Mayoritas Bank Asing Penerima DHE karena Layanan Transaksi Internasional

Jakarta – Belum lama ini Bank Indonesia (BI) melansir nama-nama bank yang termasuk dalam sepuluh besar bank yang menerima devisa hasil ekspor (DHE). Dari sepuluh besar bank-bank tersebut, hanya empat bank lokal (besar) yang masuk ke dalam daftar tersebut, yakni Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI, dan Bank BRI.

Menurut Perry Warjiyo, Asisten Gubernur BI, bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajar saja, mengingat keempat bank besar serta bank-bank asing lainnya itu sudah memiliki layanan transaksi internasional yang mumpuni.

“Sebagian besar memang bank-bank nasional besar yang bergerak secara internasional cuma bank-bank itu saja. Karena bank-bank nasional itu memang bervariasi. Kalau bank nasional yang besar, mereka memang sudah terbiasa dengan transaksi pembayaran internasional, jadi wajar jika mereka ini banyak menerima aliran DHE,” katanya, kemarin.

Perry meminta supaya jangan ada dikotomi antara bank asing dan bukan asing sebagai bank devisa penerima DHE. “Karena memang DHE berkaitan dengan transaksi pembayaran luar negeri, jadi wajar kalau bank-bank yang dipakai adalah yang banyak melakukan transaksi pembayaran internasional, serta punya networking yang bagus,” tuturnya.

Sementara, Perry masih menyangsikan kemampuan bank kecil dan BPR untuk bisa bergerak di bisnis ekspor-impor dan membuka layanan trustee. “Kalau bank-bank kecil yang tidak biasa (beroperasi/berbisnis) secara internasional ya bagaimana (tidak bisa dipaksa). Kalau BPR juga kan tidak mungkin,” imbuhnya.

Senada dengan Perry, ekonom Standard Chartered, Fauzi Ichsan juga berpendapat bahwa para eksportir lebih memilih bank asing ataupun bank nasional yang besar untuk menempatkan DHE-nya pasti dikarenakan oleh pelayanan prima yang dapat disediakannya.

“Itu (pilihan eksportir kepada bank asing) tergantung fasilitas dan pelayanan apa yang diberikan bank itu, apakah itu bank asing atau nasional/pemerintah. Jadi yang mendorong mereka memilih bank (untuk menempatkan sana) satu tentunya adalah credit rating bank itu, dan kedua adalah jasa pelayanan,” ujarnya.

Standard Chartered memang menjadi salah satu bank dalam sepuluh besar bank penerima DHE terbanyak di Indonesia.

Sedangkan Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono, menjelaskan bahwa harus ada usaha dari perbankan nasional sendiri untuk membuat si eksportir kerasan menempatkan dananya di tempat mereka.

“Bank itu gampang saja (membuat dana bertahan), yakni kalau dia bisa memberikan imbalan bagus kepada nasabahnya. Khusus untuk membuat devisa (hasil ekspor) itu tidak bergerak kemana-mana, peraturan trustee-nya (diperkuat), sehingga pengekspor bisa menempatkan dananya di dalam negeri, bisa dikelola dan dikembangkan lagi, jadi ada yield atau keuntungan yang bagus,” jelasnya.

Selain untuk perbankan, Sigit juga menyarankan kepada pemerintah untuk memperbaiki tingkat pajak (tax rate) di dalam negeri, supaya para eksportir juga dengan senang hati menempatkan dananya di dalam negeri.

“Hubungannya kan bukan hanya karena soal bank asing atau bukan asing, tapi ada faktor lain seperti pajak perusahaan atau badan yang di beberapa negara lebih kompetitif atau lebih rendah rate-nya daripada kita. Sehingga mereka (eksportir) melakukan rekayasa keuangan yang ‘positif’, bagaimana supaya uangnya lebih banyak parkir di negara-negara yang pajaknya rendah. Misal Singapura lebih rendah rate pajaknya untuk badannya, tentu orang akan pilih ke sana. Jadi ini juga harus dibenahi, bukan melulu bank saja,” paparnya.

Kalau tidak begitu, tambah Sigit, peraturan DHE yang dikeluarkan BI akan menjadi percuma saja. “Itu belum tentu efektif, jika aspek lain, misalnya di birokrasi dan infrastruktur, tidak diperbaiki,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) kemarin melansir sepuluh nama bank yang disebutnya sebagai penerima devisa hasil ekspor (DHE) terbesar di dalam negeri. Yaitu Bank BCA, Bank Mandiri, Citibank, Bank BNI, Bank HSBC, Bank Tokyo Mitsubishi UFJ, Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Standard Chartered Bank, Bank BRI, dan Bank DBS.

Kemudian, dari total ekspor kita di tahun 2012 lalu, berdasarkan data global per Oktober 2012, baru 85% atau bernominal US$12 miliar dari DHE kita yang sudah masuk ke perbankan dalam negeri. Sedangkan masih 15% atau bernominal US$2 miliar masih diterima dari bank-bank devisa di luar negeri, yang mayoritas adalah DHE dari sektor migas dan tambang. [ria]

BERITA TERKAIT

OUE Lippo Healthcare Bangun Rumah Sakit Internasional di Shenzhen

OUE Lippo Healthcare Bangun Rumah Sakit Internasional di Shenzhen NERACA  Jakarta - Grup Lippo terus melebarkan ekspansi usaha. Tak lama…

Likuiditas Seret - Bank Mayapada Batal Bagikan Dividen Interim

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan menjaga likuiditas keuangan, PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) menggagalkan rencananya untuk membagikan dividen interim tahun…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Asosiasi Dukung Penindakan Fintech Ilegal

      NERACA   Jakarta - Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) mendukung penindakan hukum terhadap aksi perusahaan teknologi finansial (tekfin)…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

Adira Insurance Berikan Penghargaan 23 Kota - Sistem Tata Kelola Keselamatan Jalan

      NERACA   Jakarta - Asuransi Adira menyelenggarakan Indonesia Road Safety Award (IRSA) sebagai upaya untuk menyadarkan pentingnya…