Pasar Lampu LED Akan Capai 15 Juta Unit

NERACA

Jakarta - Penerangan yang baik dan juga kualitas yang terjaga memang menjadi pilihan utama para konsumen dalam memilih produk, tak terkecuali lampu. Di samping ada Lampu Hemat Energi (LHE) para produsen lampu berlomba-lomba menciptakan inovasi baru dalam bidang penerangan. Maka munculah lampu Light Emitting Diode (LED). Kini lampu tersebut telah dipilih banyak konsumen, sehingga tak ayal pada tahun ini, penjualan lampu LED diproyeksikan bisa mencapai 15 juta unit.

Ketua Umum Asosiasi Industri Perlampuan Listrik Indonesia (Aperlindo) John Manopo memperkirakan pasar lampu Light Emitting Diode (LED) hingga akhir tahun ini bisa mencapai 15 juta unit. Hal ini menurut Aperlindo karena tingginya permintaan di dalam negeri. "Produk lampu LED memiliki kualitas yang baik dibandingkan dengan produk lampu hemat energi (LHE). Kekuatan lampu bisa mencapai 10 tahun dan harga yang ditawarkan sangat terjangkau," kata John di Jakarta, Jumat (11/1).

Produk LED, menurut John, telah diproduksi empat perusahaan nasional. Namun, belum ada negara di dunia yang menggunakan Lampu LED lebih dari 20%. “Empat perusahaan yang sudah memasarkan LED adalah PT Sinar Angkasa Rungkut, Surabaya yang membuat LED dengan brand Chiyoda, PT Pancaran Indonesia, Tangerang, dengan brand Cahaya, PT Sure Indonesia, Tangerang, dengan brand Kunang serta PT Sentosa Elektri, Bandung, dengan brand Keibu. Diproyeksikan pasar LED 2013 menyentuh 15 juta unit,” paparnya.

Untuk Chiyoda, lanjut John, telah memulai produksi massal sejak Januari 2013 dengan kapasitas produksi sekitar 12.500 unit per hari. “Harganya akan dibanderol sekitar Rp25.000 sampai dengan Rp50.000 per unit. TKDN-nya sudah mencapai 65%. Yang diimpor hanya komponen LED, sedangkan glass tube sudah diproduksi di Indonesia dan produsen LHE yang berekspansi ke produk LED tidak akan sulit,” tuturnya.

Batasi Impor

Aperlindo juga meminta kepada pemerintah untuk bisa membatasi impor lampu dari China pasalnya perusahaan lokal sudah sangat mampu memproduksi dan yang lebih parahnya lagi banyaknya produk lampu masuk ke Indonesia tanpa bea masuk. John mengatakan industri lampu nasional memerlukan dukungan pemerintah antara lain pengenaan tarif untuk impor LED asal China sebesar 15%. Dia mengatakan paling tidak sudah ada empat perusahaan Tanah Air yang memiliki kemampuan memproduksi LED, dengan kapasitas produksi sampai 15 juta unit. Akan tetapi, sampai saat ini, pasar Indonesia yang masih besar dikuasai produk asing.

Paling tidak, kata John, di China produsen LED mendapat subsidi pemerintah sampai 50%. Sehingga produk tersebut pasti akan banyak diekspor, termasuk ke Indonesia. "Saya tidak minta subsidi, saya hanya minta agar industri dalam negeri didukung, dengan pemberlakuan bea masuk," katanya.

John yakin potensi lampu ini masih besar dilihat dari jumlah pelanggan PLN yang mencapai 48 juta. Paling tidak produsen lampu dalam negeri hanya mampu menjual 330 juta unit tahun lalu. Lampu jenis LED diklaim merupakan jenis lampu yang tidak terlalu canggih, namun konsumsi energinya cukup irit tanpa gas dan merkuri. Konsumen rumah tangga di negara maju seperti Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang, sudah banyak menggunakan lampu jenis ini.

Selain membatasi impor, Dia juga meminta agar pemerintah menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib terkait unjuk kerja (performance) terhadap produk lampu hemat energi (LHE). Penerapan SNI itu diharapkan mampu memfilter produk impor LHE China yang membanjiri pasar Indonesia. John menjelaskan rencana penerapan SNI itu sudah dibicarakan dengan Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI), Kementerian Perindustrian. "Konsepnya sudah ada, tinggal menunggu penerapannya saja," terang John.

Saat ini, SNI wajib bagi LHE yang berlaku baru yang terkait dengan standar keselamatan. Sedangkan standar unjuk kerja yang berkaitan dengan kualitas lampu belum diterapkan. John berharap dengan adanya SNI wajib itu maka produk LHE impor dari China bisa tersaring hanya yang berkualitas saja. Penerapan SNI itu tentu saja akan berdampak pada produsen LHE di dalam negeri. Tapi John mengatakan produsen di dalam negeri sudah siap.

Selain penerapan SNI, John berharap safeguard terhadap LHE China yang tengah diajukan Aperlindo juga sudah bisa berlaku. Dengan instrumen pengaman itu, LHE China diusulkan untuk dikenai bea masuk sebesar 40%. Dengan hambatan impor yang ada, produsen LHE di China diarahkan untuk membangun pabriknya di Indonesia.

Sebelumnya, Kepala Pusat Standardisasi Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kemenperin Tony Sinambela mengatakan pemberlakuan SNI performance itu berbeda dengan SNI lampu sekarang. SNI yang sekarang, kata dia, lebih mengacu pada keselamatan (safety). "SNI yang sekarang berguna misalnya agar jangan sampai terjadi kejut listrik dan plastiknya tidak meleleh karena panas sekali. Sedangkan SNI performance misalnya untuk mengecek seberapa besar watt listrik lampu agar sesuai dengan pemakaian. Lalu, bisa dipakai sampai berapa lama," jelasnya.

Dia menuturkan, pemberlakuan SNI performance adalah berdasarkan kesepakatan antara pelaku usaha terkait, Kemenperin, dan negara-negara Asean. Menjelang Asean Economic Community (AEC) pada 2015 mendatang, kata dia, Indonesia harus bisa memberlakukan sebanyak 180 standar. "Saat ini masih 29. Perjalanan masih jauh sekali," ucapnya. Tony menambahkan, saat ini sejumlah negara sudah memberlakukan SNI performance. Menurut dia, masih ada negara yang belum menerapkan standarisasi. Akan tetapi, dia menilai Indonesia memang agak terlambat untuk memberlakukan SNI.

BERITA TERKAIT

OJK Ikut Bangun 1.000 Unit Hunian Sementara

    NERACA   Palu - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan industri jasa keuangan siap membangun 1.000 unit hunian sementara…

Pertumbuhan Kredit Tahun Depan akan Melambat

      NERACA   Jakarta – Kalangan industri perbankan memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit pada 2019 akan melambat dari 13…

Realisasi Kontrak Baru PTPP Capai 66,22%

NERACA Jakarta - Sampai dengan September 2018, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berhasil mengantongi total kontrak baru sebesar Rp32,45 triliun.…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Tampil dengan Warna Baru, Infinix HOT S3X Siap Goda Pengguna

NERACA Jakarta – Vendor smartphone terkemuka asal Hong Kong, Infinix, mengumumkan ketersediaan varian warna baru untuk produk andalannya, Infinix HOT…

Perkuat Ekspor Perikanan, KKP Benahi Pergudangan dan Logistik

NERACA Gorontalo - Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP),  Rifky Efendi…

Secara Volume, Indonesia Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia

NERACA Bogor - Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan…