Garap Proyek di Luar Negeri, Waskita Utamakan Pekerja Indonesia - Peran dan Sinergi dengan Karyawan

NERACA

Jakarta – Keunggulan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dalam pengerjaan proyek konstruksi menjadi nilai jual bagi perseroan. Maka untuk pengembangan bisnis dan membuktikan dunia luar, perseroan terus membidik proyek konstruksi luar negeri dan salah satunya proyek yang tengah digarap di Dubai maupun di Riyadh.

Ekspansi perseroan ke luar negeri tidak hanya bicara bisnis semata, tetapi juga memberikan kesempatan dan ruang bagi para pekerja untuk dapat mengembangkan keahlian dan kemampuan di bidang yang lebih tinggi, khususnya para pekerja konstruksi.

Kata Direktur Utama PT Waskita Karya Tb, M. Chaliq, adanya pandangan bahwa tenaga kerja konstruksi Indonesia yang diragukan kemampuannya untuk bekerja di proyek konstruksi internasional ternyata tidak membuat PT. Waskita Karya melupakan para tenaga kerja konstruksi Indonesia, “Setiap proyek di luar negeri, perseroan akan memperbanyak jumlah pekerja lokal dari Indonesia, dibandingkan dengan pekerja luar negeri, “katanya.

Menurutnya, hal ini dilakukan karena PT Waskita Karya Tbk masih memiliki kepercayaan kepada kemampuan para pekerja Indonesia dalam konstruksi. Karakter pekerja Indonesia yang terampil dan teliti telah membawa mereka sendiri dalam pembangunan yang berskala internasional, sehingga tidak heran jika PT. Waskita Karya dan para pekerja lokal Indonesia yang tadinya sukses membangun proyek Abu DhabiFinancial CentredanKing Saud University Riyadh, kembali diminta untuk mengerjakan proyek di Riyadh yakni proyek King AbdullahFinancialDistrict.

Peduli Karyawan

Dia juga menambahkan, dibalik kesuksesan proyek yang telah dilakukan perseroan tidak bisa lepas dari dukungan para pekerja. Terlebih bagi proyek konstruksi, tentunya tidak dapat terlaksana tanpa adanya para pekerja bangunan. Di sinilah terdapat tantangan untuk setiap perusahaan konstruksi, bagaimana cara mereka memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya.

Kata M. Chaliq, di Indonesia telah banyak bermunculan perusahaan konstruksi baik perusahaanswasta maupun perusahaan milik pemerintah, baik asing maupun lokal. Namunsemakin banyak perusahaan yang muncul, semakinbanyakpula jumlahperusahaan konstruksi yang belum“concern”terhadap pentingnya kehadiran para pekerja mereka, “Kesejahteraan para pekerja tidak hanya dilihat dengan apakah para pekerja telah diberikan jaminan keselamatan kerja,but beyond that,”ujarnya.

Menurutnya, memang tidak dipungkiri, jaminan keselamatan seperti Jamsostek penting untuk diberikan, apalagi oleh perusahaan konstruksi yang rawan kecelakaan. Namun, seandainya sebuah perusahaan dapat memberikan lebih dari jaminan keselamatan, alangkah lebih bagus dan terjaminnya hidup para pekerja tersebut.

Dia menuturkan, dari jumlah 6 juta pekerja konstruksi di Indonesia ternyata hanya 50% dari jumlah tersebut yang sudah mendapatkan jaminan sosial dengan didaftarkannya mereka ke Jamsostek, padahal jumlah perusahaan konstruksi semakin meningkat setiap tahunnya.

Saat ini ada sekitar 66.752 perusahaan konstruksi anggota Gapensi. Dari jumlah tersebutternyatahanya terdapat 1% yang berskala besar, 9%berskala menengah dan sisanyatersebut merupakanperusahaan– perusahaan yang berskala kecil yang sama sekali belum memberi perlindungan kepada para pekerjanya, atau menerapkanSistem Manajemen Keselamatan Kesehatan Kerja (SMK-3).

Dari sekian banyak perusahaan konstruksi di Indonesia, lanjut M.Chaliq, PT. Waskita Karya merupakan salah satu perusahaan milik negara yangmempunyai skala yang besar dengan proyek–proyeknya yang menjangkau dari Sabang hingga Merauke, bahkan kualitasnya sudah di percaya di mancannegara dengan mengerjakan proyek di luar negeriseperti di Dubai, Abu Dhabi dan Riyadh.

Maka dengan keadaan yang telah stabil ini,Waskita sudah mempunyai kesadaran untuk memperhatikan kesejahteraan para pekerjanya. Dia menambahbahkan, jika sebuah perusahaanmenunjukkan keadaan yang sudahberkembang dan cenderung stabil, makatak dipungkirilagiperusahaan akan menempatkan kebutuhan pekerjanya pada posisi yang tinggi karena perusahaan meyakini pekerja adalah penggerak utamadalam bisnis.

Daya Saing

Tentunya, perusahaan semacam inilah yang nantinya akan memiliki daya saing terhadap kompetitornya. Perhatian yang diberikan oleh perusahaan kepada para pekerja khususnya dalam perusahaan konstruksi akan memunculkan nilai lebih perusahaan.

Begitu pula halnya dengan PT. Waskita Karya,dari enam puluh ribuan jumlah perusahaan konstruksi, perseroan merupakan perusahaan yang memberikan perlindungan dengan memberikan jaminan sosial, namun lebih dari itu perusahaan juga memberikan beberapa kenyamanan bagi para pekerjanya, “Seiring dengan berkembang pesatnya bisnis perusahaan, kita justru semakin mengedepankan kesejahteraan para pekerjanya, “ujar M.Chaliq.

Proyek – proyek besar yang sedang dalam proses konstruksi oleh PT. Waskita Karya, beberapa diantaranya adalah tol Nusa Dua Bali, beberapa bandara berstandar Internasional seperti Kualanamu Medan dan Juanda Surabaya. Kemudian terdapat juga proyek pembangunan hotel di Bali seperti Sahid Beach dan Inna Putri Bali.

Keselamatan Kerja

Disamping memperhatikan kesejahteraan pekerjanya, PT Waskita Karya Tbk juga tetap memperhatikan dan menjamin kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja, terlebih untuk perusahaan konstruksi. Dalam bidang konstruksi, hal ini menjadi masalah yang kompleks, oleh karena itu perlu kesadaran yang tinggi dari pihak perusahaan untuk mencegah dan mengurangi bahkan menihilkan resiko kecelakaan kerja(zero accident).

Keseriusan perseroan memperhatikan keselamatan kerja karyawannya, berbuah hasil dengan mendapatkan sertifikasi ISO 2001:2000 sejak tahun 1995. Kemudian pada tahun 2005, perusahaan yang digandrungi banyak proyek hingga saat ini telah berhasil mengakuisisihealth and safety certification(OHSAS 18001), ketika banyak perusahaan konstruksi yang masih belum sadar betapa pentingnya kesehatan dan keselamatan para pekerjanya pada saat melakukan pembangunan proyek konstruksi yang cenderung riskan dan berbahaya.

Asal tahu saja, jaminan akan keselamatan dan kesehatan merupakan dasar kebutuhan dari para tenaga kerja konstruksi, namun setiap perusahaan harus juga memperhatikan kebutuhan psikologis dan kenyamanan dari para pekerja. (bani)

BERITA TERKAIT

Pasar Industri Mainan Indonesia Yang Menggoda

    NERACA   Jakarta - Pasar mainan Indonesia yang terbilang besar, maka Indonesia menjadi pasar yang potensial bagi industri…

Rekonsiliasi Politik, Rekonsiliasi Ekonomi untuk Indonesia

Oleh: Ir. Yahya Agung Kuntadi MM, Institute of Research and Community LPPM UGM Belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia, suatu…

Peran Koperasi dan Otda

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi., Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tema Hari Koperasi ke-72 kali ini yaitu ‘Reformasi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

Targetkan Pembiayaan Rp 1 Triliun - Astra Finacial Tawarkan Promo Bunga 0%

NERACA Jakarta – Proyeksi pasar otomotif dalam negeri yang masih lesu, menjadi tantangan bagi pelaku industri otomotif untuk terus menggenjot…

Perkenalkan Fortofolio Bisnis - Astra Tampil di 1st Pacific Expo Selandia Baru

NERACA Jakarta – Menunjukkan eksistensinya di dunia internasional, PT Astra Internasional Tbk (ASII) menjadi satu dari lebih dari 100 perusahaan…