Pasokan Gas Topang Produksi Keramik Nasional

NERACA

Jakarta - Pasokan energi gas yang bertambah dan kondisi ekonomi Indonesia yang stabil menjadi salah satu indikator peningkatan produksi keramik nasional. Pasalnya pada tahun 2012, produksi keramik meningkat 13% menjadi 340 juta meter persegi dibandingkan dengan produksi pada 2011.

"Realisasi produksi keramik nasional pada tahun lalu sesuai dengan target yang dicanangkan dan ditopang dengan tambahan pasokan gas untuk sektor industri. Produsen keramik sebenarnya bisa memproduksi keramik lebih optimal apabila didukung dengan pasokan gas yang memadai," kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Elisa Sinaga di Jakarta, Senin (14/1).

Alokasi gas untuk industri keramik, menurut Elisa, mencapai 105 juta kaki kubik per hari (mmsfcd), industri bisa menghasilkan keramik sebanyak 340 juta meter persegi. Pada 2011, total produksi industri keramik mencapai 300 juta meter persegi. "Peningkatan produksi industri keramik terutama ditopang dari produksi keramik di Jawa Timur yang meningkat seiring tambahan pasokan gas untuk sektor industri. Saat ini terdapat sekitar 10 produsen keramik di Jawa Timur," paparnya.

Dengan tambahan pasokan gas yang mencapai 20 mmscfd, lanjut Elisa, kebutuhan gas industri keramik di Jawa Timur bisa tercukupi. Bahkan masih terdapat kelebihan pasokan yang bisa dialokasikan ke wilayah lain, seperti Jawa Barat apabila terdapat jalur pipa infrastruktur. "Pada tahun ini, industri keramik masih akan tumbuh positif seiring dengan pertumbuhan ekonomi 6,5%. Apalagi industri ini biasanya tumbuh 1,5 kali lipat dari pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Selain meningkatnya produksi, harga jual keramik pun akan meningkat 15 persen. Ini disebabkan meningkatnya Upah Minimum Pekerja (UMP), kenaikan tarif tenaga listrik (TTL), dan naiknya harga gas. Peningkatan tersebut otomatis akan menambah biaya produksi sekitar 12%. Ia mengakui akan menaikkan harga jual, karena jika tidak dinaikkan maka keuntungan yang didapat kurang maksimal.

Sebelumnya, Dewan Pembina Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Achmad Widjaya menargetkan penjualan keramik tahun ini menembus Rp19 triliun. Target itu bisa terwujud jika pemerintah menepati janjinya menambah pasokan gas untuk industri keramik. "Targetnya Rp19 triliun tahun ini karena pemerintah akan menambah energi. Tapi semuanya belum pasti karena akan diputuskan akhir Januari 2013. Namanya rencana, bisa ya, bisa tidak," katanya.

Achmad meminta pengusaha keramik tetap optimis akan terjadi pertumbuhan karena banyak perusahaan yang siap berekspansi tapi menunggu energi. Energi selalu menjadi kendala utama bagi perusahaan keramik dalam negeri. "Ada sekitar 10 perusahaan keramik yang siap ekspansi. Misalnya, Asia Tail, Mulia Keramik, Keramik Arwana di Palembang. Semuanya siap ekspansi tetapi menunggu pasokan gas," ujar Achmad.

Pihaknya memprediksi konsumsi keramik tahun ini meningkat sekitar 12% karena banyak tower baru di Jakarta yang dibangun tahun ini. "Kalau konsumsi domestik pertumbuhannya rata-rata 5-8% per tahun dan perkiraan kami tahun ini akan tumbuh sekitar 12%," tutur Achmad.

Wajib SNI

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan memberlakukan peraturan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi produk keramik tableware. "Penerapan SNI secara wajib merupakan upaya pemerintah untuk mengoptimalkan dan meningkatkan mutu produk serta melindungi konsumen. SNI mampu menciptakan persaingan usaha yang sehat dan adil," kata Menteri Perindustrian, M.S Hidayat.

Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 82/M-IND/KEP/ 8/2012 tentang pemberlakuan (SNI) Keramik Tableware, menurut Hidayat, membuat produk yang diproduksi sejak 1 Januari dan diperdagangkan di dalam negeri harus memenuhi ketentuan pemerintah. "Produk yang tidak memiliki SNI dilarang beredar, jika produk tersebut terlanjur beredar di pasaran, maka produsen harus memusnahkannya. Sedangkan produk tableware impor yang tidak sesuai SNI, akan di reekspof atau dimusnahkan oleh importir," paparnya.

SNI keramik tableware, lanjut Hidayat, adalah produk untuk alat makan dan minum dari keramik yang terdiri dari semi vitreous china/semi porselin, stoneware, bone china dan porselin berglasir dapat berbentuk datar atau berongga. "Melalui pemberlakuan SNI secara wajib tersebut, pelaku usaha diharapkan memiliki Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI (SPPT-SNI) atas sebagai parameter (SPPT-SNI SP) berdasarkan permohonan yang diajukan kepada Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro)," ujarnya.

Hidayat menambahkan, produsen keramik tableware juga diwajibkan untuk mencantumkan SPPT-SNI SP (tanda SNI atas sebagian parameter SNI) ataupun SPPT-SNI (tanda SNI atas semua parameter SNI) pada setiap produk keramik tableware yang diproduksi di tempat yang mudah dibaca. "Pada kemasan keramik tableware, produsen juga diwajibkan untuk mencantumkan tanggal, bulan dan tahun produksi di tempat yang mudah dibaca dengan cara yang tidak mudah hilang," tandasnya.

BERITA TERKAIT

Impor Beras Karena Data Permintaan dan Pasokan Tak Valid

NERACA Jakarta – Impor pangan terutama beras disebut masih terjadi karena data yang dimiliki pemerintah tidak valid mengenai ketersediaan dan…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

Niaga Energi - Harga Minyak Naik Terpengaruh Atas Kesepakatan Produksi OPEC

NERACA Jakarta – Harga minyak dunia naik untuk hari kelima pada perdagangan berada di jalur untuk kuartal pertama terkuat dalam…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kenaikan Investasi dan Ekspor Manufaktur Wujudkan Ekonomi Sehat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang memprioritaskan peningkatan investasi dan ekspor guna memperbaiki struktur perekonomian nasional. Dua faktor tersebut, juga menjadi…

ASN Milenial Diandalkan Dalam Industri Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus membangun Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menyongsong era revolusi industri 4.0, termasuk menyiapkan Aparatur…

Stimulus Investasi - Pemerintah Segera Gelontorkan Insentif ‘Super Deductible Tax’

NERACA Jakarta – Pemerintah segera merealisasikan skema pemberian insentif fiskal berupa keringanan pajak untuk industri yang berinvestasi untuk kegiatan vokasi…