Amerika Bangun Pabrik Etanol Senilai US$2,5 Miliar

NERACA

Jakarta - Iklim investasi di Indonesia dan pertumbuhan ekonomi yang stabil menjadi alasan bagi investor asal Amerika Serikat dalam menanamkan modalnya di Indonesia. Maka dari itu, investor yang bergerak dalam bidang teknologi dan bahan baku khusus Celanese Corporation akan merealisasikan investasinya sebesar US$2,5 miliar untuk pembangunan pabrik etanol di Indonesia.

"Iklim investasi di Indonesia dan juga pertumbuhan ekonomi yang baik adalah alasan kami untuk membangun pabrik di Indonesia, bahkan pemerintah sangat bagus dalam menarik investasi," ujar Duta Besar AS untuk Indonesia, Sct Marciel di Jakarta, Selasa (15/1).

Menurut dia, perusahaan asal Amerika Serikat tersebut mempunyai teknologi yang bagus dalam menghasilkan etanol bahkan pihaknya mengakui mempunyai teknologi yang ramah lingkungan sehingga cocok dengan seruan pemerintah untuk menciptakan pertumbuhan industri yang ramah lingkungan.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, M.S Hidayat mengatakan, Celanese akan merealisasikan investasinya pada tahun ini dengan mendirikan pabrik etanol di Kalimantan. "Investasinya diperkirakan menyentuh US$2,5 miliar dan pemerintah akan memberikan insentif pengurangan pajak berupa tax holiday. Nantinya, lokasi pabrik terletak di kalimantan dan pembangunannya akan dimulai tahun ini," paparnya.

Sedangkan Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Panggah Susanto menambahkan, proyek ini merupakan tahapan gasifikasi batu bara yang mengolah etanol menjadi metanol dan sangat diperlukan untuk bahan bakar dan industri kimia. "Kami konsentrasi untuk campuran bahan bakar yang ramah lingkungan dan hal itu sejalan dengan program pemerintah terkait hilirisasi. Nantinya produsen asal Amerika Serikat akan menggandeng PT Pertamina (Persero) dan menghasilkan 1,1 juta ton etanol per tahun," tambahnya.

Sebelumnya, Chief Financial Offcer Celanese Corporation Steven M Sterin menjelaskan bahwa untuk membangun pabri etanol, pihaknya telah menggandeng PT Pertamina untuk bekerjasama. Hal itu untuk pengembangan proyek bahan bakar sintesis etanol dengan tenologi mutakhir yaitu melalui proses produksi etanol TCX miliknya. "Kerjasama dengan PT.Pertamina adalah untuk membangun empat pabrik etanol dari pengolahan batu bara," ucapnya.

Sterin mengungkapkan, satu pabrik memerlukan lebih dari 4 juta ton batu bara per tahun. Kapastitas satu pabrik bisa menghasilkan 1,1 juta ton etanol per tahun atau ekuivalen 1,3 miliar liter per tahun. Menurutnya, dalam nota kesepahaman ini, Celanese dan Pertamina akan bersama-sama menentukan pengaturan sistem pasokan dan mencari lokasi pabrik hingga strategi distribusi. "Kami akan mampu melayani sekitar tiga puluh juta dollar per barel. Ini sangat signifikan sekali untuk membangun kilang minyak," katanya.

Sementara itu, jika seluruh perizinan dapat diperoleh pabrik pertama kurang dari lebih 30 bulan atau dengan kata lain dapat beroperasi pada 2015 hingga 2016 mendatang, investasi satu pabrik akan menelan dana sekitar 1,5 hingga 2 miliar dollar Amerika Serikat.

Kebutuhan Etanol Tinggi

Peneliti Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Kimia-LIPI), Agus Haryono mengatakan, pada tahun 2025 pemenuhan kebutuhan energi Indonesia diharapkan 17 % nya berasal dari energi baru terbarukan. Salah satunya dengan memanfaatkan etanol sebagai alternatif, khususnya bioetanol berbasis lignoselulosa.

Penggunaan etanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan yaitu kandungan oksigen etanol tinggi (35%) sehingga menghasilkan bahan bakar yang bersih; kedua, hasil bersih ini ramah bagi lingkungan karena emisi gas karbon monoksida lebih rendah 19-25% dibanding BBM.

Energi terbarukan ini tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer; ketiga, daya hasil etanol lebih stabil. Angka oktan etanol tergolong tinggi sekitar 129 sehingga menghasilkan proses pembakaran yang stabil. Proses pembakaran dengan daya yang lebih baik ini akan mengurangi emisi gas karbon monoksida; keempat, campuran bioetanol 3% saja mampu menurunkan emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,3%.

Salah satu sumber biomasa lignoselulosa non pangan di Indonesia yang tersedia melimpah adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) atau Oil Palm Empty Fruit Bunch dan pelepah kelapa sawit. Luas perkebunan Indonesia sekitar 8,4 juta hektar yang menghasilkan 21,3 juta ton minyak sawit dengan potensi TKKS 20 juta ton keadaan basah atau 10 juta ton kering. Dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi sekitar 41-47 persen, maka satu ton TKKS berpotensi menghasilkan etanol sebanyak 150 liter dan bila dikalikan 10 juta ton tentu jumlahnya sangat besar.

Menteri Negara Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta menyampaikan, bahwa biomassa lignoselulosa adalah salah satu dari sumber daya terbarukan dengan potensi besar di Indonesia. "Namun, perkembangan bioethanol yang menggunakan sumber daya yang inedible harus memberikan kontribusi dalam usaha meningkatkan keberlangsungan lingkungan dan perubahan iklim di Indonesia,” jelasnya.

Menegristek juga menekankan perlunya komitmen dan dukungan dari semua aktor dalam inovasi dan masyarakat untuk mendorong adopsi hasil penelitian ke industri. Dengan produksi 10 L bioethanol 99.5% per hari, teknologi ini berpotensi untuk mendukung produksi bio-fuel di pasar. "Saya berharap program ini dapat berkontribusi dalam memecahkan permasalahan di Indonesia khususnya di bidang energi," tutupnya.

BERITA TERKAIT

Garap Proyek 35 Ribu MW - PLN Terbitkan Global Bond US$ 1,4 Miliar

NERACA Jakarta – Guna mendanai pengembangan dan operasional bisnis, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menerbitkan surat utang (global bond) pertama…

Jabar Berikan Rp200 Miliar Bantuan Keuangan Per Pemkab/Pemkot

Jabar Berikan Rp200 Miliar Bantuan Keuangan Per Pemkab/Pemkot   NERACA Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Emil…

MD Picture Sisakan IPO Rp 127,71 Miliar

NERACA Jakarta – Sejak mencatatkan sahamnya di pasar modal, PT MD Picture Tbk (FILM) terus pacu ekspansi bisnisnya dengan memproduksi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sektor Riil - Iklim Dunia Usaha Dijaga, Produsen Elektronika Tambah Kapasitas

NERACA Jakarta – Industri elektronika di dalam negeri semakin tumbuh dan berkembang. Geliat positif ini ditunjukkan adanya penambahan investasi dan…

Dunia Usaha - RUU Desain Industri Dorong Daya Saing dan Akomodir Teknologi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan daya saing industri di Indonesia agar mampu kompetitif baik di lingkup pasar…

Pemakai Dompet Digital Dominan Transaksi Retail

NERACA Jakarta – Snapcart, lembaga riset berbasis aplikasi, melakukan penelitian perilaku konsumen dalam bertransaksi dengan aplikasi pembayaran digital menunjukan mayoritas…