Lunturnya Budaya Malu

Kita trenyuh saat majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 4,5 tahun kepada Angelina Sondakh (Angie), anggota DPR yang terbukti melakukan korupsi. Selain mencederai rasa keadilan masyarakat Indonesia dan tidak memberikan efek jera bagi koruptor, keputusan hakim itu juga membuktikan juga penegak hukum tidak punya rasa malu. Mengapa?

Karena jaksa KPK sebelumnya menuntut Angie dihukum penjara 12 tahun dan membayar denda US$2,3 juta. Jelas, putusan hakim tersebut sama sekali tak menghiraukan perasaan nurani sebagai bangsa yang sadar hukum dan memiliki rasa malu sesuai etika bangsa di negeri yang berfalsafah Pancasila ini.

Vonis ringan Angie ini menunjukkan juga betapa para majelis hakim tidak memiliki sensitivitas akan bahaya korupsi. Padahal korupsi sudah menjadi penyakit kronis yang akut menggerogoti segala sendi di Indonesia. Fakta ini sekaligus mengubah paradigma perilaku yang mengubah status hakim yang seharusnya memperhatikan makna “Ketuhanan Yang Maha Esa” , namun kenyataannya jauh dari yang diharapkan dari sila pertama Pancasila tersebut.

Budaya malu memang sekarang menjadi barang langka di negeri ini. Lain halnya dengan Jepang, tersangka berani mengundurkan diri bahkan ada yang bunuh diri. Namun di sini justru dengan gagahnya tampil di media dan membantah semua dugaan yang diarahkan oleh penegak hukum, bahkan sudah jadi terdakwa pun tetap dibantah dan sering sekali kita melihat budaya membantah yang dilakukan para pejabat dan pelaku korupsi di pengadilan sudah terbukti, dan tetap masih duduk di kursi DPR.

Budaya ini sekarang cenderung melebur dan berganti nama menjadi budaya individual. Orang lain dipandang sebagai pesaing dan oleh karenanya tidak perlu ditolong. Orang lain diajak bekerja sama hanya ketika ada kepentingan dan akan bercerai lagi ketika kepentingannya sudah terpenuhi. Dunia hukum, politik dan bisnis cenderung mengarah pada budaya kongkalikong.

Rakyat miskin bukan subjek yang perlu ditolong oleh penguasa, tetapi justru sering dikorbankan untuk kepentingan sendiri atau kelompoknya. Hakim pun tak perlu memperhatikan rasa keadilan masyarakat, melainkan untuk mempertahankan jabatannya supaya tidak goyang jika menjatuhkan vonis terhadap koruptor tidak berat.

Selain terkait dengan makna Pancasila, budaya malu selalu selalu erat dengan pola komunikasi, kekeluargaan, dan agama. Apabila hilang salah satu diantaranya, hilang pula lainnya. Mungkin itulah realitas konkret proses perjalanan ilmu hukum yang dijalankan sebagian hakim di negeri ini.

Tidak hanya itu. Cara berbahasa kini disalahgunakan dan dipermainkan dalam dunia peradilan seenaknya. Sebutan “apel Malang, apel Washington” sengaja muncul hanya untuk mengelabui pihak lain di luar kalangan koruptor. Ini berarti bahasa yang seharusnya dipergunakan sebagai alat komunikasi, berubah menjadi alat manipulasi yang berkonotasi merugikan orang lain.

Dari sisi ekonomi, melunturnya rasa nasionalisme telah membuat perekonomian Indonesia jauh tertinggal dari negara tetangga. Lihat saja daya saing menarik investor masih berada di bawah peringkat Malaysia, Singapura, China dan Vietnam. Ini semua akibat sikap individual pejabat negara yang lebih menonjol ketimbang untuk kepentingan negara.

BERITA TERKAIT

BPJS-TK: Cegah Korupsi Dengan Bangun Budaya Antigratifikasi

BPJS-TK: Cegah Korupsi Dengan Bangun Budaya Antigratifikasi NERACA Kuta, Bali - Upaya mencegah korupsi dan gratifikasi dapat dimulai dengan membangun…

Walikota Sukabumi: Etika dan Budaya Hukum Memiliki Ukuran Yang Jelas

Walikota Sukabumi: Etika dan Budaya Hukum Memiliki Ukuran Yang Jelas NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi Achmad fahmi mengatakan, etika dan…

Pemkot Depok Gelar Festival Kampung Budaya 2018

Pemkot Depok Gelar Festival Kampung Budaya 2018 NERACA Depok - Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Depok, Jawa Barat…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Esensi Pembangunan Perkotaan

Di tengah hiruk pikuk arus urbanisasi dari daerah ke kota, urgensi pembangunan perkotaan dan esensi tata ruang menjadi mediator untuk…

Tarif Pesawat vs Disiplin Penumpang

Meningkatnya harga tiket pesawat low cost carrier (LCC) belakangan ini cukup membuat masyarakat terkejut. Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir industri…

Teror Pinjaman Online

Belakangan ini masyarakat resah di tengah maraknya tawaran pinjaman berbasis teknologi (online) akibat teror yang dilakukan pihak perusahaan Fintech. Teror…