Dana Kelolaan Employee Benefits Manulife Rp7,9 Triliun

NERACA

Jakarta – PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia mencatatkan total dana kelolaan dalam bisnis employee benefits (kesejahteraan karyawan)nya sebesar Rp7,9 triliun, atau meningkat 13% dibandingkan tahun lalu. Program tersebut terdiri atas program Pensiun DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan), Group Life & Health (GLH), serta MPPplus dan MKSplus.

“Lini bisnis ini dibentuk pada tahun 1989 untuk menjual produk kesejahteraan karyawan, dana pensiun, kesehatan, dan sebagainya, khusus untuk para karyawan suatu perusahaan. Di 2012 (bisnis ini) tumbuh 82% atau Rp444 miliar,” kata Nelly Husnayati, Vice President Director & Head of Employee Benefits Business PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, ketika ditemui di Jakarta, Rabu (16/1).

Berdasarkan data per Desember 2012 (unaudited), selain total dana kelolaan yang sudah disebutkan di atas, jumlah perusahaan yang menyediakan program ini sebanyak 5164 perusahaan. Sementara total karyawan peserta mencapai 767.521 orang.

“Kita secara agresif terus mengembangkan pangsa pasar bisnis employee benefits melalui jaringan kantor pemasaran di 24 kota yang tersebar di seluruh Indonesia. Kami optimis dapat meraih pertumbuhan bisnis yang lebih baik di tahun 2013 melalui program ini,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa produk-produk tersebut dijual melalui konsultan dan agensi (khusus untuk perusahaan) channel employee benefits. Lalu bisa juga melalui broker. Secara proporsi penjualan, 80%-nya melalui konsultan dan sisanya melalui agensi serta broker.

“Di tahun ini kami akan mulai menjual program kesejahteraan karyawan melalui bank, misalnya Bank Danamon yang memang sudah menjadi strategic partner selama 10 tahun belakangan. Dan sekarang sedang menjajaki bank-bank lain untuk menjual,” jelasnya.

Manulife, ucap Nelly, akan semakin memperbanyak cross selling dan bundling dalam menjual produk-produk di bisnis ini. “Misalnya tahun lalu kita undang peserta Dapen (Dana Pensiun), dan kita tawarkan program kesehatan. Bundling dan memberikan diskon besar, tentu saja, karena (nasabah) akan semakin loyal kan,” ucapnya.

Yang sedang perseroan tersebut kembangkan dengan gencar untuk memperkuat bisnis employee benefits-nya adalah MPPplus atau Manulife Program Pesangonplus. Jadi ini merupakan program asuransi berorientasi investasi yang ditujukan untuk membantu pemberi kerja atau perusahaan dalam pencadangan dana pesangon dan jasa karyawan yang sesuai dengan revisi PSAK 24, sebagai pemenuhan kewajiban UU Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003.

“Hari ini kita adakan client gathering bagi calon nasabah dari berbagai perusahaan untuk mensosialisasikan dan mengedukasi akan pentingnya program dana pesangon bagi karyawan. Apalagi dengan kenaikan UMP (Upah Minimum Provinsi), yang menyebabkan perusahaan harus pula memahami dampak terhadap imbalan pasca kerja karyawan dan upaya yang dapat dilakukan dalam pencadangan dananya,” paparnya.

Adanya kenaikan UMP tersebut, membuat Nelly optimis jika bisnis employee benefits ini akan bisa mencapai pertumbuhan 100% di akhir tahun 2013 ini.

Nelly juga mengatakan bahwa saat ini masih banyak perusahaan yang belum mempunyai dana cadangan untuk membayar kompensasi karyawan ketika dia diberhentikan karena alasan efisiensi perusahaan ataupun karena mengundurkan diri.

“Akibatnya kondisi keuangan perusahaan menjadi terbebani saat uang pesangon harus dibayarkan kepada karyawan, jadi pencadangan dana pesangon ini harus menjadi prioritas mereka sejak sekarang. Karena kalau pencadangan dilakukan sejak dini, maka secara akumulatif dana yang harus dibayarkan (ke karyawan) menjadi kecil,” katanya.

Sementara Karyadi Pranoto, Vice Head of Employee Benefits Business, menerangkan bahwa dengan adanya kenaikan UMP yang sampai lebih dari 40%, maka Manulife Indonesia berencana untuk menggarap kenaikan iuran pendanaan (terhadap pesangon) tersebut.

“Pertumbuhan bisnis (employee benefits) ini seperti yang sudah disebutkan tadi adalah 82%, dan kontribusi terbesarnya adalah dari produk pesangon dan pensiun. Untuk makin meningkatkan pertumbuhan tersebut, kita (akan) tambah tim sales, serta memberikan banyak insentif untuk penjual agar menjual lebih banyak lagi dan (mengadakan) training juga,” tuturnya.

Dana yang dicadangkan perusahaan dalam rekening MPPplus bisa diputar kembali dalam produk-produk investasi yang sesuai dengan risk profile perusahaan dan turn over karyawannya. Jadi masing-masing perusahaan boleh memilih produknya berdasarkan kebutuhan masing-masing.

“Investasi di money market sebesar 60 %, sisanya di saham, obligasi produk syariah dan USD. Ini kita edukasi secara berkelanjutan agar perusahaan jangan terlalu besar di money market. Karena dulu bunga deposito kan masih 12%. Tapi sekarang bunga turun, maka kami edukasi (nasabah) untuk beralih ke fixed income, kemudian juga sedikit ke saham. Jadi sekarang 30% di fixed income dan 10% ke equity,” pungkasnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Yelooo Integra Raup Dana Rp 48,75 Miliar - Harga IPO Dipatok Rp 375

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Yelooo Integra Datanet Tbk go public telah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan…

Rizal Ramli Ajukan Ganti Rugi Rp1 Triliun

Rizal Ramli Ajukan Ganti Rugi Rp1 Triliun  NERACA Jakarta - Ekonom senior Rizal Ramli mengajukan ganti rugi sebesar Rp1 triliun…

Jasa Raharja Targetkan Laba Rp1,6 triliun

      NERACA   Jakarta - PT Jasa Raharja (Persero) menargetkan perolehan laba 2018 sebesar Rp1,6 triliun. Angka tersebut…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Dorong Penetrasi Asuransi, Insurance Day Digelar di 18 kota

      NERACA   Jakarta - Dewan Asuransi Indonesia (DAI) menyelenggarakan peringatan hari asuransi atau Insurance Day 2018. Perayaan…

Pertumbuhan Kredit Tahun Depan akan Melambat

      NERACA   Jakarta – Kalangan industri perbankan memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit pada 2019 akan melambat dari 13…

OJK Ikut Bangun 1.000 Unit Hunian Sementara

    NERACA   Palu - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan industri jasa keuangan siap membangun 1.000 unit hunian sementara…