Pemerintah Tetap Optimistis Indonesia Tumbuh 6,6-6,8%

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, pertumbuhan ekonomi nasional pada 2013 akan berada pada kisaran 6,6-6,8% dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian global yang belum pulih akibat krisis di Eropa.

"Dampak dari krisis dunia yang kita yakini belum tuntas di Eropa dan AS akan berpengaruh pada Indonesia. Oleh karena itu kita jadikan range-nya 6,6-6,8%," ujarnya dalam rapat kerja pembahasan Outlook Perekonomian 2013 dengan DPR RI di Jakarta, Senin (14/1).

Agus menjelaskan, pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada tahun ini adalah konsumsi rumah tangga dan investasi, yang menggantikan penurunan sektor ekspor nasional akibat perlemahan ekonomi di beberapa negara mitra dagang seperti Eropa, AS, China dan India.

"Konsumsi domestik karena adanya faktor demografi serta kebijakan PTKP untuk membuat pendapatan meningkat. Sedangkan investasi sedang tumbuh hingga 27%n per September 2012. Ini membuat ekonomi Indonesia tumbuh dengan baik," katanya seperti dilansir Antara.

Agus juga memberikan kisaran untuk asumsi makro lainnya, antara lain nilai tukar Rp9.300-Rp9.700 per dolar AS, SPN 3 bulan 3,2 -5,0%, harga ICP minyak US$100-109 per barel dan lifting minyak 850.000-900.000 barel per hari.

Sementara itu, untuk laju inflasi diberikan kisaran 4,9-5,3% karena masih ada risiko peningkatan akibat tekanan eksternal yang tercermin pada imported inflation. Risiko peningkatan laju inflasi tersebut juga disebabkan oleh kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), rencana kenaikan harga gas, serta rencana kenaikan tarif tol dan tarif angkutan.

"Koordinasi kebijakan dengan Bank Indonesia akan terus ditingkatkan untuk menyinergikan kebijakan fiskal, moneter dan sektor riil guna menjaga inflasi berada pada rentang sasaran 4,5% plus minus 1%," katanya.

Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Bambang Brodjonegoro menambahkan, pemberian kisaran dalam asumsi makro ini dimaksudkan agar pemerintah dapat melakukan antisipasi apabila target yang ditetapkan dalam APBN meleset dari perkiraan.

"Sebagai pemerintah kita harus optimistis agar semua orang bekerja. Karena realitasnya angka ini tidak semuanya tercapai. Jadi kalau tidak tercapai, orang ingin tahu melesetnya ke mana," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menambahkan, permintaan domestik masih menjadi mesin pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

"Aktivitas konsumsi tumbuh tinggi seiring dengan optimisme dan peningkatan daya beli masyarakat serta persiapan penyelenggaraan pemilu 2014," katanya.

Darmin mengatakan, kegiatan investasi juga diperkirakan tumbuh tinggi sehingga ikut menyumbang pertumbuhan ekonomi, yang menurut Bank Indonesia, berada pada kisaran 6,3-6,8%.

"Perkiraan tersebut didasarkan pada optimisme pelaku usaha terhadap perekonomian Indonesia, tren pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang kuat serta prospek kinerja ekspor yang membaik," katanya.

Sedangkan, impor barang dan jasa juga diperkirakan meningkat karena adanya intensitas aktivitas produksi dan konsumsi, sejalan dengan permintaan domestik yang kuat.

"Ketergantungan impor yang tinggi ini dapat menimbulkan tekanan terhadap transaksi berjalan ketika investasi terus mengalami peningkatan," ujar Darmin. (doko)

BERITA TERKAIT

Ditopang Pendapatan Grup - Pendapatan Operasional GMF Tumbuh 7%

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) membukukan pendapatan operasional senilai US$…

LABA BERSIH BANK DANAMON TUMBUH

Direktur Utama PT Bank Danamon Indonesia Tbk Sng Seow Wah (ketiga kiri) berfoto bersama jajaran direksi dan manajemen Bank Danamon…

Pahami Utang Pemerintah Secara Bijak

Oleh: Achmad Budi Setyawan, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro BKF, Kemenkeu *)   Akhir-akhir ini seringkali masyarakat disajikan perdebatan publik masalah…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Benny Tatung Minta Kades Baru Mampu Tingkatkan Perekonomian Desa

  NERACA   Oku Timur - Sebanyak 39 Kepala Desa dari 48 Desa yang telah melakukan pemilihan beberapa waktu lalu…

Astrindo Refinancing Pinjaman Credit Suisse

    NERACA   Jakarta - Pada penghujung tahun 2018, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (Astrindo) berhasil mendapatkan dana US…

Pembangunan Perkebunan Kebijakan Jangka Panjang

      NERACA   Jakarta - Pembangunan perkebunan tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek, namun perlu kebijakan jangka panjang…