Posisi Sejajar, Pemerintah Tak Kuasa Tekan Asing

NERACA

Jakarta - Keluhan Bank Indonesia (BI) akibat penolakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) memarkirkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sektor Minyak dan Gas (Migas) ke perbankan dalam negeri, menurut pengamat migas Kurtubi karena posisi pemerintah sejajar dengan kontraktor migas. Maka tak heran, posisi pemerintah begitu lemah di mata investor asing.

“Kalau dilihat dari UU Migas maka masih menganut pola hubungan business to government (B to G) atau investor atau perusahaan minyak dengan pemerintah. Dalam UU Migas ini pemerintah menugaskan Satuan Kerja (SK) Migas untuk melaksanakan penandatangan kontrak dengan investor,” ujar Kurtubi kepada Neraca, Selasa (15/1).

Hal ini, lanjut dia, yang menyebabkan posisi pemerintah menjadi sejajar dengan kontraktor migas. Bukan itu saja. Pemerintah telah menjadi bagian dari para pihak yang berkontrak serta men-downgrade sendiri posisinya agar sejajar dengan mereka. “Ini yang membuat posisi pemerintah sangat lemah," tegas Kurtubi.

Oleh karena itu, adalah hal yang wajar apabila pemerintah tidak bisa mengeksekusi kebijakan ataupun regulasi atas pengelolaan kekayaan migas lantaran kontraktor tidak setuju. Selain itu perlu dilihat kembali lagi, apakah aturan tersebut sudah ada payung hukumnya atau tidak.

Hal ini bertujuan agar seluruh perusahaan migas yang beroperasi di Indonesia bisa dipaksa untuk menyimpan hasil DHE mereka di perbankan nasional. Informasi saja, Gubernur BI Darmin Nasution, mengatakan DHE yang sudah masuk ke perbankan dalam negeri sebesar 85%. Dan sayangnya, itu tidak termasuk dari sektor migas.

“Karena mereka (kontraktor migas) merasa bertentangan dengan PBI DHE yang kita buat. Sikap mereka (terhadap PBI) keras. Ketika saya tanya pasal mana yang bertentangan dengan kontrak, mereka tidak mau menyebutkan tapi itu selalu digunakan sebagai argumen mereka,” ujarnya, kemarin.

Meski begitu, Darmin menegaskan tidak akan mundur dalam usahanya memaksa para kontraktor migas yang mayoritas perusahaan asing ini memasukkan atau mencatatkan dana DHE mereka ke perbankan dalam negeri. Ilustrasi mudahnya, minyak yang diambil kontraktor migas berasal dari Tanah Indonesia. Kalau hanya disuruh melapor saja agar tercatat tidak mau, maka patut dipertanyakan maksudnya.

Miliki hak penuh

Di tempat terpisah, Vice President Government and Public Affairs PT Chevron Pacific Indonesia, Yanto Sianipar mengatakan, sejauh ini kontrak migas yang dibuat antara Chevron dengan pemerintah memberikan hak penuh kepada perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu sebagai kontraktor untuk mentransaksikan maupun menyimpan DHE. Karena itu, adalah wajar apabila Chevron menyimpan hasil DHE mereka di bank luar negeri.

“Ya, karena kontrak yang kita pegang memberikan hak penuh untuk menyimpan (DHE) di luar negeri,” kata Yanto kepada Neraca, Senin. Menurut dia, lebih dari 50% dari hasil nonekspor, operasional dan kontrak, beroperasi di dalam negeri. Namun Yanto mengklaim, meskipun bukan di bank BUMN, sebagian biaya yang digunakan untuk operasional perusahaan pun terdapat di bank-bank nasional.

“Bagaimana pun perlu keseimbangan. Biaya operasi kita hampir 90% ada di dalam negeri,” terang dia. Namun demikian, pihaknya tidak menolak jika DHE Migas nanti ditempatkan seluruhnya di bank lokal. Akan tetapi, jika disuruh memilih, Chevron lebih prefer untuk melakukannya di luar negeri dengan pertimbangan secara keseluruhan sistem dan transaksi yang telah berjalan memang di sana. [iwan/lia]

BERITA TERKAIT

Lahan Pertanian Beririgasi Teknis Tak Terdampak Kekeringan

  NERACA Jakarta – Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi mengatakan lahan pertanian…

DPR Minta Tak Ada Lagi Calon Tunggal Pimpinan BI - JAGA INDEPENDENSI

NERACA Jakarta - Komisi XI DPR-RI akan mengirimkan surat kepada pimpinan DPR-RI untuk meminta pemerintah tidak lagi mengajukan calon tunggal…

PEMERINTAH MASIH CARI FORMULA PENARIKAN PAJAK - JK: Pajak E-Commerce Jadi Masalah Dunia

Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, penarikan pajak untuk perusahaan digital seperti Google, Microsoft, Facebook, dan Amazon menjadi masalah dunia. Masalah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Adira Insurance Sambut Rencana Pemerintah Memberlakukan LCC

    NERACA   Jakarta – Keputusan pemerintah untuk menurunkan harga tiket pesawat penerbangan berbiaya murah atau Low Cos Carrier…

Tiga Besar Dompet Digital Paling Sering Digunakan

      NERACA   Jakarta - Saat ini popularitas pembayaran digital dengan uang elektronik semakin meningkat. Masyarakat pun memiliki…

Himbara Bakal Perluas Layanan Pembayaran Pajak

    NERACA   Jakarta - Bank Milik Negara (Himbara) akan memperluas kanal di masing-masing perbankan untuk digunakan masyarakat dalam…