Suku Bunga Kredit UMKM NISP 10,5%

NERACA

Jakarta – PT Bank OCBC NISP Tbk masih memberikan suku bunga kredit UMKM yang masih tinggi yakni 10,5%. Tapi angka tersebut diyakininya masih di bawah tingkat suku bunga pasar. “Suku bunga pinjaman UMKM sekitar 10,5%. Ini cukup konsisten, dan agak di bawah pasar juga ya. Dengan marjin seperti itu masih cukup bersaing, tapi untuk turun masih agak sulit,” tutur Parwati Surjaudjaja, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk, ketika ditemui di Jakarta, Selasa (15/1).

UMKM memang masih menjadi salah satu core bagi penyaluran kredit Bank OCBC NISP. “Keseharian kita memang di (kredit) UMKM dan ritel, porsinya sampai di atas 50%, sedangkan sisanya untuk (kredit) korporasi dan konsumer,” katanya.

Untuk ini, bank tersebut mematok pertumbuhan kredit sebesar 20-30% pada tahun ini, mencoba mengulang pertumbuhan kredit tahun lalu yang berada di kisaran 25-30% dengan tetap fokus pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM).

Sementara, untuk penyalurannya, perseroan berusaha memahami kebutuhan di setiap segmen, mengingat selain usaha kecil dan menengah, ada juga segmen mikro yang memang porsinya belum besar. “Karena penyaluran utamanya di sini, maka kita harus bisa mengerti kebutuhan dan proses segmen (UMKM) ini masing-masingnya,” ujarnya.

Secara sektor, Bank OCBC NISP lebih banyak menyalurkan kredit ke sektor manufaktur atau industri, perdagangan dan jasa. “Kita (penyaluran kredit) macam-macam, kita dominan itu di (industri) tekstil. Di situ (penyalurannya) hampir 10%, kemudian ada makanan juga cukup besar, dan consumer goods,” ucapnya.

Selama 2012 sendiri, menurutnya, pertumbuhan kredit sesuai dengan target yang dicanangkan. “Untuk tahun ini target pertumbuhan 20-30% baik untuk loan (kredit) dan DPK (dana pihak ketiga),” imbuh Direktur Keuangan Bank OCBC NISP Hartati.

Per 30 September 2012, perseroan mencatat kucuran kredit sebesar Rp50,51 triliun, tumbuh 40% dalam setahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp36 triliun. Sementara DPK tercatat sebesar Rp53,6 triliun, dengan porsi dana mahal (deposito) dan dana murah (giro dan tabungan) seimbang sekitar 50:50. Sehingga Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 93,9%. Sedangkan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada pada angka 16,7% dan Net Interest Margin (NIM) di angka 4,2%.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) minggu lalu pernah menyebutkan bahwa likuiditas perbankan nasional masih bagus di tahun 2013 ini. Bisa jadi mereka bahkan memiliki kelebihan dana likuiditas, dan ini masih cukup untuk mencapai pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 22%-24% sampai akhir tahun ini.

“Likuiditas perbankan kita itu sekarang sekitar Rp1000 triliun, sementara dia butuh untuk (pertumbuhan) kredit selama setahun ini adalah sekitar Rp550-Rp600 triliun. Jadi dia (perbankan) masih punya kelebihan uang,” ungkap Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Perbankan.

Jadi dengan pernyataannya tersebut, Halim juga ingin menegaskan bahwa perbankan nasional itu tidak mengalami kekurangan dana apabila dilihat secara makro. “Per bank itu beda-beda caranya untuk menambah modal, tapi secara nasional likuiditas cukup. Soal apakah itu dana murah atau mahal adalah tergantung banknya (masing-masing),” imbuhnya.

Halim juga menjelaskan bahwa apabila perbankan mampu memberikan kredit dengan pertumbuhan antara 22%-24% setahun berarti itu adalah hal yang bagus dalam mempertahankan momentum perekonomian Indonesia. Karena BI memang memprediksikan pertumbuhan ekonomi negara kita di tahun ini yaitu antara 6,2%-6,8%.

Halim menyampaikan pula bahwa dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) sementara untuk tahun ini yang sudah disampaikan kepada BI sejak akhir tahun lalu, didapatkan data jika perbankan nasional ingin mencapai pertumbuhan kredit secara total sebesar 23,1%, dengan komposisi rupiah sebanyak 23,8% dan valas sebanyak 19%. Sementara untuk dana pihak ketiga (DPK) ditargetkan tumbuh mencapai 18,3% sampai akhir tahun ini, dengan komposisi rupiah sebesar 18,7% dan valas sebesar 16%.

Kemudian, jika melihat dari jenis banknya maka komposisi target pertumbuhan penyaluran kredit pada tahun ini yakni bank persero sebesar 24,4%, bank swasta sebesar 21,3%, BPD sebesar 25,4%, bank campuran sebesar 26%, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) sebesar 15,7%. Jika dilihat dari segi sektornya, maka komposisinya yaitu sektor transportasi sebesar 27%, sektor makanan-minuman-hotel sebesar 25%, sektor perdagangan dan eceran sebesar 24%, serta konstruksi sebesar 24,3%.

Halim juga menerangkan bahwa dengan adanya aturan LTV (loan to deposit ratio) dan uang muka (down payment/DP)yang dimulai pada tahun lalu memang menimbulkan pengaruh yang cukup signifikan dalam menurunnya jumlah kredit konsumsi.

Tapi, tutur dia, kalau kredit konsumsi di suatu sektor, misalnya kredit pemilikan rumah (KPR) memang masih bisa tumbuh dengan cukup tinggi, khususnya tipe 70 ke bawah yang memang tidak terkena aturan tersebut.

“KPR masih tumbuh 23,1% pada tahun lalu, dengan nominal Rp26,1 triliun. Tapi yang terpengaruh (aturan LTV dan DP) adalah yang tipe 70 ke atas atau rumah mewah. Pertumbuhan KPR yang tipe 70 ke atas, di November 2012, sebesar 38,5% (yoy), sedangkan di bulan sebelumnya (Oktober 2012) sebesar 39%,” tuturnya.

Sementara, untuk kredit kendaraan bermotor (KKB), dia bilang bahwa penurunan kreditnya bukan semata-mata disebabkan oleh aturan LTV dan DP tersebut.

“Namun juga karena pasarnya (kendaraan bermotor) sudah mulai jenuh. Misalnya di luar jawa karena ekspor menurun akibat harga komoditas yang turun. Tapi di tahun ini, kemungkinan ekspor membaik ada, jadi pendapatan di sentra-sentra barang ekspor pendapatannya akan naik (dan bisa membuat KKB naik kembali juga),” pungkasnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Sentimen Pemangkasan Suku Bunga - Transaksi Harian Bursa Sepekan Naik 15,30%

NERACA Jakarta - Sentimen pemangkasan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate  sebesar 0,25% menjadi 5,75% masih memberikan sentimen positif…

BI TURUNKAN SUKU BUNGA ACUAN

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) bersama Senior Deputi BI Mirza Adityaswara (kanan) mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG)…

INDUSTRI OTOMOTIF SAMBUT POSITIF PENURUNAN BUNGA - BI Prediksi Pertumbuhan Stagnan di Triwulan II

Jakarta-Kalangan industri otomotif menyambut positif penurunan suku bunga acuan. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia bisa berdampak pada penurunan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Tegaskan Penurunan Suku Bunga Kembali Terbuka

  NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo melontarkan sinyalemen kuat bahwa Bank Sentral bisa saja kembali menurunkan…

DPLK BRI Naik 40%

    NERACA   Jakarta - Dana kelolaan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI hingga Juni 2019 mencapai Rp12,03 triliun…

Banyak Lembaga Pembiayaan Kerjasama dengan Dukcapil, Perlindungan Data Dipertanyakan

  NERACA   Jakarta – Lembaga pembiayaan banyak yang bekerjasama dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri (Kemendag) lebih…