Indeks BEI Masih Berpeluang Menguat Terbatas

NERACA

Jakarta – Transaksi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia Jum’at akhir pekan kemarin ditutup melemah 11,453 poin (0,27%) ke level 4.305,912. Sementara Indeks LQ45 turun 2,027 poin (0,28%) ke level 731,879. Aksi ambil untung pelaku pasar di saham-saham komoditas memicu indeks BEI terkoreksi. Pelemahan indeks terjadi sejak awal pekan ini.

Analis dari Milenium Danatama Sekuritas Abidin mengatakan, aksi ambil untung memaksa indeks BEI di akhir pekan terkoreksi, “Pelaku pasar asing mencatatkan jual bersih sekitar Rp300 miliar, kondisi itu menjadi salah satu pemicu indeks BEI melemah," katanya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Dia menambahakan, tren kurs nilai tukar rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS juga menjadi faktor IHSG BEI tertekan. Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan depan diproyeksikan masih dalam area tekanan namun dalam kecenderungan terbatas bergerak di kisaran 4.280-4.360 poin.

Sebaliknya, menurut analis e-Trading Securities Andrew Argado, secara teknikal penurunan IHSG BEI akhir pekan mengindikasikan sedang berkonsolidasi. Kemudian untuk perdagangan awal pekan, lanjutnya, indeks BEI diperkirakan akan menguat tipis. Hal itu terlihat dari indikator RSI (Relatif Strength Index) yang sudah mulai melandai dan cenderung untuk naik di kisaran 4.240-4.380 poin.

Dia merekomendasikan beberapa saham-saham yang dapat diperhatikan, yakni Adaro Energy (ADRO), Nippon Indosari Corpindo (ROTI), United Tractor (UNTR). Asal tahu saja, pada perdagangan akhir pekan kemarin, koreksi dipimpin oleh saham-saham komoditas. Beberapa sektor saham masih bertahan di zona hijau, yaitu sektor konstruksi dan infrastruktur.

Investor asing juga tak mau ketinggalan aksi ambil untung. Transaksi asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 246,31 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 145.431 kali pada volume 3,816 miliar lembar saham senilai Rp 4,501 triliun.

Sebanyak 110 saham naik, sisanya 112 saham turun, dan 114 saham stagnan. Pasar saham Jepang menjadi satu-satunya bursa di Asia yang berhasil menguat, didorong oleh rencana pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan untuk stimulus.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Fast Food (FAST) naik Rp 500 ke Rp 13.000, United Tractor (UNTR) naik Rp 400 ke Rp 20.650, Sumber Alfaria (AMRT) naik Rp 250 ke Rp 5.250, dan Trikomsel (TRIO) naik Rp 100 ke Rp 1.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 700 ke Rp 39.850, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 52.300, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 450 ke Rp 15.000, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 450 ke Rp 15.700.

Menutup perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah tipis 1,016 poin (0,02%) ke level 4.316,349. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,883 poin (0,12%) ke level 734,789. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 82.598 kali pada volume 2,193 miliar lembar saham senilai Rp 2,179 triliun. Sebanyak 108 saham naik, sisanya 107 saham turun, dan 94 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Fast Food (FAST) naik Rp 500 ke Rp 13.000, Asahimas (AMRT) naik Rp 400 ke Rp 5.400, United Tractor (UNTR) naik Rp 350 ke Rp 20.600, Indocement (INTP) naik Rp 200 ke Rp 21.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 550 ke Rp 40.000, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 ke Rp 52.300, Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 450 ke Rp 15.000, dan Inti Agri (IIKP) turun Rp 350 ke Rp 1.090.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka naik 7,87 poin atau 0,18% ke posisi 4.325,24. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,02 poin (0,28%) ke level 735,93, “Indeks BEI dibuka menguat terimbas sentimen positif dari bursa regional," kata Analis Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro.

Menurut dia, beberapa saham kapitalisasi besar khususnya dari sektor perbankan, otomotif, minyak sawit mentah (CPO), dan konsumer berpotensi mengalami teknikal "rebound" seiring telah terkoreksi cukup signifikan dalam perdagangan terakhir.

Dia menambahkan, bursa Asia Jum’at akhir pekan juga turut dibuka menguat lebih karena sentimen positif dari disetujuinya paket stimulus ekonomi oleh pemerintah Jepang senilai 10,3 triliun Yen.

Selain itu, lanjut dia, bursa AS yang kembali melanjutkan penguatan tadi malam menjadi salah satu pendorong bursa regional menguat, penguatan itu juga dipicu dari pemulihan ekonomi China seiring data ekspor di bulan Desember yang tumbuh.

Tercatat bursa regional diantaranya indeks Hang Seng menguat 81,11 poin (0,35%) ke level 23.435,42, indeks Nikkei-225 naik 132,45 poin (1,24%) ke level 10.785,09, dan Straits Times melemah 7,74 poin (0,54%) ke level 3.218,51. (bani)

BERITA TERKAIT

Masih Banyak Perusahaan Publik Tak Peduli HAM - Studi FIHRRST

      NERACA   Jakarta - The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), salah satu organisasi masyarakat…

PP HIMMAH Desak OJK dan BEI Periksa PT Garuda

PP HIMMAH Desak OJK dan BEI Periksa PT Garuda NERACA Jakarta - Aliansi kepemudaan yang menamakan dirinya sebagai Himpunan Mahasiswa…

BEI Suspensi Saham Indo Komoditi Korpora

Lantaran terjadi penurunan harga saham yang cukup signifikan, menjadi alasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk melakukan penghentian sementara atau…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Penjualan Terkoreksi 5,58% - Astra Terus Pacu Penjualan di Semester Kedua

NERACA Jakarta – Lesunya bisnis otomotif di paruh pertama tahun ini memberikan dampak terhadap bisnis otomotif PT Astra International Tbk…

Hartadinata Akuisisi Perusahaan E-Commerce

Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) pada tanggal 15 Juli 2019 menandatangani akta perjanjian penyertaan modal yang pada…

Kasus Hukum Menimpa Tiga Pilar - Investor Ritel Minta Kepastian Hukum

NERACA Jakarta – Kisruh sengketa manajamen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) masih menyisakan masalah bagi para investor, khususnya investor…