Prospek Pangan 2013

Masalah pangan kini menjadi krusial belakangan ini. Dari anomali harga gula yang meroket kendati sedang berlangsung musim giling, kelangkaan kedelai yang memicu pemogokan perajin tahu dan tempe, hingga kelangkaan daging sapi yang memicu lonjakan harga di pasaran di dalam negeri. .

Salah satu dampak negatif penyerahan masalah pangan ke mekanisme pasar dapat kita lihat dari kasus kelangkaan daging. Tingginya harga daging sapi di pasaran memicu tindakan moral hazard dari oknum tak bertanggung jawab. Belum lama ini masyarakat merasa waswas setelah ditemukan daging sapi dioplos daging celeng untuk pembuatan bakso di Jakarta.

Lantas prospek pangan 2013 bagaimana? Apakah gonjang-ganjing masalah pangan seperti tahun lalu masih mewarnai? Tampaknya lima komoditas utama pangan akan menjadi perhatian pemerintah yaitu beras, kedelai, gula, jagung, dan daging sapi. Pemilihan ini mengingat pemerintah menetapkan komoditas itu sebagai prioritas pencapaian swasembada.

Untuk beras, pemerintah menargetkan swasembada berkelanjutan. Menurut angka ramalan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi nasional 2012 diperkirakan naik 4,87% dibandingkan produksi tahun 2011 sehingga angkanya bisa 69 juta ton gabah kering giling (GKG).

Tahun ini pemerintah menargetkan produksi padi nasional 72,06 juta ton GKG. Melihat tantangan ke depan yang makin berat, terutama perubahan iklim yang dipicu pemanasan global dan kemasifan konversi lahan subur, target itu terasa ambisius. Karena dari pengalaman 3 tahun terakhir memperkuat kebenaran premis itu. Lihat tahun 2010 Indonesia mengimpor 1,8 juta ton beras, tahun 2011 sebesar 1,6 juta ton, dan tahun 2012 sebanyak 1 juta ton.

Berdasarkan pengalaman itu, gonjang-ganjing beras diperkirakan masih mewarnai tahun 2013, terlebih ini tahun pemanasan menjelang hajat politik 2014. Sepanjang tahun ini hingga pertengahan 2014 permintaan ’’beras politik’’ meningkat sehingga akan banyak menyedot beras di masyarakat.

Kedelai merupakan komoditas paling krusial di antara lima komoditas tersebut. Hal ini karena produksi kedelai nasional baru mencukupi 40% kebutuhan domestik. Tahun 2011 produksi kedelai nasional 870 ribu ton, tahun 2012 turun menjadi 779,7 ribu ton. Untuk itu, jauh-jauh hari pemerintah menurunkan target produksi kedelai 2013 dari 2,2 juta ton menjadi 1,5 juta ton.

Tiap tahun Indonesia mengimpor tidak kurang dari 2 juta ton kedelai. Permasalahan menjadi sangat krusial jika terjadi turbulensi harga di pasar internasional. Jadi tidak salah bila pengamat pertanian Toto Subandrio menilai, gejolak harga kedelai di pasar internasional dipicu bencana kekeringan terparah dalam setengah abad terakhir pada sentra produksi kedelai di Midwest, AS. Karena itu pada 2013 kemungkinan terjadi gejolak harga kedelai di dalam negeri masih sangat besar. Untuk itu kita perlu mewaspadainya secara dini. Semoga!

BERITA TERKAIT

Menyatukan Asa untuk Mewujudkan Swasembada Pangan

Oleh: Sumarwoto Indonesia pada tahun 1984 pernah menorehkan sejarah dengan terwujudnya swasembada pangan karena produksi beras kala itu mencapai kisaran…

DPK-UKM Bersama Satgas Pangan Sukabumi Sidak Pasar Cibadak

DPK-UKM Bersama Satgas Pangan Sukabumi Sidak Pasar Cibadak NERACA Sukabumi – Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menegah (DPK-UKM) Kabupaten Sukabumi,…

Pertumbuhan 2018 dan Prospek 2019

Oleh: Anthony Budiawan Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Belum lama berselang Badan Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan data…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Jaga Kepercayaan Investor

Kondisi nilai tukar rupiah memang berfluktuasi cukup dalam. Ini merupakan dampak ekonomi global yang utamanya berasal dari kondisi ekonomi AS.…

Utang Negara Masih Aman

Menyimak ancaman krisis global belakangan ini, ada baiknya kita melihat kondisi sejumlah negara lain yang kondisinya tidak lebih baik dari…

Jaga Fluktuasi Kurs Rupiah

Meski posisi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS belakangan ini mengalami sedikit penguatan, namun ancaman kemungkinan kurs rupiah melemah…