Perusahaan Sekuritas Kebanjiran Penawaran Obligasi - Bersaing Pasang Target

NERACA

Jakarta- Kebijakan pemerintah untuk menekan inflasi di kisaran 4,5-5,5%, dan BI rate sebesar 5,75 % dinilai akan berdampak positif terhadap perkembangan investasi di pasar modal. Salah satunya yaitu dalam bentuk penerbitan obligasi. Karena itu beberapa perusahaan sekuritas optimistis penawaran obligasi akan marak di tahun 2013 seiring dengan adanya sejumlah obligasi yang jatuh tempo dan dalam rangka refinancing.

PT OCBC Sekuritas Indonesia menargetkan pendapatan sebesar Rp5 triliun dari penjaminan emisi obligasi. “Target penjaminan emisi sekitar Rp5 triliun dari 6-8 obligasi,”kata Direktur Utama PT OCBC Sekuritas, David Partono di Jakarta, Selasa (15/1).

Dari target enam hingga delapan emisi obligasi tersebut, menurut David, dua penawaran obligasi berasal dari perusahaan yang bergerak di bisnis multifinance, satu sampai dua obligasi merupakan di sektor perbankan, dan sekitar empat obligasi berasal dari perusahaan yang bergerak di sektor riil.

David mengatakan, selama ini pihaknya lebih fokus pada penawaran obligasi dibandingkan saham. Meskipun penjaminan emisi obligasi pada tahun 2012 tercatat lebih kecil dibanding tahun sebelumnya, pihaknya optimistis penawaran penerbitan obligasi akan lebih baik di tahun 2013.

Tahun Politik

Hal tersebut menurut dia didisarkan pada minat perseroan atau emiten yang mempertimbangkan akan mengeluarkan obligasi di tahun ini 2013. Adapun faktor lainnya, lanjut dia, diperkirakan karena adanya tekanan politik dalam rangka pemilihan umum yang akan diadakan pada 2014 dan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih baik. “Karena pada 2014 sudah pemilu dan fokus akan dibuyar sehingga ada percepatan emiten ataupun perseroan untuk menerbitkan obligasi. Saya kira penerbitan obligasi akan lebih baik,” jelasnya.

Karena itu, David menilai, dalam kondisi pasar yang volatile, penerbitan obligasi cukup menarik. Sementara untuk target transaksi harian saham dapat naik 20% pada 2013 dari rata-rata transaksi harian saham sekitar Rp20 miliar-Rp25 miliar.

Selain PT OCBC Sekuritas, PT Indo Premier Securities secara optimistis juga menargetkan pendapatan sebesar Rp 11 triliun dari penjaminan emisi di tahun 2013. Sebagian besar penjaminan emisi tersebut merupakan penerbitan obligasi. “Saat ini kita sudah dapat mandat menangani penjaminan emisi untuk 5 obligasi dan 3 IPO dan sudah diproses,“ kata Direktur PT Indo Premiere Securities Rayendra Tobing

Rayendra menyebutkan, total nilai untuk penjaminan emisi 5 obligasi tersebut sekitar Rp5 triliun, sedang penjaminan emisi untuk pencatatan saham ditaksir mencapai Rp2 triliun. Pada kuartal pertama tahun 2013, perusahaan akan menangani 3 perusahaan untuk penerbitan obligasi.

Menurut Rayendra, penawaran penerbitan obligasi yang ditangani berasal dari perusahaan yang bergerak di sektor keuangan. Sementara untuk penjaminan emisi IPO yang akan ditangani bergerak di sektor riil.

Dia menambahkan, sepanjang 2012, pihaknya mencatat ada sekitar 29 -30 efek, yaitu berupa obligasi, MTN dan saham dengan total nilai sebesar Rp 10,4 triliun. “Mayoritasnya dari obligasi sebesar Rp 9,7 triliun,” ujarnya.

Return Lebih Baik

Sementara Analis Obligasi dari Trimegah Securities, Soni Pande mengatakan, pasar obligasi 2013 akan cukup menggembirakan. Dibandingkan Filipina yang hanya sebesar 9%, dari sisi margin return obligasi Indonesia masih lebih baik, yaitu sekitar 11%.

Di tahun 2013, menurut dia, akan ada tambahan supply sekitar Rp50-60 triliun dalam rangka refinancing. Hal tersebut tentu akan mendorong pertumbuhan volume transaksi. “Volume transaksi obligasi di tahun 2012 sebesar Rp500 miliar per hari, di tahun 2012 sekitar Rp620 miliar per hari. Untuk tahun ini masih positif mengalami pertumbuhan.” jelasnya.

Penambahan supply tersebut didorong adanya sejumlah obligasi yang jatuh tempo. “Rp27 triliun bond jatuh tempo, dan sebesar Rp33 triliun untuk obligasi korporasi yang jatuh tempo.” ujarnya.

Selama kurun waktu empat tahun terakhir, pihaknya mencatat komposisi kepemilikan investor domestik mengalami peningkatan, yaitu dari total penerbitan obligasi pemerintah senilai Rp270 triliun, dari sebesar 33% saat ini domestik menjadi sekitar 40%. Dia menambahkan, prospek penerbitan obligasi juga dapat dilihat dari likuiditas yang semakin menggembirakan. “Dari tahun ke tahun volume SUN (Surat Utang Negara, red) meningkat, volume rata-rata harian sekitar Rp6 triliun per hari di tahun 2011, naik menjadi Rp7 triliun per hari di tahun 2012.” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Sejak Revisi PMK, Delapan Perusahaan Terima Tax Holiday

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sebanyak delapan perusahaan atau wajib pajak sudah menerima…

Mandiri Kaji Terbitkan Obligasi US$ 1 Miliar

Perkuat modal guna memacu pertumbuhan penyaluran kredit, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berencana menerbitkan instrumen utang senilai US$ 1 miliar.…

Acset Optimis Target Kontrak Baru Tercapai - Realisasi Kontrak Baru 8,35%

NERACA Jakarta – Di triwulan tiga 2018, PT Acset Indonusa Tbk (ACST) berhasil mencatatkan kontrak baru sebesar Rp 835 miliar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Verena Multifinance Patok Rights Issue Rp140

PT Verena Multifinance Tbk (VRNA) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right…

Mandiri Kaji Terbitkan Obligasi US$ 1 Miliar

Perkuat modal guna memacu pertumbuhan penyaluran kredit, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berencana menerbitkan instrumen utang senilai US$ 1 miliar.…

Realisasi Kontrak Baru PTPP Capai 66,22%

NERACA Jakarta - Sampai dengan September 2018, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berhasil mengantongi total kontrak baru sebesar Rp32,45 triliun.…