Saham GBTO Melejit Tembus Rp 4.000 Per Saham - Suspensi Dicabut

NERACA

Jakarta – Sejak disuspensi 1,5 bulan lamanya, Senin awal pekan kemarin PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memperdagangkan saham PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO). Alhasil, pasca dicabutnya suspensi tersebut, saham perseroa langsung dibuka melejit menguat 100 poin atau naik 2,56% ke level Rp4.000 per saham.

Hal tersebut terpantau pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (14/1) kemarin. Saham GTBO sempat berada di level tertinggi Rp4.275 per saham dan level terendah Rp3.800 per saham. Frekuensi perdagangan saham GTBO mencapai 167 kali dengan volume perdagangan saham 483 senilai Rp983,16 juta pada pukul 9.20 WIB.

Asal tahu saja, manajemen BEI mencabut penghentian sementara perdagangan efek PT Garda Tujuh Buana Tbk pada perdagangan Senin (14/1) di pasar reguler dan pasar tunai. Pencabutan penghentian sementara perdagangan efek (suspensi) itu dilakukan sejak sesi pertama perdagangan efek.

Dijelaskan, otoritas bursa mencabut suspensi dengan mempertimbangkan penerbitan kembali laporan keuangan interim auditan per 30 September 2012 yang disampaikan ke bursa pada 8 Januari 2013. Pada revisi laporan keuangan kuartal ketiga 2012 ini, manajemen GTBO mencatatkan penjualan sebesar Rp804,40 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp164,84 miliar. Laba perseroan mencapai Rp956,47 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp86,89 miliar.

Kinerja Kuartal III

Sekedar informasi, perseroan menyampaikan laporan keuangan kuartal ketiga 2012 pada 19 Desember 2012 dengan mencatatkan pendapatan mencapai Rp1,51 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp96,32 miliar. Laba perseroan mencapai Rp956,47 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp86,89 miliar.

Adapun pada pendapatan tersebut, perseroan memasukkan penjualan batu bara dengan hak prioritas sebesar Rp711,15 miliar. Oleh karena itu, pendapatan perseroan melonjak tinggi. Hal itu pun dipertanyakan oleh otoritas bursa. Akhirnya perseroan merevisi laporan keuangannya dengan memisahkan penjualan batu bara dengan hak prioritas ke pendapatan lainnya pada revisi laporan keuangan yang disampaikan 8 Desember 2013.

Sekadar mengingatkan hiruk-pikuk yang terjadi pada saham perusahaan pertambangan batu bara ini terjadi ketika ada pesanan dari sebuah perusahaan di Timur Tengah. jumlahnya mencapai 10 juta ton untuk masa pengiriman selama tiga tahun hingga 2016.

Persoalan muncul karena harga yang dipasang kelewat murah, hanya US$ 25 per ton atau 37,5% lebih murah dari harga pasar. Cara transaksinya juga tergolong aneh, sebab pembeli dipersilahkan menggali sendiri batu bara yang dipesannya, di lahan yang dikuasai perseroan yang terletak di Pulau Bunyu, Kalimantan Timur.

Selain itu, pembeli juga diwajibkan membayar di muka. Perinciannya, sebesar US$75 juta mesti dibayar 30 Juni 2012, kemudian sisanya yang US$175 juta mesti dilunasi dua kali sebelum 30 Juni 2013 dan 30 Juni 2014. (bani)

BERITA TERKAIT

Bukaka Kuasai 25% Saham Poso Energy

PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) kembali menguasai 25% saham PT Poso Energy. Sebelumnya, Bukaka sempat melepas 4,49% sehingga kepemlikan…

Geliat Bisnis Investasi - PII Agresif Sertakan Saham di Anak Usaha IPC

NERACA Jakarta – PT Pelabuhan Indonesia Investama (PII) yang merupakan anak usaha PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC, sampai…

Awal Pekan Ini, BEI Suspensi Saham Renuka

NERACA Jakarta - Setelah masuk pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi kenaikan harga saham di luar kewajaran, awal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Indosat Lunasi Obligasi Rp 224,59 Miliar

Meskipun performance kinerja keuangan masih negatif, kondisi tersebut tidak membuat PT Indosat Tbk (ISAT) untuk nunggak bayar obligasi yang jatuh…