Latah Online Trading

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Tuntutan industri pasar modal harus seimbang dengan kemajuan teknologi informasi adalah hal yang mutlak. Karena, kenyamanan, kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi bagi investor menjadi utama yang harus diservis oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan termasuk anggota bursa (AB). Tak ayal, dalam menjawab tuntutan para investor dan pelaku pasar, kini banyak perusahaan efek sebagai jasa trading saham marak meluncurkan produk baru online trading.

Dengan berbagai macam fitur dan janji-janji kemudahan dalam bertransaksi, selalu dipromosikan oleh perusahaan efek. Hal ini dimaksudkan, selain mencari nasabah baru dan dana kelola sebagai business oriented juga alasan tren yang sedang marak. Tentunya, apapun alasan yang diutarakan sah-sah saja sepanjang tidak merugikan investor. Oleh karena itu, saat ini banyak perusahaan efek saling berlomba meluncurkan online trading dengan mengklaim keunggulan dari teknologi yang dipakai.

Suka tidak suka, fenomena pertumbuhan online trading di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga. Terlebih jika dibandingkan dengan negara maju. Data BEI menyebutkan, baru 81 anggota bursa yang memiliki fasilitas online trading atau sekitar 70% dari total anggota bursa saat ini 115 AB. Ironisnya, nilai transaksi melalui online trading saat ini banyak dimanfaatkan investor asing sebanyak 58% dan sisanya 42% investor domestik.

Menurut pejabat BEI, ketertinggalan bisnis online trading di dalam negeri masih bisa dimaklumi lantaran pemahaman masyarakat soal investasi saham masih rendah. Hal ini terlihat jelas dengan jumlah investor domestik di pasar modal baru mencapai 400 ribu orang dari populasi penduduk Indonesia sebanyak 230 juta jiwa. Banyak sebagian pelaku pasar modal menilai, minimnya investor domestik sebenarnya menjadi tantangan bagi industri pasar modal untuk terus menumbuh kembangkan investor domestik ketimbang investor asing.

Di sisi lain, kondisi ini menjadi pasar yang menjanjikan bagi manajer investor asing untuk terus mengukuhkan dominasinya di pasar modal dalam negeri. Yang jelas, beribu macam alasan, mengapa investor asing tertarik berinvestasi di Indonesia. Salah satunya, fundamental ekonomi yang positif, kondisi politik keamanan yang stabil, return yang tinggi dan terakhir soal pasar yang luas.

Memang, sejatinya investor pasar modal lokal harus bisa menguasai pasarnya sendiri tanpa lagi dikuasai asing. Hal ini dimaksudkan, bukan berarti anti atau alergi mendengar kata asing tetapi menjaga kestabilan indeks dan industri pasar modal dari berbagai sentimen global. Karena bagaimanapun juga, mudahnya indeks BEI terus terkoreksi lebih banyak dipengaruhi sentimen negatif global yang kemudian di picu aksi jual investor asing dan ujungnya membuat panik investor lokal yang juga ikut-ikutan jual saham.

Maka dari itu, kehadiran bisnis online trading tentunya tidak hanya bicara teknologi dan tren sebagai sikap latah, tetapi bagaimana memberikan manfaat besar untuk memberikan edukasi kepada masyarakat akan investasi di pasar modal sebagai tujuan utama.

BERITA TERKAIT

KPPU Masih Selidiki Bisnis Taksi "Online"

KPPU Masih Selidiki Bisnis Taksi "Online" NERACA Medan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU terus melakukan penyelidikan atas dugaaan…

AMRT Suntik Modal Anak Usaha Rp 14,99 Miliar - Perkuat Bisnis Online

NERACA Jakarta – Memanfaatkan pesatnya tren pertumbuhan digital, banyak perusahaan memasarkan produk penjualannya lewat layanan berbasis digital atau online. Peluang…

Regulator Terus Dorong Usaha Mikro Terapkan Usaha E-Commerce - Niaga Online

NERACA Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut membangun dan menggerakkan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Bencana dan Infrastruktur

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Bencana beruntun yang terjadi di republik ini menyisakan…

Reksadana Syariah, Siapa Mau?

Oleh : Agus Yulaiwan  Pemerhati Ekoomi Syariah Bisnis syariah sebenarnya ragam jenisnya, namun  di Indonesia sejauh ini dikenal hanya lembaga…

Polemik Harga BBM

  Oleh:  Sih Pambudhi Peneliti Intern Indef Pembatalan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium kurang dari satu…