Kemendag Ingin Impor BBM Berkurang

NERACA

Jakarta – Pemerintah berpendapat perlu ada penyikapan yang tegas atas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai upaya mengurangi impor minyak. Soalnya, meningkatnya defisit transaksi berjalan dewasa ini sangat ditentukan oleh tingginya impor minyak tersebut.

"Impor migas menyebabkan defisit sebesar US$ 4,8 miliar, angka yang sebelumnya tidak pernah kejadian. Ini mungkin karena konsumsinya tinggi dan juga harga minyak dunia yang tinggi di awal tahun," kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut dia, tingginya impor migas tersebut membuat surplus di neraca perdagangan non-migas seakan tak berarti, padahal surplus tersebut mencapai US$ 3,5 miliar selama 11 bulan pertama 2012.

"Saya kira, kita sebetulnya bisa berharap neraca non-migas surplus terus pada 2013 ini. Tapi kalau konsumsi (migas) begini terus, harganya pun begini terus, tanpa ada penyikapan mengenai harga (BBM), ini bisa membuahkan defisit di neraca migas 2013," imbuh Gita.

Gita masih menaruh harapan adanya koreksi harga minyak di tahun 2013 sehingga dapat mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan. Namun ia sendiri masih belum dapat memperkirakan seberapa besar kemungkinan tersebut. "Saya tidak dalam posisi memberikan prediksi kemana arah (harga minyak internasional)," jelas Gita.

Hal senada, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar menjelaskan, kondisi perekonomian global masih mempengaruhi kondisi perekonomian domestik. Hal itu juga berdampak ke neraca perdagangan Indonesia. "Kondisi ini perlu diwaspadai secara seksama. Sebab, terakhir kali Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan pada 50 tahun lalu, sejak 1961," kata Mahendra.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan RI selama November 2012 terjadi defisit sebesar US$ 478,4 juta. Hal itu terjadi karena impor November 2012 sebesar US$ 16,92 miliar.

Sementara ekspor RI dalam periode yang sama hanya US$ 16,44 miliar . Untuk impor selama Januari hingga November 2012 ini mengalami kenaikan 9,92 % (year over year) menjadi US$ 16,92 miliar dari sebelumnya US$ 15,39 miliar.

Namun bila dibanding dengan Oktober 2012, impor RI cenderung turun 1,67 %. Impor ini dikontribusikan dari impor migas US$ 4,07 miliar dan impor non migas sebesar US$ 3,94 miliar.

Sedangkan ekspor selama Januari hingga November 2012 sebesar US$ 16,44 miliar , turun 4,6 % (yoy) dibanding sebelumnya US$ 17,4 miliar. Namun bila dibanding dengan Oktober 2012 masih naik 7,3 %. Ekspor tersebut dikontribusikan dari migas US$ 2,7 miliar , naik 2,23 % dan ekspor non migas naik 8,36 % menjadi US$ 13,73 miliar.

Neraca Defisit

Sementara neraca perdagangan selama Januari hingga November 2012 juga mengalami defisit sebesar US$ 1,33 miliar. "Jadi selama kondisi global ini belum pulih, maka Indonesia masih akan mengalami defisit," tambahnya.

Sementara defisit neraca perdagangan yang disebabkan karena minyak dan gas (migas), kondisi ini terulang kembali sejak terjadi pada 2008 lalu. BPS mencatat neraca perdagangan RI selama November 2012 terjadi defisit sebesar US$ 478,4 juta. Impor Indonesia kali ini kembali cenderung lebih besar dibanding ekspornya.

Kepala BPS Suryamin menjelaskan impor RI selama November 2012 sebesar 16,92 miliar dollar AS. Sementara ekspor RI dalam periode yang sama hanya US$ 16,44 miliar. "Defisit RI selama November sebesar US$ 478,4 juta," kata Suryamin.

Menurut Suryamin, untuk impor selama Januari hingga November 2012 ini mengalami kenaikan 9,92% (year over year) menjadi US$ 16,92 miliar dari sebelumnya US$ 15,39 miliar. Namun bila dibanding dengan Oktober 2012, impor RI cenderung turun 1,67 %. Impor ini dikontribusikan dari impor migas US$ 4,07 miliar dan impor non migas sebesar US$ 3,94 miliar.

Sedangkan ekspor selama Januari hingga November 2012 sebesar US$ 16,44 miliar, turun 4,6 % (yoy) dibanding sebelumnya US$ 17,4 miliar. Namun bila dibanding dengan Oktober 2012 masih naik 7,3 %. Ekpor tersebut dikontribusikan dari migas US$ 2,7 miliar, naik 2,23 % dan ekspor non migas naik 8,36 % menjadi US$ 13,73 miliar.

Sementara neraca perdagangan RI selama Januari hingga November 2012 juga mengalami defisit sebesar 1,33 miliar dollar AS. Hal ini juga disebabkan karena impor RI lebih tinggi dibanding ekspornya. Untuk impor mengalami kenaikan 9,4 % (yoy) menjadi US$ 176,09 miliar. Hal ini dikontribusikan dari impor non migas naik 10,77 persen (yoy) menjadi US$ 137,25 miliar.

BERITA TERKAIT

Kimia Organik Dominasi 35,58 Persen Impor Banten

Kimia Organik Dominasi 35,58 Persen Impor Banten NERACA Serang - Sebesar 35,58 persen impor nonmigas Provinsi Banten selama Januari-September 2018…

Harga BBM Bersubsidi Diprediksi Naik Setelah Pilpres

NERACA Jakarta-Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution melihat ada kemungkinan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada pertengahan 2019. Hal ini…

Bela Usaha Kecil, Kadin Ingin Relaksasi DNI Dikaji Ulang

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengharapkan pemerintah meninjau ulang salah satu isi paket kebijakan ekonomi jilid…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…

Industri Sepeda Motor Agresif Pacu Pasar Ekspor

NERACA Jakarta – Industri sepeda motor di Indonesia semakin agresif menembus pasar ekspor. Hal ini tidak terlepas dari peningkatan produktivitas…