Pasar Bergejolak, Sektor Perbankan Tetap “Seksi”

NERACA

Jakarta- Terjadinya kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan rencana menaikkan upah minimum regional (UMR) yang dinilai dapat mendorong kenaikan inflasi dan tingkat suku bunga dapat berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian, khususnya sektor perbankan.

Karena itu, tidak heran jika sebagian kalangan mempertanyakan sejauh mana pengaruhnya terhadap kinerja saham sektor tersebut di pasar modal? Berikut pemaparan analis saham, Lucky Bayu Purnomo, “Dengan adanya kenaikan TDL memang menimbulkan gejolak, namun hal tersebut hanya bersifat jangka pendek." katanya kepada Neraca di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Lucky, potensi peningkatan suku bunga akan berdampak negatif terhadap penyaluran kredit perbankan yang menopang kinerja sektor tersebut. Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) misalnya, akan terkena imbas negatif dari kenaikan suku bunga tersebut. Mengingat, sifat KPR yang selalu mengikuti suku bunga bank yang berlaku, dan umumnya dapat menjadi beban negatif bagi nasabah KPR itu sendiri.

Meskipun demikian, Lucky menilai, kenaikan TDL tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja sektor perbankan pada umumnya. Pasalnya, sejauh ini kinerja perbankan di Indonesia cukup mendukung. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan sektor perbankan yang tercatat mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan."Jumlah kredit investasi meningkat 46 % sejak akhir tahun kemarin, maka hal tersebut merupakan sinyal positif adanya kepercayaan bank terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang." jelasnya

Prospek Saham

Di samping pertumbuhan kredit investasi, lanjut Lucky, selama tiga tahun terakhir, banyak terjadi kegiatan merger dan akuisisi, antara lain Bank Ekonomi menjadi Bank Ekonomi HSBC, Bank NISP menjadi OCBC NISP, Bank NIAGA Menjadi CIMB NIAGA, Bank KESAWAN menjadi Qatar National Bank Kesawan (QNB Kesawan).

Dengan adanya agenda tersebut, menurut Lucky, memberikan angin segar bagi industri perbankan di Indonesia untuk tumbuh pesat, terlebih dengan populasi penduduk di Indonesia yang semakin meningkat, lebih dari 240 juta jiwa.

Hal lainnya yang perlu dicatat, kata Lucky, negara Indonesia termasuk negara berkembang, di mana sifat negara berkembang cenderung dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Karena itu, Lucky menilai, kinerja sektor perbankan cenderung positif untuk setahun ke depan. Jadi, strategi yang harus dilakukan yaitu berinvestasi pada saham-saham yang memiliki kapitasisasi pasar dalam jumlah besar, seperti BBRI, BMRI, BBCA, BBTN.

Kinerja IHSG

Lepas dari hal tersebut, Lucky menambahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini berpotensi mengalami pelemahan. Karena pada bulan Januari, umumnya sifat IHSG di seluruh dunia sedang melakukan konsolidasi.

Sejauh ini pun, lanjut Lucky, fiscal cliff yang selalu menghantui kinerja bursa global belum juga menemukan titik terang. Karena itu, pasar cenderung bersifat spekulatif. Adapun beberapa saham yang pantas diakumulasi antara lain WSKT, WIKA, ADRO, BBRI, BMRI, BBCA, SMGR.

BERITA TERKAIT

Reksadana Pendapatan Tetap Tumbuh 2,80%

NERACA Jakarta – Performance kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap sepanjang bulan November kemarin masih positif. Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja…

Ekonom Ingatkan Tantangan Likuiditas Perbankan

  NERACA Jakarta - Likuiditas perbankan diperkirakan kian mengetat pada 2019 setelah masa penguncian (lock-up) dana repatriasi amnesti pajak di…

MESKI PENERIMAAN SEKTOR MINERBA MENINGKAT - KPK: Kepatuhan Pajak SDA Masih Rendah

Jakarta-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan, tingkat kepatuhan pajak di sektor sumber daya alam (SDA) khususnya sektor ekstraktif masih rendah. Perusahaan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Saham Renuka Coalindo Masuk UMA

Perdagangan saham PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami kenaikan harga saham…

Pemda Jateng Tunda Rilis Obligasi Daerah

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak melanjutkan rencana penerbitan obligasi daerah seniai Rp1,2 triliun. Padahal, proses penerbitan obligasi tersebut telah mendapat…

BATA Bagi Dividen Interim Rp 8,71 Persaham

PT Sepatu Bata Tbk (BATA) akan membagikan dividen interim untuk tahu buku 2018 sejumlah Rp 8,71 per saham atau semuanya…