free hit counter

Pelemahan Rupiah Ancam Kinerja Sektor Konsumer

Senin, 14/01/2013

NERACA

Jakarta-Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang dinilai dapat mendorong ekspor, tidak sepenuhnya berdampak positif. Pasalnya, hal tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap perkembangan sektor industri dan pasar modal pada umumnya. “Sektor consumer good terpengaruh jika pelemahan mata uang rupiah terjadi maka consumer good negatif,”kata analis saham, Lucky Bayu Purnomo di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Lucky, setiap sektor memiliki sikap yang berbeda untuk menyikapi dinamika rupiah dan mata uang lainnya. Karena itu, tidak hanya sektor consumer good yang terkena imbasnya, namun juga beberapa sektor lainnya dengan masing-masing karakter.

Pada sektor insfrastruktur dan pertambangan misalnya, jika mata uang rupiah mengalami kenaikan maka hal itu menjadi positif bagi kinerja sektor tersebut. Begitupun dengan sektor telekomunikasi dan perbankan.

Lain halnya dengan sektor properti, jika rupiah menguat, justru cenderung membawa sektor tersebut ke arah negatif. Karena itu, kebijakan pelemahan rupiah tersebut dikatakan berpengaruh terhadap perkembangan pasar modal dan atau investasi secara umum.

Meskipun demikian, menurut Lucky, hasil yang diperoleh dari pembelian saham pada saat nilai tukar mata uang tersebut melemah atau menguat, nominal yang diinginkan tetap sama. Pasalnya, harga saham yang di transaksikan di pasar mengacu kepada harga saham. Bukan harga mata uang yang bersangkutan. Karena itu, bursa membuka pintu selebar lebarnya, bagi para investor yang ingin berinvestasi dalam kondisi nilai tukar mata uang sedang melemah ataupun menguat.

Lucky menambahkan, pada prinsipnya, pelemahan rupiah erat kaitannya dengan kinerja pedagangan mata uang (Foreign Exchange). Sebagai contoh, pada saat pemilihan presiden USA, menjelang pemilihan presiden tersebut, dollar cenderung menguat dan mata uang yang menjadi lawannya, seperti rupiah cenderung melemah.

Namun, ketika presiden sudah terpilih, Barrack Obama, maka dollar semakin perkasa. Hal tersebut terjadi dengan alasan, Obama dapat melanjutkan program-program yang berhubungan dengan kinerja ekonomi yang sudah dirancang sebelumnya.

Picu Inflasi

Sementara Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, apabila pelemahan rupiah dibiarkan berkepanjangan maka akan cukup berbahaya terhadap inflasi (imported inflation). "Pada gilirannya ini dapat membahayakan sektor konsumer dalam bentuk menggerus daya beli konsumen domestik." jelasnya.

Karena itu, menurut Edwin, faktor melemahnya rupiah akibat berlanjutnya defisit perdagangan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Termasuk kekhawatiran psikologis akibat kenaikan TDL dan penguatan dolar. Jika tidak, hal tersebut dapat membayakan perekonomian Indonesia."Kekhawatiran psikologis akibat kenaikan TDL dan penguatan US dollar against major currency perlu mendapat perhatian lebih ke depannya. Jika Bank Indonesia lengah bisa menjadi "bola liar" yang berbahaya bagi perekonomian domestik." jelasnya.

Terkait sentimen pelemahan rupiah, Head of Equity Research PT Danareksa Securities, Chandra Pasaribu pun berseloroh, hal tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh kepada portofolio investment di pasar modal, karena ikut dihitung sebagai return.“Kalau saya masuk pada saat kondisi rupiah menguat misalnya, seharusnya ada additional return dari sisi current-nya. Tapi kalau melemah itu artinya menggerus.” jelasnya.(lia)