Menperin Minta Diversifikasi Ekspor ke Afrika dan Timteng

NERACA

Jakarta - Akibat krisis global yang melanda beberapa negara maju, Menteri Perindustrian M.S Hidayat meminta untuk melakukan diversifikasi pasar atau perluasan pasar tujuan ekspor dengan menjajaki Afrika dan Timur Tengah. "Pelaku usaha harus melakukan diversifikasi tujuan ekspor dari pasar tradisional di Eropa ke Afrika dan Timur Tengah," katanya di Jakarta, Rabu (16/1).

Pemerintah, menurut Hidayat, telah meningkatkan target ekspor industri otomotif ke Afrika dan Timur Tengah yang saat ini sekitar 14% menjadi sekitar 30%. "Peningkatan ekspor khususnya industri otomotif dilakukan untuk mengatasi perlambatan ekonomi, khususnya di kawasan Eropa. Saat ini, Indonesia masih tergantung pada ekspor komoditas dan harus memikirkan cara agar bisa mengekspor produk-produk bernilai tambah,” paparnya.

Akibat ketergantungan pada produk komoditas, lanjut Hidayat, kinerja ekspor rentan pada fluktuasi harga. Apalagi pada saat harga komoditas turun, maka nilai ekspor Indonesia ikut turun, padahal secara volume ekspor meningkat. "Kita bisa meningkatkan ekspor melalui produk-produk yang memiliki nilai tambah, seperti otomotif, kelapa sawit, kakao, alas kaki, tekstil, elektronik," ujarnya.

Pada Januari-November 2012, kinerja ekspor Indoneisia turun 6,3% menjadi US$ 174,8 miliar. Melambatnya kinerja ekspor sepanjang 11 bulan pada 2012 disebabkan penurunan permintaan di beberapa negara mitra dagang Indonesia.

Manfaatkan Forum

Sementara itu, Kementerian Perdagangan mengklaim telah berhasil menjalankan kebijakan diversifikasi ekspor lewat ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2012 yang pembelinya mayoritas berasal dari negara mitra dagang pasar non tradisional Indonesia. "TEI 2012 dikunjungi oleh 5.430 pembeli dari 95 negara, dengan pembeli terbesar berasal dari Nigeria sebesar 11,27%," kata Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi.

Bayu mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa produk barang dan jasa Indonesia memiliki daya saing yang baik dalam menembus pasar non tradisional, khususnya beberapa negara yang sedang berkembang di Afrika. Sebagai gambaran, pembeli kedua terbesar dalam TEI 2012 berasal dari Malaysia (6,1%), diikuti India (4,11%), Amerika Serikat (4,11%) dan Bangladesh (3,79%). "Tujuan pelaksanaan TEI 2012 sejak awal memang untuk membuka pasar ekspor baru dengan berbagai komoditas yang memiliki daya saing di pasar tersebut," katanya.

Menurut Bayu, beberapa penandatanganan nota kesepahaman antara eksportir Indonesia dan importir dari beberapa negara mitra non-tradisional merupakan pintu awal dalam pengembangan ekspor Indonesia kedepannya. "Keberhasilan tersebut merupakan wujud dari peran aktif perwakilan RI di luar negeri, para atase perdagangan dan Kepala Pusat Promosi Perdagangan Indonesia (ITPC) yang dalam berbagai kesempatan mempromosikan TEI 2012," kata Bayu.

Nota kesepahaman yang ditandatangani selama penyelenggaraan TEI 2012 meliputi berbagai produk jadi seperti kapas, tekstil dan garmen, batik, teknologi informasi, serta jasa konstruksi. "Hal itu merupakan bukti bahwa produk ekspor juga mulai terdiversifikasi, tidak hanya bahan mentah tapi juga merambah ke produk jadi yang bernilai tambah," katanya.

Perbaikan Iklim Investasi

Sebelumnya, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Anton J. Supit mengatakan bahwa. pengusaha mengharapkan agar Pemerintah terus melakukan perbaikan iklim investasi agar daya saing terus meningkat sehingga pertumbuhan tinggi ke pasar-pasar baru tersebut dapat berkelanjutan. “Melemahnya perekonomian Eropa dan Amerika Serikat tentu juga akan membuat semua negara mencari pasar-pasar baru. Dengan demikian persaingan akan semakin ketat,” kata Anton.

Menurut data International Trade Center, sebesar 80% dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto global tahun 2012 ini disumbang oleh pertumbuhan ekonomi negara-negara emerging market. Dan sebagian besar dari pertumbuhan itu didorong oleh perdagangan diantar sesama negara emerging itu sendiri. Dewasa ini, perdagangan antarkawasan ini sudah menyumbang seperlima dari total perdagangan dunia dan pada 2030 diperkirakan akan melewati aliran perdagangan Utara Selatan (negara maju dengan negara sedang berkembang).

Agar keberhasilan itu berlanjut, Anton mengatakan perbaikan iklim investasi untuk meningkatkan daya saing mutlak diperlukan. “Saya kira permasalahan iklim investasi kita masih sama, yakni infrastruktur dan masalah perburuhan yang bergolak kembali,” kata Anton.

Mengenai yang disebut terakhir, Anton memberikan penekanan. Saat ini, kata Anton, biaya untuk tenaga kerja sudah mencapai 25% dari biaya operasional keseluruhan perusahaan, sedangkan biaya material mencapai 55%. Kedua angka ini tidak dapat dikurangi lagi. Hanya biaya overhead yang sekitar 20% sisanya saja yang masih dapat diefisienkan, seperti bunga bank dan biaya listrik.

Oleh sebab itu Anton mengharapkan ada kerjasama saling pengertian antar pengusaha dan buruh yang difasilitasi oleh Pemerintah. Jika tidak, hal itu dapat mengganggu keberhasilan diversifikasi ekspor tersebut. “Misalnya dalam negosiasi upah minimum. Pemerintah kami harapkan tidak hanya mempertimbangkan kepentingan buruh yang sudah bekerja, tetapi juga kepentingan buruh yang belum bekerja atau buruh informal,” kata Anton.

Sementara itu, menurut Direktur International Trade Center, Patricia Francis, Indonesia termasuk salah satu negara menikmati ketahanan ekonomi karena berhasil meningkatkan perdagangan ke pasar-pasar nontradisionil. “Walau pun perekonomian melambat di pasar-pasar negara maju, negara-negara emerging market menunjukkan ketahanannya. Dan ketahanan itu terjadi karena sektor swasta terus memfokuskan diri ke pasr-pasar negara emerging seperti yang dilakukan Indonesia dengan negara-negara di Asia, Afrika dan Amerika Latin," kata Patricia.

BERITA TERKAIT

Gubernur Sumsel Minta DPR RI Perjuangkan Harga Karet

Gubernur Sumsel Minta DPR RI Perjuangkan Harga Karet NERACA Palembang - Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru minta kepada DPR…

Masalah Fintech, LBH dan OJK Masih Deadlock

      NERACA   Jakarta - Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta belum…

Harbolnas dan UMKM

Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef Setelah menjadi tradisi tahunan, hari belanja online nasional (Harbolnas) tahun ini kembali diadakan dengan semangat…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Indonesia Latih Petani Hortikultura Timor-Leste

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia memberikan pelatihan teknis hortikultura kepada petani Timor Leste di desa Oesilo, Oecussi untuk membangun ekonomi…

Pungutan Ekspor Sawit Dihentikan, Program Jalan Terus

NERACA Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tetap menjalankan programnya, meski pemerintah menghentikan sementara dana pungutan ekspor…

Menperin: IKM Makanan dan Tenun Kian Prospektif

NERACA Jakarta – Industri kecil dan menengah (IKM) di Provinsi Riau masih menjadi sektor andalan dalam menunjang roda perekonomian masyarakat…