Bursa Terhindar "Korban" Kebijakan Libur Dadakan - POTENSI RUGI EFEK DOMINO Rp 5 TRILIUN

Jakarta – Keputusan pemerintah menetapkan cuti bersama secara mendadak akhirnya menuai kritik tajam dari pelaku ekonomi dan termasuk investor pasar modal. Pasalnya, andaikata keputusan pemerintah tersebut diikuti oleh pelaku investor pasar modal maka dipastikan berpotensi rugi Rp 5 triliun dan berdampak negatif terhadap sektor ekonomi lainnya (domino effects). Itupun sempat membuat keraguan diantara pengambil keputusan baik di pasar modal maupun Bank Indonesia (BI).

NERACA

Pengamat ekonomi Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika mengatakan, dampak kebijakan pemerintah yang mendadak ini memberikan shock bagi pelaku pasar modal dan hasilnya dapat merugikan kalangan industri pasar modal sangat besar dari sisi ekonomi.

“Dilihat dari transaksi rata-rata per hari di lantai bursa, secara umum nilai kerugian mencapai Rp 5 triliun per hari jika bursa mengikuti cuti bersama. Kebijakan ini sangat fatal dikeluarkan dan kredibilitas pemerintah di mata publik turun,” ujarnya kepada Neraca, Selasa (17/5).

Guru besar FE Universitas Brawijaya itu menambahkan, bagi pasar modal, selain mengganggu transaksi juga merusak kegiatan transaksi lainnya. Dirinya mencontohkan, seperti emiten yang awalnya ingin listing atau public expose. Dengan adanya pengumuman tersebut, maka dibatalkan atau diundur. “Ini harus menjadi pelajaran untuk pemerintah supaya ke depan semakin arif dan bijaksana dalam mengeluarkan kebijakan,”katanya.

Menurut dia, alasan pengumuman ditunjukkan agar pasar tidak bergejolak karena keputusannya keluar di Jumat sore, itu salah besar. Buktinya bergejolak dan hal ini menjadi blunder bagi pemerintah. Namun, pendapat berbeda disampaikan Direktur Capital Bridge Indonesia NS Aji Martono yang mengatakan, perdagangan bursa saham Senin (16/5) kemarin, turun bukan karena cuti mendadak, melainkan karena faktor bursa regional yang mengalami penurunan.

“Indeks Hangseng dan Nikkei masuk zona merah. Hal ini disebabkan aksi profit taking yang dilakukan investor asing dan mengikuti pelemahan Wall Street dan Asia dipicu kekhawatiran terhadap pelemahan ekonomi global,”jelasnya.

Menurut dia, seandainya pemerintah meliburkan bursa, bisa dipastikan akan mempengaruhi perdagangan saham. Hal ini dikarenakan settlement atau transaksi pembayaran yang seharusnya dilakukan Senin (16/5) kemarin tidak bisa berjalan untuk satu pekan ke depan.

“Saya melihat, koreksi perdagangan saham awal pekan kemarin sehat. Pelemahan indeks juga disumbangkan saham-saham bluechips seperti tambang dan farmasi. Hanya Kalbe Farma dan Astra Internasional menguat. Ketahanan saham naik didukung oleh saham second liner tapi itu tidak begitu mempengaruhi pergerakan saham,” tegas dia.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal Yanuar Rizki yang menilai, terkoreksinya indeks bukan karena korban cuti mendadak yang di umumkan pemerintah. Karena disaat pengumuman cuti bersama, toh pasar modal dan kriliring perbankan tetap berjalan. “Soal IHSG terkoreksi di awal pekan kemarin lebih disebabkan sentiment negatif global dan regional yang juga mengalami koreksi,”ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 32 poin (0,85%) akibat maraknya sentimen negatif yang beredar, mulai dari global hingga regional. Atas koreksi itu, IHSG akhirnya parkir di level 3.799. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 8.575 per dolar AS dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di Rp Rp 8.545 per dolar AS dan IHSG ditutup naik 23,31 poin (0,6%) ke level 3.832.

Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan tetap membuka perdagangan saham pada Senin, 16 Mei 2011, yang dinyatakan pemerintah sebagai hari cuti bersama. Direktur Utama BEI Ito Warsito mengatakan, BEI akan tetap membuka perdagangan saham pada hari Senin (16/5), namun keputusan dapat berubah tergantung pada kegiatan perbankan.

Merujuk pengumuman bursa nomor PENG-00536/BEI.PSH/11-2010 perihal "Kalender Libur bursa Tahun 2011", dengan ini diumumkan bahwa pada hari Senin, tanggal 16 Mei 2011, kegiatan perdagangan, kliring dan penyelesaian transaksi bursa tetap berlangsung seperti biasa.

Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Wan Wei Yiong, perdagangan saham di BEI tetap berjalan seperti biasanya, karena diprediksi banyak pelaku pasar yang tidak siap dengan mendadaknya libur kerja. "Dari awal kita tetap rencana buka. Tapi kalau BI tutup, tidak bisa ada settlement. Ternyata update terakhir di BI ternyata ada kliring pada Senin (16/5),”tuturnya.

Bagaimanapun, kondisi kegiatan bursa tidak bisa libur mendadak seperti itu. Bayangkan saja, jika bursa ikutan libur saat itu, nasib settlement yang jatuh tempo pada Senin bisa menimbulkan efek berantai (domino effects). Pasalnya, banyak pelaku pasar modal yang tidak siap kalau mendadak ada perubahan.

Sebelumnya diberitakan melalui siaran pers surat keputusan bersama (SKB) Menteri PAN, Menteri Agama dan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi, nomor 2/2011/ Kep./Men/V/2011 dan SKB/01/M.Pan-RB/05/2011, bahwa Senin 16 Mei 2011 dinyatakan sebagai Cuti Bersama. Libur bersama itu terkait dengan peringatan Hari Raya Waisak yang jatuh pada Selasa (17/5). iwan/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Karantina Wilayah Dorong Perlambatan Ekonomi Lebih Dalam - PERMENKES NO 9/2020 ATUR PSBB

NERACA Jakarta-Lembaga pemeringkat internasional, Moody's, menilai perekonomian Indonesia mendapatkan tantangan yang serius dari penyebaran virus corona. Terutama sisi fiskal dan…

IMF NILAI DAMPAK PANDEMI CORONA LEBIH BURUK DARI KRISIS 2008 - Menkeu: Empat Sektor Tertekan Akibat Covid-19

Jakarta-Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan, dampak resesi akibat pandemi virus Covid-19 lebih buruk dibandingkan krisis keuangan global 2008 lalu. Pasalnya,…

JANGAN TERULANG KASUS PENYELEWENGAN BLBI - DPR: Tambahan Dana Covid-19 Rp 405 Triliun Rentan Dikorupsi

Jakarta-Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengingatkan, pemerintah terkait risiko penyelewengan dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dalam pelaksanaan aturan baru terkait…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kepercayaan Masyarakat Tetap Tinggi Terhadap Bank

NERACA Jakarta - Penyebaran virus corona telah melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia yang berdampak pada laju ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.…

BELANJA NEGARA MEMBENGKAK AKIBAT PANDEMI COVID-19 - Pemerintah Kaji Ulang Gaji ke-13 dan THR bagi PNS

Jakarta-Pemerintah sedang mengkaji skenario terburuk jika pelebaran defisit APBN mencapai 5% dari PDB, termasuk mengkaji ulang terkait pembayaran gaji ke-13…

Karantina Wilayah Dorong Perlambatan Ekonomi Lebih Dalam - PERMENKES NO 9/2020 ATUR PSBB

NERACA Jakarta-Lembaga pemeringkat internasional, Moody's, menilai perekonomian Indonesia mendapatkan tantangan yang serius dari penyebaran virus corona. Terutama sisi fiskal dan…