Ekspor CPO Diharapkan Tutup Defisit Perdagangan

NERACA

Jakarta - Pemerintah memperkirakan membaiknya harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) pada semester kedua tahun ini dapat menutup defisit perdagangan bahkan mengembalikan surplus neraca perdagangan. Defisit neraca perdagangan dialami Indonesia pada 2012, setelah setelah 50 tahun perdagangan Indonesia selalu surplus.

Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, mengatakan pada semester kedua diperkirakan kondisi ekonomi dunia akan membaik. Hal ini didorong perbaikan harga komoditas dan permintaan dunia. "Neraca perdagangan dapat kembali surplus karena itu," ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sementara untuk neraca jasa akan semakin besar defisitnya. Saat ini, SDM Indonesia masih belum mampu mengisi layanan jasa yang diperlukan. Padahal hanya tinggal dua tahun, ASEAN Economic Community di 2015 di laksanakan. Paling tidak, SDM Indonesia harus mampu meningkatkan kompetensi agar memiliki daya saing. "Tentunya jasa sebesar 50% dari total PDB tapi yang di impor itu masih 10-20 % dari total nilai jasa," katanya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan mengungkapkan kalau volume ekspor CPO (crude palm oil) dan turunannya mengalami kenaikan 4,86% pada kuartal tiga 2012. "Ekspor terbesar masih ke tiga negara konsumen utama CPO, yaitu India, Eropa, dan China," ujar Fadhil.

Dia menyampaikan volume ekspor CPO dan turunannya dari Januari-September 2012 mencapai 11,835 juta ton, sementara Januari-September 2011 tercatat sebanyak 11,286 juta ton. Dari volume ekspor sebanyak itu, ekspor ke India tercatat sebesar 4 juta ton, disusul Eropa 2,5 juta ton, dan China 1,97 juta.

Menurut dia, kondisi krisis ekonomi di Eropa ternyata belum begitu mempengaruhi ekspor CPO ke negara tersebut. Hal ini terlihat dari volume ekspor CPO di bulan September yang mencapai 318 ribu ton atau naik dari ekspor di bulan Agustus sebanyak 213 ribu ton.

Adapun volume ekspor CPO dan turunannya di bulan September 2012 mencapai 1,286 juta ton atau naik dibanding ekspor Agustus sebanyak 1,259 juta ton. Untuk total produksi tahun ini, Gapki memperkirakan sebanyak 25-26 juta ton. Untuk kontribusinya pada September, CPO yang diserap di dalam negeri hanya 35%, dan 65% sisanya diekspor.

Sekedar informasi minyak sawit mentah bergerak menanjak. Peningkatan harga sejalan dengan kenaikan ekspor crude palm oil (CPO) dari dua negara produsen terbesar komoditas tersebut, yaitu Malaysia dan Indonesia.

Sociate Generale de Surveillance (SGS) mengestimasi, ekspor CPO Malaysia selama 10 hari pertama di bulan September meningkat 30% menjadi 460.939 ton dibanding periode yang sama di bulan sebelumnya. Menurut survei Bloomberg, ekspor CPO dari Indonesia, bulan ini, mencapai 1,6 juta metrik ton. Angka itu lebih tinggi daripada ekspor di periode serupa Agustus, yaitu 1,4 juta metrik ton.

Konsumsi masyarakat biasanya mencapai puncak di kuartal III. Secara umum, kondisi tersebut akan menguatkan harga CPO. Di masa puncak konsumsi, harga berbagai komoditas pertanian lain, juga naik. Mesin pendorong harga CPO di kuartal ketiga tahun ini adalah musim kemarau yang berkepanjangan, dan berujung ke kekeringan di sejumlah negara produsen. Akibatnya, produksi CPO berkurang, sedang permintaan tetap tinggi.

Rentan Koreksi

Laju harga CPO agak tertinggal jika dibandingkan pertumbuhan harga komoditas pertanian yang lain, seperti gandum, jagung, dan kedelai. Harga CPO juga terbilang murah jika dibandingkan dengan komoditas lain yang bisa menjadi bahan bakar alternatif, semacam jagung dan kedelai. Karena itu,Kenaikan harga CPO masih bisa bertahan hingga satu bulan.

Kenaikan harga CPO juga terbantu sentimen yang beredar di pasar finansial global. Ekspektasi quantitative easing tahap ketiga diputuskan dalam The Federal Open Market Committee (FOMC) pada 12-13 September mendatang, sangat kencang. Namun apabila ekspektasi itu tidak terpenuhi, CPO memang rawan anjlok, meski tidak terlalu dalam. Ekspektasi peningkatan ekspor CPO juga ampuh untuk merawat penguatan CPO.Kenaikan ekspor akan terjadi, selama pasar berharap China dan Amerika Serikat AS meluncurkan stimulus.

BERITA TERKAIT

Mencari Pasar Ekspor Baru Produk Sawit

Sepanjang Oktober 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, antara lain melalui lonjakan permintaan dari China. Ekspor…

Menggenjot Pembangunan Tetapi Defisit Insinyur

      NERACA   Padang – Indonesia sedang gencar mengejar ketertinggalan dalam hal pembangunan infrastruktur, maka dari itu pemerintah…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…