi peredam gejolak sosial. “Oleh karena itu, Kadin berharap agar ketiga masalah tersebut mendapat prioritas untuk diselesaikan oleh pemerintah,” terangnya.

Infrastruktur yang buruk, kata dia, menjadi faktor yang mengakibatkan biaya menjadi tinggi. Mengingat bahwa pembangunan infrastruktur yang butuh waktu lama maka perhatian perlu diarahkan untuk memangkas faktor biaya produksi yang lainnya. “Masalah korupsi, pungutan liar, pelayanan birokrasi yang buruk dan faktor bunga bank yang tinggi. Untuk itu, perlu segera dihilangkan melalui kerja keras dan komitmen yang tinggi,” tambahnya.

Menurut Suryo, dalam tahun-tahun mendatang Kadin akan memusatkan perhatian pada terciptanya integrasi antar berbgaia pihak. Dunia usaha yang memerlukan terciptanya integrasi antar sektor antara kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan daerah, antara dunia usaha dengan pemerintah dan antara masyarakat, dunia usaha dan pemerintah.

“Integrasi menjadi kata kunci dalam penyelesain masalah. Kalau tujuannya adalah Asean Economic Community (AEC) maka melakukan integrasi pasar dan basis produksi menjadi hal yang penting. Selain itu, Indonesia perlu untuk melakukan integrasi internal,” imbuhnya.

Pemerintah Optimis

Sebelumnya, Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida Alisyahbana menyatakan rasa optimistis dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,6-6,8%. Hal itu lantaran didorong dari aspek konsumsi masyarakat dan produksi.

Angka ini lebih tinggi dibanding asumsi pertumbuhan ekonomi di APBN Perubahan 2012 sebesar 6,5%. Lebih lanjut Armida mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dilihat dari sisi konsumsi masyarakat akan naik 4,9%, konsumsi pemerintah sebesar 6,7%, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) naik 11,9%.

Sementara, ekspor barang dan jasa diperkirakan naik 11,7%, dan impor barang dan jasa naik 13,3%. Adapun dari sisi produksi, menurutnya, Indonesia cukup berbangga karena pertumbuhan ekonominya mencapai 6,4% pada kuartal kedua 2012. “Pertumbuhan ini didorong oleh konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi. Namun, sektor pertanian menjadi kontributor tertinggi ke pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut, yaitu sebesar 3,7%,” ungkap Armida.

Agar target pertumbuhan ekonomi tahun depan itu terealisasi, demikian Armida, pemerintah akan memprioritaskan pada surplus produksi padi agar dapat naik sebesar 4%. “Kemarin sektor pertanian sudah bisa tumbuh 4%. Harapannya bisa dijaga minimal 3,7%. Ini dilakukan agar pertumbuhan ekonomi kita juga tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perekonomian Hatta Radjasa mengatakan, semua sektor itu akan dijaga pertumbuhannya. Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8% di tahun depan akan dengan mudah tercapai. “Meski pertumbuhan ekonomi dipatok cukup tinggi, kita akan terus jaga nilai inflasinya,” tandas Hatta Radjasa.

Dibandingkan dengan pemerintah, Bank Indonesia (BI) memiliki penilaian yang lebih optimis dibanding pemerintah soal pertumbuhan ekonomi di 2013. Salah satu alasannya adalah membaiknya pertumbuhan ekonomi global, meski belum cepat. Gubernur BI Darmin Nasution menjelaskan perekonomian Indonesia di tahun 2013-2014 diperkirakan akan tumbuh 6,3-6,8% dan 6,7-7,2%. “Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi yang terus meningkat dan investasi yang tetap kuat, sementara ekspor diprakirakan akan membaik,” kata Darmin.

Jika target bank sentral mencapai level tersebut, maka target itu sedikit lebih tinggi di atas target pertumbuhan ekonomi versi pemerintah di level 6,5%. Menurut Darmin, daya tahan ekonomi selama ini didukung oleh stabilitas makro dan sistem keuangan yang terjaga, sehingga akan mampu memperkuat permintaan domestik. Di sisi lain, kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi yang meningkat mampu menahan dampak turunnya pertumbuhan ekspor terutama mulai paruh kedua 2012.

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor pengangkutan dan komunikasi. “Sehingga pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6,5%,” tambahnya.

BERITA TERKAIT

WHO: Kasus Campak Meningkat 30Persen di Dunia

Kasus campak di dunia melonjak hingga 30persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan terbesar terjadi…

Peduli Dunia Pendidikan - PetroChina Salurkan Beasiswa Pelajar Berprestasi

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada dunia pendidikan, SKK Migas-PetroChina Internasional Jabung Ltd menyalurkan…

Sentimen Brexit Hambat Penguatan Rupiah

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sepanjang perdagangan kali…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Sektor Riil - Komplek Petrokimia Senilai US$3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor…

Kemenperin Gandeng IMIP Gelar Diklat 3 in 1 Industri Logam

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sepakat menjalin kerja sama dalam upaya mencetak tenaga…