Perusahaan Sasar CSR Tanggap Bencana - Banyak Bencana Muncul

Momen yang tepat bagi korporasi untuk melaksanakanprogram tangung jawab sosial dengan memberi bantuan untuk korban bencana, tentunya itu dapat dilanjutkan pada programcommunity development(CD) seperti pada aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan infrastructure publik.

NERACA

Tidak lama lembaran baru jalan kehidupan manusia dengan sejuta harapan dibuka, awal 2013 diwarnai dengan kisah sedih yang sering merundung bangsa ini, yakni bencana alam. Tidak mengenakkan memang, apapun bentuknya bencana alam memang tidak diinginkan. Belum lama ini, bencana alam akibat cuaca ekstrem yang diprediksi akan terus mengepung Indonesia hingga Maret mendatang sudah menuai akibat.

Kerugian yang disebabkan dari perkara yang cukup mengelus dada itu pun tidak bisa dikatakan kecil.Seperti bencana banjir yang terjadi di wilayah Lebak misalnya. Diprediksikan kerugian akibat banjir yang menerjang wilayah Lebak ini mencapai Rp 23 miliar. Musibah banjir dan tanah longsor menyebabkan infrastrutur jalan rusak, beberapa jembatan putus, sekolah terendam dan rusak, serta 6.412 rumah terendam. belum lagi di daerah rawan bencana lainnya.

Banyaknya kejadian bencana alam di Indonesia harusnya mengetuk kepekaan sosial untuk berbagi kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban. Tidak hanya sebagai pribadi manusia akan tetapi juga melalui perusahaan atau organisasi. Dengan terbatasnya kemampuan pemerintah, bencana alam merupakan kejadian di mana tangung jawab sosial perusaaan dapat ditunjukkan.

Terkait hal itu, kepada Neraca, Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ibnu Khajar menuturkan bahwa peran CSR sangat strategis, dimana perusahaan memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan dalam skala massive, baik perusahaan yang konsern di wilayah atau lingkungan operasional mereka yang juga terkena dampak bencana. Juga perusahaan yang memiliki konsumen masyarakat luas, yang tentunya dapat memberikan bantuan tidak hanya di wilayah operasional atau area project mereka.

“Tentu sangat ironis kalau ada perusahaan yang berdiri di suatu komunitas kemudian menutup mata dari korban bencana banjir yang nyata-nyata terlihat oleh pandangan manajemen perusahaan dan mata publik,” Ujar Ibnu kepada Neraca (14/1).

Ibnu mengatakan bahwa sudah saatnya perusahaan memiliki program Corporate Social Responsibility (CSR) yang sifatnya long term dan berkeanjutan. Seperti program karitatif yang dilakukan dengan memberikan bantuan untuk korban bencana (rescue,relief,medic,and healing), yang tentunya dapat dilanjutkan pada program community development (CD) seperti pada aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan infrastructure publik.

Selain itu, lanjut dia, perusahaan dapat bekerjasama dengan lembaga yang konsern dalam hal ini seperti ACT, dan lembaga lainnya agar setiap program yang digulirkan bisa optimum memberikan manfaat pada masyarakat menuju kemandirian. Seperti yang dilakukan oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Perusahaan Gas Negara (PGN) yang belum lama ini telah memberikan bantuan di 6 desa, di beberapa kecamatan di wilayah sepanjang luapan sungai ciujung serang dalam bentuk makanan, selimut, obat-obatan dan tim medis, serta peralatan rescue seperti tenda peleton dan perahu karet.

Selain PGN, beberapa korporate lainnya juga telah menghubungi ACT untuk ikut menyalurkan bantuan kepada korban bencana melalui ACT. Seperti, Unilever, Danone, Bank BTN, HM Sampoerna, danamon peduli, dan beberapa korporate lain yang tentu ingin ikut berpartisipasi menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk korban banjir bersama ACT di wilayah banten, bahkan banjir atau bencana di wilayah lainnya seperi banjir bandung, banjir di sulawesi, sumatera, aceh, puting beliung di jogjakarta dan lain-lain.

Kurang Lincah

Beberapa perusahaan memang sudah mulai mememiliki program tanggap bencana sebagai salah satu pilar programnya yang menjadi bagian dari turunan issue makro tentang Climates Change. Akan tetapi pada tataran implementasi, beberapa perusahaan masih terkendala dengan jumlah dan kapasitas Sumber Daya Manusia yang menangani program tersebut.

Menurut Ibnu, sebagian perusahaan masih menempatkan program CSR menjadi side job dibawah corporte secretary, atau fungsi HRD, atau Corporate Communication sehingga aktivitasnya terkesan kurang "lincah". Beberapa ada yang sudah mulai masuk di ranah edukasi untuk Disaster Risk Reduction (DRR) sebagaimana pada tahun 2012 ACT bersama PT.HM Sampoerna melakukan program Disaster Preparedness Training For Community di 10 kota se-Indonesia untuk mengajarkan Contingency Action Plan utk 120 orang disetiap wilayah (total 1200) wakil dari lebih dari 10 lembaga penanggulangan bencana di tiap kota.

“Akan tetapi kalau dilihat pada perspektif cepat tanggap, agaknya ini yang harus terus di tingkatkan karena masih memerlukan stimulan dari berbagai pihak agar perusahaan lebih mampu melakukan cepat tanggap terhadap bencana,” imbuhnya.

BERITA TERKAIT

Sampai Desember, Aset PT. WOM Finance Sukabumi Capai Rp83 Miliar - PT. WOM Finance Salurkan CSR ke Panti Asuhan Talitakum Sukabumi

Sampai Desember, Aset PT. WOM Finance Sukabumi Capai Rp83 Miliar PT. WOM Finance Salurkan CSR ke Panti Asuhan Talitakum Sukabumi…

Arsitektur Tanggap Bencana

Beranjak dari kondisi yang tak terelakkan sebagai wilayah yang rawan bencana, maka masyarakat yang tinggal di dalamnya sudah semestinya memiliki…

Musim Hujan dan Bencana Hidrometeorologi

Di Indonesia hanya terdapat dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Musim hujan biasanya identik dengan bulan berakhiran "ber" seperti…

BERITA LAINNYA DI CSR

Konsisten Konservasi Hutan - APP Berhasil Tekan Dampak Kebakaran Hutan

Menyadari keberlanjutan bisnis usahanya tidak lepas dari menjaga kelestarian alam, Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas selalu konsisten melakukan…

Peduli Pendidikan Lewat UFE - PermataBank Berikan Advokasi Libatkan Komunitas

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, PermataBank melalui program corporate social responsibility (CSR) menggelar Unite for Education (UFE) sebagai upaya…

Sejahterakan Petani di Kalimantan Selatan - BNI Bantu Program Kegiatan Padat Karya Tunai

Membangun fundamental ekonomi dari sektor pertanian terus ditingkatkan pemerintah. Namun implementasi tersebut tidak bisa lepas dari keterlibatan peran swasta dan…